logo pesantren terbaru pisan

Terpahit Di Puncak Kesombongan

“Tsamud dan Pesan Kehidupan”

Oleh : Ust. Achmad Fahrisi, S.Pd.

18 Maret 2024

وَاِلٰى ثَمُوْدَ اَخَاهُمْ صٰلِحًاۘ قَالَ يٰقَوْمِ اعْبُدُوا اللّٰهَ مَا لَكُمْ مِّنْ اِلٰهٍ غَيْرُهۗ

“(Kami telah mengutus) kepada (kaum) Samud saudara mereka, Saleh. Dia berkata, “Wahai kaumku, sembahlah Allah, tidak ada bagi kamu Tuhan selain Dia…”

***

Pada suatu masa di daerah yang tandus, Nabi Shalih, dengan penuh kelembutan, memperingatkan kaumnya yang keras kepala. Batu betapa kerasnya, namun hati mereka lebih keras lagi. Shalih As berseru, “Wahai kaum Thamud, bukankah Allah menciptakan untukmu unta sebagai tanda kebesaran-Nya?”

Namun, keangkuhan mereka membuatnya sulit diubah. Allah menghadirkan keajaiban: dari batu karang muncullah unta betina yang cantik. Hujan rahmat Allah menyertai langkahnya, dan air tumpah diiringi doa.

Keindahan dan kelembutan unta itu meresapi hati kaum Thamud. Mereka terpesona oleh mukjizat yang menakjubkan. Namun, keingkaran dan keangkuhan tetap menyelimuti jiwa mereka.

Hingga akhirnya, ketika kebaikan tidak mampu menembus batas keegoisan, keadilan Allah pun turun. Tanpa ampun, kehancuran melanda kaum Thamud, dan mereka yang durhaka menyesali ketidakpatuhan mereka.

Dalam keindahan mukjizat, terukir pelajaran tentang kebaikan, kesabaran, dan rendah hati. Kisah Nabi Shalih memberikan cahaya di tengah kegelapan kedurhakaan, mengajarkan bahwa kebesaran Allah dapat muncul dari yang dianggap mustahil.

Dalam bayang-bayang reruntuhan kaum Thamud yang terlupakan, ada kebijaksanaan yang bersinar dari pengajaran Nabi Shalih. Ia bukan hanya utusan yang membawa mukjizat, tetapi juga penjaga keadilan dan petunjuk hidup.

Pohon-pohon gurun menyaksikan langkahnya yang penuh hikmah, dan angin pun meneruskan kisah kebenaran. “Ketika hati mengeras seperti batu,” kata Shalih dengan suara lembut, “mukjizat Allah hadir sebagai tanda kasih sayang dan peringatan.”

Kaum Thamud mungkin lenyap, tetapi warisan kebenaran Nabi Shalih tetap hidup. Dalam kesejukan malam gurun, bintang-bintang menyaksikan keteguhan hati dan keberanian yang menjadi cahaya bagi yang terhilang.

Kisah penciptaan Nabi Shalih mengilhami generasi demi generasi, mengajarkan bahwa kebenaran tidak pernah lemah dan mukjizat Allah senantiasa menghiasi kisah hidup kita. Seiring deburan angin, suara beliau terus berkumandang, merangkul jiwa-jiwa yang haus petunjuk, dan menuntun mereka menuju cahaya kebenaran yang abadi.

***

Di dalam kemelut waktu, ada seorang nabi yang melangkah di atas pasir gurun dengan keanggunan langkah yang tak terlukiskan. Nama Shalih, sebuah melodi indah di antara gemuruh hamparan pasir tandus.

Matahari pagi memeluk wajahnya yang penuh kebijaksanaan, menyoroti jalan berliku perjalanan awalnya. Langit membuka diri, menciptakan panggung megah untuk mukjizat yang tersembunyi dalam tiap detak hatinya. Angin gurun membisikkan rahasia pada telinganya, membawa pesan-pesan yang tak terucapkan dari alam yang menyaksikan kelahiran seorang pembawa cahaya.

Nabi Shalih, dengan jubahnya yang berkibar seakan sayap angin, merangkak di antara dinding-dinding bebatuan yang menyimpan cerita zaman yang lalu. Setiap jejak kakinya menjadi kisah, setiap kerutan wajahnya menyimpan hikmah yang dipetik dari pergulatan batin.

Pada saat senja melukiskan nuansa keemasan, Shalih menjelma sebagai pencerita. Bibirnya yang penuh kasih mengalunkan kata-kata yang memancar kebijaksanaan, mengukir peta perjalanan baru di hati yang haus makna. Bintang-bintang berkumpul di langit, menyanyikan serenade bagi nabi yang menjadi penuntun cahaya.

Dalam keindahan perjalanan awalnya, Shalih tidak hanya mengemban utusan Ilahi, tetapi juga menjadi lukisan hidup yang mempesona, menggambarkan bahwa setiap langkah yang diambil dengan tujuan yang tulus adalah kanvas yang diberkahi oleh sang Pencipta.

Di antara cakrawala tandus terdapat sebuah negeri yang diselimuti oleh bayang-bayang batu dan langit yang kering. Kaum Thamud, dengan langkah-langkah yang berat seperti bebatuan yang menjulang, tinggal di antara tebing-tebing curam dan padang pasir yang menggigit.

Hunian mereka seperti bentangan bebatuan yang menjulang gagah, tetapi hati mereka lebih keras daripada batu-batu itu sendiri. Di antara dinding-dinding bebatuan, rumah-rumah mereka terpahat dengan pola keangkuhan dan keberlanjutan yang membutakan mata terhadap kebenaran.

Matahari yang menyengat menyaksikan perilaku mereka yang mencerminkan ketidakpedulian terhadap tanda-tanda kehidupan. Air yang langka dihargai lebih tinggi daripada nilai kebaikan, dan kebajikan sering kali terabaikan di tengah hamparan pasir yang tandus.

Kaum Thamud berkumpul di majlis-majlis mereka, di mana kata-kata keangkuhan memenuhi udara. Kehidupan mereka terhanyut dalam kemewahan duniawi, membangun kubu kesombongan di antara dinding-dinding bebatuan yang kuat.

Namun, di tengah keramaian itu, ada bisikan-bisikan angin yang menangis di telinga mereka, mencoba menyampaikan pesan-pesan kebenaran yang ditolak. Kaum Thamud hidup dalam denyut waktu yang terus berdetak, tetapi tak sadar bahwa hidup sejati bukanlah hanya sekadar batu dan kesombongan, melainkan kebijaksanaan dan kasih yang melampaui bebatuan yang teguh.

Dalam kebingungan kaum Thamud, Nabi Shalih muncul sebagai cahaya di kegelapan. Wajahnya yang penuh kebijaksanaan menyentuh hati-hati yang beku oleh keangkuhan. Meski sejuknya batu-batu kesombongan, Shalih mencoba melembutkan dengan kata-kata yang berkilau seperti embun di pagi hari.

Tempat-tempat ibadah mereka yang berhias kemewahan menggema dengan seruan Shalih, mencoba merangkul mereka yang terperangkap dalam kemelut keserakahan. Namun, keabu-abuan hati mereka menolak buaian kata-kata bijak, seolah-olah mendengar rintihan pasir gurun yang menanti hujan penyucian.

Perilaku mereka menjadi bayangan dalam cermin kebenaran. Nabi Shalih, dengan tekad yang teguh, mengecam ketidakadilan dan merangkul keadilan. Ia membimbing mereka melewati lorong-langit kebenaran, namun, sebagian besar menolak menyusuri jalannya, terperangkap dalam kemunafikan dan ketidakpedulian.

Keindahan gurun menjadi saksi bisu perjalanan Shalih, seorang pembawa pesan yang tak kenal lelah. Dalam kesederhanaan dan kelembutan, ia mencoba mengubah bebatuan kesombongan menjadi taman yang subur dengan pancaran kasih Ilahi. Namun, apa daya, keindahan itu terus berjuang melawan kerasnya batu-batu hati yang belum bersedia mekar.

***

Perjuangan dakwah Nabi Shalih melibatkan lebih dari sekadar kata-kata; itu adalah seruan hati yang merangkak melintasi gurun kesombongan dan batu keras keteguhan kaumnya. Setiap kata yang terucap adalah tetes embun kebijaksanaan yang jatuh di tengah padang pasir keangkuhan.

Shalih berjalan melewati lorong-langit yang sunyi, menyapa yang buta, mengajak kaumnya melihat jauh ke horison kebenaran. Namun, seperti batu-batu di sekitarnya, hati mereka tetap dingin terhadap panggilan kebenaran. Kaum Thamud menolak melihat bahwa hidup bukanlah hanya tentang kemewahan duniawi, melainkan nilai-nilai yang lebih tinggi.

Dalam senyapnya gurun, Shalih terus menyuarakan kebenaran, meskipun terdengar seperti bisikan lembut dalam badai debu keangkuhan. Ia menantang struktur kekuasaan yang telah mengakar kuat, menyuarakan keadilan di tengah hampa moral.

Perjalanan dakwahnya adalah peperangan tanpa senjata, memerangi ketidakpedulian dan kesesatan dengan senyuman dan sabar. Terkadang dihadapkan pada penolakan dan penindasan, namun Shalih tetap menatap langit dengan keyakinan bahwa setiap usahanya adalah secercah cahaya yang dapat memecahkan kegelapan.

Di antara pasir yang tajam dan batu yang keras, perjuangan Nabi Shalih adalah perjalanan melewati badai keras yang mengguncang fondasi kemunafikan. Meski sering kali tak terlihat, keberaniannya merangkak di atas dinding-dinding kebatilan, menorehkan tanda pada sejarah bahwa kebenaran akan tetap teguh di tengah badai penolakan.

Dalam ujian pahit, kaum Thamud menantang Nabi Shalih dengan kasar, menguji kebenaran dakwahnya. Mereka menuntut mukjizat yang tak terbayangkan: mengeluarkan unta betina beserta anaknya dari batu yang keras seperti hati mereka sendiri.

Nabi Shalih, dihadapkan pada permintaan yang tampaknya mustahil, menjawab dengan ketenangan dan kepercayaan pada kekuasaan Ilahi. Dalam doa dan kesunyian malam, Shalih memohon petunjuk kepada Allah untuk menghadirkan mukjizat yang akan membuka mata hati kaumnya yang terkunci.

Dengan kehendak Ilahi, batu yang sebelumnya dingin dan keras itu seperti menari dengan pesona mukjizat. Dari celah-celah batu yang melebar, unta betina yang cantik dan anaknya muncul, menyiratkan keajaiban yang tak terkalahkan. Cahaya bulan menyinari momen itu, seolah-olah memberikan saksi bisu pada kebesaran Allah.

Namun, bahkan di hadapan mukjizat yang memukau, kaum Thamud tetap keras hati. Mereka, yang seharusnya termenung dalam keajaiban ciptaan, malah semakin melarat dalam keengganan untuk menerima kebenaran. Ujian itu bukan hanya tentang batu yang terpecah, tetapi juga hati yang enggan terbuka.

Peristiwa ini tidak hanya menjadi ujian bagi Shalih, tetapi juga menyisakan pelajaran pahit tentang kerasnya hati yang tidak mampu meresapi kebenaran, bahkan ketika mukjizat mengalir di hadapannya.

Dalam kebisuan malam yang sejuk, unta betina dan anaknya berdiri di hadapan kaum Thamud sebagai bukti kebesaran Ilahi. Namun, ketika keajaiban itu seharusnya menjadi cermin bagi hati yang dingin, sebagian kaum Thamud justru menanggapinya dengan sinis.

Sebuah bayangan penolakan melintas di wajah-wajah yang terhimpit kebingungan. Seakan-akan mukjizat itu hanyalah ilusi yang menghantui keyakinan mereka. Mereka melihat unta-unta itu dengan mata yang buta, hati yang tuli, dan akal yang terkungkung oleh keangkuhan.

Nabi Shalih, di tengah sorot mata tajam yang meragukan, tetap teguh dengan keimanan yang tak tergoyahkan. Ia mencoba menyulut api keimanan di tengah kegelapan keingkaran, tetapi seruan hatinya seakan hilang di padang pasir angkuh mereka.

Kekecewaan Shalih tidak hanya karena penolakan mukjizat, tetapi juga karena menyaksikan kaumnya semakin merosot dalam kedurhakaan. Batu yang membentuk batasan keangkuhan seolah-olah semakin mengeras, melupakan lembutnya jejak langkah unta-unta yang keluar dari dalamnya.

Pada akhirnya, unta-unta itu, yang datang sebagai tanda kasih dan kebijaksanaan Allah, menyusuri langit-langit gurun, meninggalkan Thamud dengan beban penolakan yang membebani kekosongan hati mereka. Keindahan mukjizat memudar di antara serpihan-serpihan batu, dan hanya kesepian malam yang menyaksikan kepedihan Nabi Shalih dalam perjuangannya membimbing kaumnya ke jalan yang benar.

Dalam kesedihan yang mendalam, Nabi Shalih memandang langit-langit yang berserak bintang, bertanya pada Allah tentang arah berikutnya. Namun, di dalam keheningan malam, jawaban tak selalu terpahami oleh manusia.

Dalam perjalanannya yang penuh liku, Shalih terus menyeru dengan sabar, berusaha mencari celah keimanan di tengah kerasnya bebatuan hati kaumnya. Ia tidak menyerah, meski mukjizat yang mempesona terasa seperti air yang jatuh ke tanah tandus.

Begitu banyak malam dihabiskannya dengan doa dan harapan, memohon agar hati kaumnya dapat terbuka seiring dengan terbukanya celah di batu karang gurun. Namun, seolah-olah waktu itu terasa sepi, menuntut kesabaran yang lebih dalam dari seorang nabi.

Perjalanan Shalih menjadi perjuangan panjang antara kebenaran dan keteguhan hati manusia. Meskipun mukjizat telah menari di hadapan mereka, tetapi kebingungan dan penolakan tetap meliputi hati mereka. Dan dalam penolakan itu, Nabi Shalih tetap menjadi penerang yang bersinar di tengah gelapnya kekakuan hati.

Meski akhirnya malam ini membungkusnya dengan kekecewaan dan kesedihan, Shalih tidak berhenti berharap. Dia tahu, setiap ujian mempunyai hikmahnya sendiri, dan pada akhirnya, kebenaran akan bersinar meski gelapnya malam.

***

Di bawah langit yang penuh bintang, Nabi Shalih merendahkan diri dalam doa yang mendalam. Hatinya terbuka seperti padang pasir yang meminta sentuhan hujan, dan suaranya melambung tinggi di angkasa, mencari pendengaran Tuhan.

“Ya Allah, Pelindung segala yang rapuh dan rendah, aku merayu kepada-Mu dalam kegelapan ini. Engkaulah yang Maha Mengetahui, Maha Bijaksana. Perlindungilah aku, ya Tuhan, dari kesulitan dan penolakan kaumku.”

Mata Shalih yang penuh kelembutan dan lelah mencerminkan perjalanan panjang dan perjuangan yang penuh liku. Doanya mengalun sebagai nyanyian keikhlasan, memohon pada Yang Maha Kuasa agar membuka pintu hati yang terkunci rapat.

“Ya Allah, Engkaulah Pemberi cahaya di tengah kegelapan. Bimbinglah langkah-langkahku, wahai Pemimpin langit dan bumi. Perlindungilah aku dalam pangkuan kasih-Mu dari badai penolakan, agar kebenaran-Mu tetap bersinar meski di antara awan kesesatan.”

Dalam doa yang tulus, Shalih melepas beban hatinya kepada Sang Maha Pemurah. Ia mengingatkan dirinya sendiri bahwa meskipun batu-batu kesombongan keras seperti hati manusia, Allah adalah Pelindung yang Maha Penyayang.

Dalam kesederhanaan doa, Nabi Shalih menunjukkan bahwa terkadang perlindungan terbesar datang dari keheningan malam dan dialog langsung dengan Sang Pencipta. Meskipun perjuangan masih panjang, langkah-langkahnya diberkahi oleh cahaya doa yang menjelma menjadi bentangan harapan di tengah kelamnya malam.

Ujian besar terurai di langit dan bumi, menjadi bentangan pengujian bagi mereka yang beriman dan bencana dahsyat bagi yang ingkar. Seperti awan mendung yang memayungi langit, ujian tersebut datang membawa beban berat dan tantangan yang melibatkan hati setiap jiwa.

Bagi yang beriman, ujian adalah panggilan untuk menguatkan iman dan bertahan teguh di atas jalan kebenaran. Mereka menghadapi badai dengan hati yang berserah kepada Sang Pencipta, menyadari bahwa setiap hujan deras membawa rahmat dan setiap guruh menggetarkan hati untuk lebih mendekat kepada-Nya.

Namun, bagi yang ingkar, bencana itu menjadi bayang-bayang keputusan yang keliru dan jalan yang menyesatkan. Bagi mereka yang telah mengabaikan petunjuk, ujian menjadi angin ribut yang mengguncang dasar kepercayaan palsu mereka.

Di tengah pusaran ujian dan bencana, hakikat jiwa setiap individu terungkap. Bagi yang beriman, ujian adalah lembaran baru dalam perjalanan kebersamaan dengan Tuhan. Bagi yang ingkar, bencana adalah cermin kehancuran yang mungkin membangkitkan pertobatan.

Dalam kebijaksanaan-Nya, Allah menentukan ujian sebagai jalan untuk menguji dan mengingatkan, menyaring yang benar-benar kuat dan menguatkan yang lemah. Dan dalam setiap ujian, ada pelajaran berharga dan potensi pemurnian yang dapat membimbing setiap jiwa kepada cahaya kebenaran.

***

Dalam redup senja, angin berbisik rahasia dan awan gelap berkumpul di langit Tsamud. Alam merasakan datangnya sesuatu yang dahsyat. Ketika pertanda-pertanda alam itu muncul, kaum Tsamud masih terperangkap dalam kesombongan dan kedurhakaan mereka.

Sebuah gemuruh misterius bergema di langit, memberikan isyarat akan kedatangan bencana yang tak terbayangkan. Wajah langit berubah menjadi gelap, menyiratkan kebesaran yang tak dapat dihindari.

Di tengah malam yang kelam, tanah Tsamud bergetar. Di bawah ketakutan yang merayap, gemuruh semakin mendekat, dan langit berteriak menyampaikan murka Tuhan. Kaum yang mendurhakai pesan Nabi Shalih merasa getaran bumi yang semakin kuat, namun kesombongan mereka membekukan hati.

Lalu, datanglah bencana yang menggelegar, menyapu keangkuhan kaum Tsamud seperti gelombang amarah Ilahi. Batu-batu kesombongan yang mereka banggakan menjadi saksi bisu kehancuran yang mendalam. Badai pasir yang bergulung dan gurun yang terbuka lebar menyiratkan bahwa tak ada kekuatan yang mampu menahan murka Tuhan.

Dalam kegelapan malam, terdengarlah jeritan dan tangisan yang terhempas oleh deru angin badai. Rumah-rumah yang megah kini rata dengan tanah, dan kesombongan yang selama ini membatasi pandangan mereka, hancur berkeping-keping.

Bencana itu menjadi pelajaran pahit bagi Tsamud, yang sebelumnya menantang kebesaran Allah. Sisa-sisa kehancuran mengingatkan akan kerapuhan manusia di hadapan kekuasaan yang tak terbandingkan. Dan dalam puing-puing itu, mungkin ada ruang untuk taubat dan kebangkitan yang baru.

Kegelapan malam yang dihantam angin ribut menjadi saksi bisu ketakutan yang melanda Tsamud. Suara gemuruh yang mengguncang bumi seperti seruan kehancuran, dan langit yang terbakar menjadi padam menyiratkan kengerian yang mendalam.

Di tengah kepanikan yang dahsyat, terdengar jeritan-jeritan yang terputus di antara badai pasir. Kaum Tsamud, yang sebelumnya menyombongkan diri, kini terhempas dalam kegelapan yang tak berujung. Mereka berlarian tanpa tujuan, memanggil nama-nama Ilahi dengan suara gemetar, mencari tempat perlindungan yang tidak ada.

Rumah-rumah megah yang menjadi simbol keangkuhan sekarang hancur berantakan, dan hujan debu dan batu memperparah kekacauan. Panik merebak seperti api di tengah malam, menggiring mereka ke keputusasaan yang teramat dalam.

Dalam keputusasaan yang melilit, cahaya gemilang yang dulu mereka banggakan telah mati tergantikan oleh kegelapan dan bencana. Kaki-kaki yang kuat menjadi lunglai, dan hati yang dulu penuh kesombongan kini terbuka lebar oleh kepanikan.

Ketika bencana melanda, Tsamud menggigil dalam takut dan panik, menyadari bahwa kebesaran yang mereka sangkal telah menghantui mereka dengan kehancuran. Pada titik ini, langit dan bumi bersumpah bersama: tak ada tempat perlindungan bagi yang durhaka dari murka Tuhan.

Di tengah kekacauan dan kepanikan yang merajalela, kaum Tsamud berusaha meraih sejumput keselamatan dari keganasan bencana. Matahari terbenam di balik awan debu, menyelimuti kehancuran dengan malam yang kelam.

Langkah-langkah yang panik menyusuri jalanan yang kini dipenuhi puing-puing, dan jeritan-jeritan tak terdengar di tengah gemuruh badai pasir. Rumah-rumah yang pernah menjadi tempat perlindungan, kini hanya meruakan reruntuhan yang menyiratkan kebesaran Ilahi.

Beberapa yang masih hidup menyesap udara penuh debu, menyadari bahwa tak ada lagi kehidupan yang dulu mereka kenal. Keputusasaan melilit seperti rantai tak terlihat, dan kepanikan menjadi sajian yang pahit di tengah gelapnya malam.

Tsamud yang sombong dan keras hati, kini terkurung dalam ketakutan dan penyesalan. Langit yang tadinya biru dan tenang kini memancarkan kemarahan alam yang menyapu kehinaan manusia. Mereka yang menantang takdir, kini menangis dalam keputusasaan yang tak terhindarkan.

Dalam kebisuan malam yang berat, Tsamud menjadi tanah kuburan bagi kesombongan dan ketidaktaatan mereka. Bencana telah menghampiri dengan keadilan yang mutlak, meninggalkan jejak-jejak kehancuran dan kepanikan yang akan diingat oleh sejarah sebagai pelajaran berharga tentang rendahnya kekuatan manusia di hadapan kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa.

Setelah bencana itu mereda, Tsamud tergelincir dalam pemandangan sunyi yang tak terbayangkan. Gurun yang sebelumnya menampung keangkuhan, kini menjadi makam bagi kesombongan yang dulu mereka sandang.

Puing-puing bangunan yang roboh menjadi saksi bisu akan kehancuran yang melanda. Debu dan batu-batu hancuran menari-nari di atas tanah gurun yang kini menjadi padang kematian. Sisa-sisa yang tersisa menciptakan lanskap yang sunyi dan menyeramkan.

Angin yang membawa rahmat berbisik lembut di antara reruntuhan, merayakan keadilan Ilahi yang kembali memulihkan keseimbangan. Namun, dalam sunyi yang mendalam, suara angin juga menyiratkan kesedihan dan penyesalan. Alam, yang sebelumnya merayakan kemenangan kebenaran, kini berkabung atas nasib kaum yang terlena oleh kesombongan.

Di antara tanah gersang dan reruntuhan, mungkin ada benih taubat yang tumbuh. Mungkin ada jiwa yang tersadar dari mimpi buruk kesesatan. Tsamud, meski tersapu oleh bencana, meninggalkan jejak-jejak yang merangkai cerita tentang kerapuhan manusia dan kebesaran Sang Pencipta.

Langit yang sebelumnya berteriak murka, kini membentangkan kembali kebiruan cinta kasih-Nya. Dalam keheningan yang tersisa, tercium aroma harapan baru yang tumbuh dari tanah yang terpulihkan. Meskipun sunyi, namun dalam kesunyian itu, ada janji baru yang menanti kebangkitan dan kehidupan yang akan tumbuh dari puing-puing kehancuran.

Dengan hati yang penuh kedukaan, Nabi Shalih melangkah melalui puing-puing kehancuran Tsamud, melanjutkan perjalanannya yang penuh ujian. Dalam perjalanan yang panjang itu, langit yang sebelumnya bersaksi atas murka Tuhan kini menjadi saksi keimanan seorang nabi yang penuh kesabaran.

Shalih terus menyuarakan pesan kebenaran, mengajak orang-orang yang tersisa untuk merenung dan merenungkan kebesaran Allah. Di setiap langkahnya, ia membawa rasa duka dan belas kasihan bagi mereka yang telah mengalami akibat dari kesombongan.

Perjalanannya membawanya melewati hamparan gurun yang tak berujung, menghadapi cuaca yang keras dan malam yang gelap. Namun, api keimanan di hati Shalih tidak pernah padam. Ia mencari teladan dan pelajaran dalam setiap peristiwa, melihatnya sebagai tanda-tanda dan mujizat yang mengarah pada kebijaksanaan Ilahi.

Dalam kesendirian malam, Shalih berdoa dengan kerendahan hati, memohon petunjuk dan kekuatan dari Sang Pencipta. Ia tahu bahwa perjalanan ini masih panjang dan ujian akan terus menghadang. Namun, dengan hati yang penuh keyakinan, ia melanjutkan perjalanan sebagai penjaga kebenaran, membawa pesan damai dan petunjuk hidup untuk yang haus petunjuk.

Meskipun langkahnya kadang-kadang berat, Nabi Shalih yakin bahwa setiap perjalanan memiliki tujuan yang tersembunyi dan setiap ujian memiliki makna yang mendalam. Dalam kegelapan malam dan keheningan gurun, langit-lah yang menjadi temannya, menyaksikan ketabahan seorang hamba yang setia dalam tugasnya membimbing umat yang tersesat.

***

Dari kisah Nabi Shalih dan bencana yang menimpa kaum Tsamud, kita diingatkan bahwa keangkuhan dan ketidaktaatan terhadap petunjuk Ilahi dapat membawa kehancuran. Namun, di dalam kehancuran itu, terdapat hikmah yang mengajar kita tentang kerapuhan hidup dan kebijaksanaan Tuhan yang tak terbatas.

Sebagai umat, kita diajak merenung bahwa kesombongan akan menutup pintu hati untuk menerima kebenaran. Bencana bukan hanya tentang kehancuran fisik, tetapi juga peringatan bagi jiwa-jiwa yang lalai. Dalam setiap ujian, ada pelajaran berharga yang mengajarkan bahwa hidup ini sementara, dan kita hanya sebutir debu di hadapan kebesaran-Nya.

Dari perjalanan Shalih, kita belajar tentang kesabaran, keteguhan iman, dan kerendahan hati. Langkahnya yang tegar di tengah badai bencana menjadi cermin bagi kita untuk terus berjalan dalam kebenaran, meski jalan terjal dihadapkan.

Kisah ini menjadi panggilan untuk merenung, bersikap rendah hati, dan selalu meraba langkah kita dengan petunjuk Ilahi. Sebab, setiap detik kehidupan adalah ujian, dan dalam ujian itulah tergambarkan sejauh mana kita mendekat pada-Nya.

Jadi, dari puing-puing Tsamud yang hancur, kita dapat menggali hikmah kebijaksanaan dan memahami bahwa setiap perjalanan memiliki tujuan, dan setiap ujian membawa pelajaran yang memantaskan kita mengarungi samudera hidup dengan keteguhan hati dan rasa syukur.

***

Di pasir gurun Tsamud yang tandus,

Berkisah tragedi dalam gemuruh badai.

Nabi Shalih, langkah penuh ketabahan,

Melintasi reruntuhan yang penuh duka.

 

Batu-batu sombong roboh berserakan,

Saksi bisu kehancuran peradaban.

Dalam sunyi malam yang kelam,

Mengalun doa, harapkan cahaya suci.

 

Langit berkisah dalam nada bisikan,

Angin malam mencium aroma harapan.

Puing-puing Tsamud, kisah pembelajaran,

Dalam hikmah Tuhan, rahasia terungkap.

 

Bait demi bait, hikmah terpahat indah,

Kisah Nabi Shalih, pelajaran kehidupan.

Dalam setiap bencana ada pesan,

Berjalanlah dalam petunjuk, hiduplah bijaksana.

©2024. Baiturrahman. All Rights Reserved.

Scroll to Top