logo pesantren terbaru pisan

Waspada! 10 Hal yang Dapat Merusak Iman dan Solusinya Menurut Ajaran Islam (bagian 2)

Oleh : Ust. Achmad Fahrisi, S.Pd.

13 Desember 2023

Iman adalah salah satu aspek paling berharga dalam kehidupan seorang Muslim. Namun, dalam perjalanan kehidupan, ada berbagai faktor dan perilaku yang dapat merusak iman seseorang. Dalam Islam, Allah dan Rasul-Nya telah memberikan petunjuk tentang hal-hal yang perlu dihindari agar iman tetap kokoh. Inilah pembahasan mengenai 10 hal yang harus kita waspadai agar terhindar dari rusaknya keimanan kita, bagian 2. 

  1. Sikap Pesimis dan Putus Asa

وَلَا تَهِنُوا۟ وَلَا تَحْزَنُوا۟ وَأَنتُمُ ٱلْأَعْلَوْنَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

Artinya: “Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.”

Dalil Al-Qur’an yang menyatakan, “Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman” (Q.S. Al-Imran: 139), memberikan petunjuk yang jelas mengenai sikap yang seharusnya diadopsi oleh seorang Muslim terhadap kehidupan.

Beberapa poin terkait sikap pessimis dan putus asa serta solusinya:

  1. Peringatan untuk Tidak Lemah dan Bersedih Hati: Ayat ini memberikan peringatan untuk tidak bersikap lemah dan tidak bersedih hati. Seorang Muslim seharusnya memiliki keyakinan yang kuat pada Allah dan rencana-Nya yang maha bijaksana.
  1. Pemahaman Derajat Tinggi Orang Mukmin: Allah mengingatkan bahwa orang-orang yang beriman memiliki derajat yang tinggi. Seorang Mukmin diberikan kekuatan dan keteguhan hati oleh imannya kepada Allah.
  1. Mantapkan Hati: Solusi utama adalah memantapkan hati dengan memahami bahwa setiap cobaan dan kesulitan adalah bagian dari ujian hidup. Kesabaran dan keteguhan hati dapat membantu melewati masa-masa sulit.
  1. Berprasangka Baik kepada Allah: Sikap optimis dan berprasangka baik kepada Allah merupakan bentuk keimanan yang kuat. Percayalah bahwa Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana, dan segala sesuatu yang terjadi memiliki hikmah-Nya.
  1. Berdoa: Dalam keadaan sulit, berdoa adalah sarana yang sangat efektif. Memohon pertolongan, petunjuk, dan kekuatan kepada Allah adalah manifestasi dari ketergantungan penuh kepada-Nya.
  1. Pemahaman bahwa Ujian Bersifat Sementara: Memahami bahwa ujian dan kesulitan dalam kehidupan bersifat sementara. Allah memberikan janji bahwa setelah kesulitan pasti ada kemudahan (Q.S. Al-Insyirah: 5-6).
  1. Mencari Dukungan dan Bimbingan: Mencari dukungan dari keluarga, teman-teman, atau orang yang dapat memberikan bimbingan dan nasihat positif dapat membantu mengatasi sikap pesimis dan putus asa.

Dengan menerapkan solusi-solusi tersebut, seorang Muslim dapat menjaga sikap optimis, teguh dalam iman, dan tetap mantap di tengah cobaan dan kesulitan hidup.

  1. Ria dan Takabur:

لَا جَرَمَ أَنَّ ٱللَّهَ يَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَ ۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلْمُسْتَكْبِرِينَ

Artinya: “Tidak diragukan lagi bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka lahirkan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong.”

Dalil Al-Qur’an yang menyatakan, “Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang menyombongkan diri” (Q.S. An-Nahl: 23), memberikan peringatan tegas terhadap sifat ria (sombong) dan takabur. Beberapa poin terkait dengan sifat ini dan solusinya adalah sebagai berikut:

  1. Peringatan terhadap Sifat Ria dan Takabur: Ayat ini secara eksplisit menyatakan bahwa Allah tidak menyukai orang-orang yang menyombongkan diri. Ini memberikan peringatan keras terhadap sifat-sifat ini dan menunjukkan betapa tidak disenanginya sikap sombong dan congkak.
  1. Bersikap Rendah Hati: Solusi utama untuk menghindari ria dan takabur adalah dengan menjaga hati agar tetap rendah hati. Rendah hati adalah ciri yang sangat dihargai dalam Islam, dan orang yang merendahkan diri di hadapan Allah akan ditinggikan derajatnya.
  1. Mengingat Karunia dari Allah: Mempertahankan kesadaran bahwa segala yang dimiliki, termasuk bakat, keberhasilan, dan kelebihan lainnya, berasal dari Allah. Mengakui bahwa semua karunia adalah anugerah-Nya dan bukan hasil dari kehebatan diri sendiri.
  1. Menanamkan Sikap Syukur: Sikap syukur adalah lawan dari ria dan takabur. Mensyukuri setiap nikmat yang diberikan oleh Allah mengarahkan hati kepada pengakuan akan kebesaran-Nya.
  1. Menghindari Perbandingan Diri dengan Orang Lain: Seringkali, sifat ria muncul karena perbandingan diri dengan orang lain. Islam mendorong untuk menghindari perbandingan semacam itu dan fokus pada perbaikan diri sendiri.
  1. Menerima Kritik dan Nasehat: Orang yang memiliki sifat ria dan takabur sulit menerima kritik atau nasehat. Sebaliknya, seorang Muslim seharusnya terbuka terhadap saran dan kritik yang membangun.

Dengan mengamalkan solusi-solusi tersebut, seorang Muslim dapat menjaga diri dari sifat ria dan takabur, yang tidak hanya menciptakan ketenangan batin, tetapi juga mendekatkan diri kepada Allah dengan sikap yang lebih bersahaja dan rendah hati.

  1. Mendengarkan atau Menyebarkan Ghibah

Barangsiapa yang menutup aib saudara muslimnya, Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat, dan barangsiapa yang mengumbar aib saudara muslimnya, maka Allah akan mengumbar aibnya hingga terbukalah kejelekannya di dalam rumahnya.” (HR. Ibnu Majah 2536).

Hadis yang menyatakan, “Barangsiapa yang menutup aib saudara muslimnya, Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat, dan barangsiapa yang mengumbar aib saudara muslimnya, maka Allah akan mengumbar aibnya hingga terbukalah kejelekannya di dalam rumahnya.” memberikan petunjuk tegas terkait dengan bahaya ghibah (menggunjing). Beberapa poin terkait dengan ghibah dan solusinya adalah sebagai berikut:

  1. Peringatan terhadap Ghibah: Hadis ini memberikan peringatan serius untuk menjaga lisan dari ghibah, yang merupakan perbuatan tercela dalam Islam. Ghibah merusak hubungan sosial dan menciptakan fitnah di antara saudara seiman.
  1. Kewajiban Menjaga Lisani: Petunjuk ini menegaskan kewajiban untuk menjaga lisani, yaitu menjaga dan mengontrol apa yang kita katakan. Hal ini menekankan pentingnya bertanggung jawab atas perkataan kita dan tidak menyebarkan informasi yang dapat merugikan saudara seiman.
  1. Menghindari Pembicaraan Negatif: Solusi terbaik untuk mencegah ghibah adalah dengan menghindari pembicaraan negatif tentang orang lain. Fokus pada pembicaraan yang membangun, positif, dan mendukung akan menciptakan lingkungan sosial yang lebih sehat.
  1. Menutup Aib Sesama Muslim: Menghindari menyebarkan aib atau kesalahan sesama Muslim adalah salah satu nilai penting dalam Islam. Melibatkan diri dalam kebaikan dan menutupi aib orang lain adalah tindakan mulia.
  1. Promosikan Kebaikan: Sebagai alternatif untuk berbicara tentang kesalahan orang lain, Islam mendorong untuk mempromosikan kebaikan. Berbicara tentang prestasi, sifat baik, dan kontribusi positif dari sesama Muslim akan menciptakan iklim yang penuh kasih dan dukungan.
  1. Berlindung dari Fitnah: Menyebarkan ghibah dapat menciptakan fitnah dan konflik di antara saudara seiman. Islam menekankan perlunya menjauhi fitnah dan menyumbangkan upaya untuk menciptakan persatuan dan persaudaraan yang kuat di antara umat Islam.

Dengan mengamalkan solusi-solusi tersebut, seorang Muslim dapat menjaga diri dari perbuatan ghibah, menciptakan lingkungan sosial yang lebih positif, dan mendukung nilai-nilai keadilan dan kasih sayang dalam masyarakat Muslim.

  1. Cinta Dunia secara Berlebihan

Dari Tsauban, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hampir saja para umat (yang kafir dan sesat, pen) mengerumuni kalian dari berbagai penjuru, sebagaimana mereka berkumpul menghadapi makanan dalam piring”. Kemudian seseorang bertanya,”Katakanlah wahai Rasulullah, apakah kami pada saat itu sedikit?” Rasulullah berkata,”Bahkan kalian pada saat itu banyak. Akan tetapi kalian bagai sampah yang dibawa oleh air hujan. Allah akan menghilangkan rasa takut pada hati musuh kalian dan akan menimpakan dalam hati kalian ’Wahn’. Kemudian seseorang bertanya,”Apa itu ’wahn’?” Rasulullah berkata,”Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Abu Daud no. 4297 dan Ahmad 5: 278, shahih kata Syaikh Al Albani. Lihat penjelasan hadits ini dalam ‘Aunul Ma’bud).

Hadis yang menyatakan, “Kemudian seseorang bertanya,”Apa itu ’wahn’?” Rasulullah berkata,”Cinta dunia dan takut mati.” memberikan pemahaman tentang bahaya mencintai dunia secara berlebihan. Beberapa poin terkait dengan cinta dunia dan solusinya adalah sebagai berikut:

  1. Deskripsi Dunia yang Menarik: Hadis ini menggambarkan dunia sebagai sesuatu yang menarik dan memikat, seringkali disimbolkan dengan keindahan dan kelimpahan (“manis dan hijau”). Ini mencerminkan sifat dunia yang bisa menggoda dan menarik perhatian manusia.
  1. Peran Sebagai Pengurus: Allah menyatakan bahwa manusia ditempatkan sebagai pengurus di dunia ini. Artinya, manusia diberi tanggung jawab untuk menjalankan kehidupan mereka dengan adil, bijaksana, dan sesuai dengan ajaran Islam.
  1. Pentingnya Keseimbangan: Solusi yang diberikan adalah menjaga keseimbangan antara dunia dan akhirat. Cinta dunia tidak seharusnya mengalahkan cinta kepada Allah dan akhirat. Sebaliknya, manusia diminta untuk menjalankan tugasnya di dunia ini dengan penuh kesadaran akan tanggung jawab agamanya.
  1. Tanggung Jawab Sebagai Pengurus: Mengingat manusia sebagai pengurus di dunia, ini menyoroti tanggung jawab untuk berperilaku dengan adil, menjauhi perbuatan dosa, dan mendekatkan diri kepada Allah. Pengelolaan yang baik di dunia ini akan dihitung sebagai amal perbuatan di akhirat.
  1. Pentingnya Muhasabah: Hadis ini menciptakan kesadaran akan pentingnya muhasabah, yaitu introspeksi diri dan penilaian terhadap perilaku dan tindakan sehari-hari. Manusia diminta untuk mempertimbangkan bagaimana mereka menjalankan kehidupan di dunia ini.
  1. Tidak Terjerat Dunia: Cinta dunia secara berlebihan dapat mengakibatkan keterjeratan dan penyimpangan dari tujuan akhir, yaitu kesejahteraan di akhirat. Oleh karena itu, solusi terpenting adalah menjaga keseimbangan dan menjadikan kecintaan kepada Allah sebagai prioritas utama.

Dengan memahami pesan dari hadis ini, seorang Muslim diingatkan untuk menjalani kehidupan dengan penuh kesadaran agama, menjauhi godaan dunia yang berlebihan, dan menjadikan Allah sebagai pusat cinta dan kehidupan mereka.

  1. Kurangnya Ilmu dan Pemahaman tentang Islam

“Barangsiapa yang Allah kehendaki mendapatkan seluruh kebaikan, maka Allah akan memahamkan dia tentang agama.” (HR. Bukhari no. 71 dan Muslim No. 1037).

Hadis yang menyatakan, “Barangsiapa yang Allah kehendaki mendapatkan seluruh kebaikan, maka Allah akan memahamkan dia tentang agama.” menyoroti pentingnya ilmu dan pemahaman tentang Islam. Beberapa poin terkait dengan kurangnya ilmu dan solusinya adalah sebagai berikut:

  1. Peran Pemahaman dalam Agama: Hadis ini menekankan bahwa pemahaman agama adalah salah satu bentuk kebaikan yang Allah berikan kepada hamba-Nya. Pemahaman yang baik tentang ajaran Islam memungkinkan seseorang untuk menjalani kehidupan dengan benar, sesuai dengan petunjuk Allah.
  1. Kehendak Allah Sebagai Asal Muasal Ilmu: Allah adalah sumber ilmu sejati, dan kehendak-Nya merupakan asal muasal pemahaman agama. Artinya, ketika seseorang mendapat kebaikan dari Allah, termasuk pemahaman agama, itu merupakan rahmat dan karunia-Nya.
  1. Pentingnya Ilmu Agama: Solusi yang diberikan adalah gali lebih dalam ilmu agama. Ini mencakup pembelajaran Al-Qur’an, memahami Hadis, dan terus meningkatkan pemahaman tentang ajaran Islam. Belajar dan menuntut ilmu agama adalah kewajiban setiap Muslim.
  1. Pelajaran dari Riwayat Al-Bukhari: Riwayat Al-Bukhari yang menyampaikan hadis ini menegaskan keautentikan dan kepentingan hadis tersebut. Hal ini menekankan bahwa hadis tersebut merupakan sumber petunjuk yang dapat diandalkan untuk memahami Islam.
  1. Berkesinambungan dalam Belajar: Pemahaman agama tidak berhenti pada satu titik, melainkan merupakan perjalanan berkesinambungan. Oleh karena itu, seorang Muslim dihimbau untuk terus belajar, merenung, dan memperdalam ilmu agama sepanjang hidupnya.
  1. Penekanan pada Niat yang Baik: Bagian “Allah kehendaki kebaikan kepadanya” menekankan pentingnya niat yang baik. Jika seseorang sungguh-sungguh berkeinginan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan meningkatkan pemahaman agamanya, Allah akan memberikan petunjuk dan ilmu-Nya.

Dengan memahami dan mengimplementasikan pesan dari hadis ini, seorang Muslim diarahkan untuk aktif dalam pencarian ilmu agama, mengasah pemahaman keIslaman, dan menjadikan niat yang tulus sebagai landasan dalam proses belajar.

Memelihara iman merupakan tugas utama seorang Muslim. Dengan menghindari sepuluh hal yang dapat merusak iman di atas dan mengamalkan solusinya berdasarkan ajaran Islam, seseorang dapat menjaga keutuhan dan kekuatan imannya. Semoga artikel ini memberikan wawasan dan motivasi bagi pembaca untuk senantiasa berada di jalan

والله أعلمُ بالـصـواب

©2023. Baiturrahman. All Rights Reserved.

Scroll to Top