logo pesantren terbaru pisan

Pesan Dari Gurun

“Perjalanan Nabi Hud dan Teriakan Keimanan”

Oleh : Ust. Achmad Fahrisi, S.Pd.

14 Maret 2024

 وَاِلٰى عَادٍ اَخَاهُمْ هُوْدًاۗ قَالَ يٰقَوْمِ اعْبُدُوا اللّٰهَ مَا لَكُمْ مِّنْ اِلٰهٍ غَيْرُهٗۗ اَفَلَا تَتَّقُوْنَ

“(Kami telah mengutus) kepada (kaum) ‘Ad saudara mereka, Hud. Dia berkata, “Wahai kaumku, sembahlah Allah, tidak ada tuhan bagimu selain Dia. Tidakkah kamu bertakwa?”

***

Di antara pasir gurun yang terpanas, muncullah seorang pemimpin yang mulia, Nabi Hud AS. Dengan langkah tegasnya, dia meniti perjalanan dakwah di tengah-tengah masyarakat yang tenggelam dalam kegelapan kehidupan.

Hud, pemberi kabar gembira dari Tuhan, menghadapi tantangan dengan hati yang kokoh. Suaranya gemuruh seperti angin yang melintasi padang pasir, memanggil umatnya untuk menyembah satu Tuhan yang Maha Agung.

Dalam cakrawala kelaparan dan kemiskinan, Nabi Hud mengajarkan keadilan dan kasih sayang. Dia meneguhkan pijakan ketuhanan, mengukir pesan damai di dada para pengikutnya. Namun, di tengah gemuruh dakwahnya, badai penolakan menerpanya seperti ombak ganas.

Pertentangannya dengan kaum ‘Ad, bangsa yang angkuh dan menyombongkan diri, menjadi lanskap perjuangannya. Dalam setiap kata yang terucap, Nabi Hud menyiratkan kebesaran Tuhan dan kerendahan hati manusia. Dia seperti matahari yang bersinar di kegelapan, menyinari jalan yang lurus di tengah kebingungan.

Namun, meski ditentang dan diremehkan, Nabi Hud tak pernah merunduk. Dia berdiri tegak seperti pohon yang kokoh di tengah badai. Keberanian dan ketabahan menjadi saksi bisu dari kisah perjuangan dakwahnya, seakan mengukir jejak kebenaran di pasir waktu.

Di saat badai perpecahan menerjang, Nabi Hud tetap menjadi mercusuar kebenaran. Kisahnya menjadi pelajaran tentang kegigihan, ketabahan, dan keyakinan yang tumbuh di kebun kenabian. Sebuah kisah yang tak lekang oleh waktu, merajut benang-benang keagungan dalam lembaran sejarah perjuangan dakwah yang abadi.

Dalam langkahnya yang teguh, Nabi Hud melanjutkan dakwahnya seperti sungai yang tak kenal lelah mengalir. Dalam redup senja, ketika hening melingkupi gurun pasir, dia berbicara tentang kasih dan keadilan. Khutbahnya seperti pesan yang terpahat di langit malam, menggugah hati yang terlelap oleh keduniawian.

Pada saat tertentu, ketika panas matahari menyengat bumi, Nabi Hud menyampaikan wahyu Ilahi dengan sabar dan bijak. Dia mengajak kaumnya meninggalkan kesombongan, menjauhi kezhaliman, dan menyembah Tuhan Yang Esa. Setiap kata-katanya membentuk bait-bait syair spiritual, meresapi jiwa yang haus akan kebenaran.

Namun, cobaan semakin berat, seperti badai yang menghantam. Kaum ‘Ad tetap menggenggam erat keangkuhan mereka. Nabi Hud tetap kokoh, tak tergoyahkan oleh riak-riak kemenangan duniawi. Dia seperti gunung yang tak gentar di hadapan badai, meneguhkan panggilannya untuk kembali kepada kebenaran.

Ketika hari keputusan tiba, Nabi Hud tetap bersyukur, meski hasilnya tak sejalan dengan yang diinginkannya. Dia membimbing umatnya dengan tangan yang lembut, meski kekecewaan melingkupi hatinya. Kemenangan sejati, baginya, bukanlah kejayaan duniawi, melainkan keberhasilan menyampaikan pesan suci Tuhan kepada hati yang terbuka.

Seiring berjalannya waktu, kisah perjuangan dakwah Nabi Hud menjadi cahaya yang terus bersinar di tengah kegelapan sejarah. Bukan hanya sebagai catatan tentang seorang pemimpin, melainkan sebagai warisan kebijaksanaan dan ketabahan yang menerangi setiap langkah yang menuju kepada kebenaran.

***

Kaum ‘Ad, sebuah peradaban megah yang terukir dalam lembaran pasir gurun seperti kisah legenda yang terpahat di sejarah zaman. Allah SWT, dalam kemuliaan-Nya, menggambarkan mereka sebagai kaum yang memiliki tubuh yang besar dan kuat, seperti menara yang menjulang di tengah padang pasir, angkuh dan bangga dalam kelebihan yang diberikan-Nya.

Di tengah padang pasir yang terbakar matahari, mereka membangun istana-istana megah yang mencerminkan keagungan dunia. Dengan kemampuan mereka yang luar biasa, mereka membangun kota-kota yang tak tertandingi, seolah menantang langit dengan ketinggian menara-menaranya. Namun, semegah apapun bentuknya, mereka tetap buta akan kebenaran dan kerendahan hati di hadapan Pencipta.

Allah menggambarkan kemegahan mereka sebagai suatu ujian, seakan-akan angin gurun yang kering menerpa keangkuhan mereka. Namun, kebesaran dan kekuatan yang mereka miliki ternyata menjadi siksa yang menentang mereka, seolah menyatakan bahwa kehebatan dunia hanyalah sementara, dan hanya yang kekal adalah keimanan yang lurus.

Kisah kaum ‘Ad dalam Al Quran menciptakan gambaran tentang keangkuhan yang menghancurkan. Mereka terpesona oleh kekuatan duniawi, lupa bahwa setiap nikmat dan kelebihan adalah ujian dari Yang Maha Kuasa. Keangkuhan mereka seolah berbicara, mengingatkan setiap generasi untuk merenung dan tidak terlena dalam kesenangan sesaat.

Dalam kehancuran mereka, tergambar pelajaran tentang batas kebesaran manusia dan kehancuran yang menyertai kesombongan. Kaum ‘Ad menjadi cermin bagi setiap umat, memperingatkan akan akibat yang mengiringi ketidakpatuhan terhadap petunjuk Ilahi.

Di tengah hening gurun yang terbentang luas, sinar matahari mulai meredup, memberi tempat bagi kata-kata kebijaksanaan yang akan disampaikan oleh Nabi Hud. Dalam kebisuan yang dipatahkan oleh langkah-langkahnya yang mantap, beliau memandang langit yang membiru, seolah-olah membaca wahyu yang tergantung di sana.

Dengan penuh hikmah, Nabi Hud memulai pengajaran ilahi, suaranya yang lembut seperti melodi yang mengalun di antara bukit-bukit pasir. Kata-katanya bukanlah sekadar rangkaian huruf, melainkan simfoni kebenaran yang mengalir dari hati yang penuh kecintaan kepada Tuhannya.

“Dengarkanlah, wahai kaum ‘Ad,” serunya, suaranya bagai embun pagi yang menyapa bunga di padang gurun. “Tuhanmu Maha Agung, dan pada-Nya lah kalian berasal. Janganlah terbuai oleh kemegahan dunia yang fana, karena sesungguhnya kehidupan ini hanyalah ujian yang akan mengantar kalian pada keabadian.”

Dalam setiap kalimatnya, Nabi Hud menghiasi makna dengan metafora yang indah, seakan-akan menganyam benang-benang kata menjadi kain pembelajaran yang lembut. Ia menyampaikan wahyu dengan pesona tata bahasa yang memikat, mengundang hati untuk merenung dan mendalam.

“Wahai kaum ‘Ad, seperti ombak yang melandai di tengah lautan pasir, rendahkanlah hatimu kepada Tuhanmu. Kekuatan dan kebesaran bukanlah hak prerogatif manusia, melainkan anugerah yang perlu dihargai dengan ketaqwaan.”

Dengan puitisnya, Nabi Hud menyemai benih-benih keimanan di antara gurun-gurun hati kaumnya yang keras. Setiap kata yang terucap membawa pesona kebijaksanaan, dan setiap nasihatnya bagai embun yang menyirami tanah kehampaan spiritual. Demikianlah, saat Nabi Hud menyampaikan wahyu, gurun pasir menjadi panggung bagi pertunjukan kebesaran tata bahasa yang tak terlupakan.

***

Di bawah langit yang menyaksikan kisah takdir, kaum ‘Ad, dalam keangkuhan mereka, menolak pesan penuh keindahan yang disampaikan oleh Nabi Hud. Seperti pepohonan yang teguh di padang pasir, mereka berdiri dengan kesombongannya, menolak angin dakwah yang berusaha merayap masuk ke dalam relung hati mereka.

“Dalam kemegahan duniawi, mereka memalingkan diri dari petunjuk,” seakan-akan matahari tenggelam dalam kabut ketidakpedulian. Nabi Hud berbicara dengan hati yang terbuka, tetapi kaumnya menutup pintu hati mereka rapat-rapat, seolah-olah tak ingin terpengaruh oleh cahaya kebenaran.

Kaum ‘Ad, dengan tatapan yang tajam seperti pasir yang membelah angin, menolak dengan keras. Kata-kata Nabi Hud, yang membentuk kalimat-kalimat bunga dari taman ilahi, seolah diabaikan, dan melambung-lambung di udara gurun yang sunyi.

“Pesan kebenaran adalah hujan yang membasahi bumi kering hati mereka, tetapi seakan-akan mereka adalah tanah yang keras, menolak untuk menerima kesejukan pelajaran-pelajaran kehidupan.”

Dalam penolakan mereka, tergambar kebisuan yang menyelimuti hati, seolah-olah kisah yang diceritakan adalah angan-angan yang tidak bersentuhan dengan kehidupan mereka. Mereka lebih memilih ketidakpedulian daripada merendahkan diri untuk menyimak pesan yang membawa kehidupan.

Dan di balik tirai keangkuhan, tatkala Nabi Hud mencoba merayu hati mereka dengan kelembutan kata-kata, kaum ‘Ad tetap menyongsong masa depan dengan kepala tegak. Penolakan mereka, seperti gurun yang tak berujung, menjadi saksi bisu dari kebutaan hati yang menolak mentari kebenaran yang bersinar di ufuk.

Di saat matahari menyeruak di ufuk, bayangan penolakan kaum ‘Ad semakin menghitam seperti malam yang mendekat. Nabi Hud, yang hatinya berisi kepedihan namun tetap tulus, menghadapi badai penolakan itu dengan kemantapan. Langit di atasnya seolah-olah menjadi saksi bisu dari dramatisasi kehidupan.

Kaum ‘Ad, dalam keangkuhan mereka, membentangkan tirai hitam keegoisan. Setiap kata yang diucapkan oleh Nabi Hud, yang seharusnya menjadi melodi harmoni, terhenti di tengah jalan, seperti burung yang terperangkap dalam kandang cengkraman ketidaksukaan.

“Nabi Hud berkata dengan lembut, seraya melibatkan mereka dalam dongeng kebijaksanaan, namun mereka menjawab dengan kesombongan yang menolak permohonan kasih Tuhan.”

Wahyu yang ditawarkan sebagai bunga-bunga indah, dilemparkan begitu saja ke tengah badai ketidakpedulian. Kaum ‘Ad menutup telinga mereka, seolah tak ingin mendengar pesan yang membawa kebaikan dan petunjuk. Penolakan mereka bukan hanya kepada Nabi Hud, tetapi juga kepada anugerah Tuhan yang dicurahkan dengan begitu murah hati.

Dalam setiap patah kata penolakan, terbentuk lukisan yang melukai jiwa. Mereka menolak dengan keangkuhan yang membentuk guratan luka di hati kebenaran. Namun, Nabi Hud, seperti bintang yang bersinar di tengah kegelapan, tetap bersinar, memancarkan sinar kebijaksanaan meski diliputi oleh awan penolakan.

Dalam sorot matanya yang tulus, Nabi Hud membawa kebenaran, meski pada akhirnya harus berhadapan dengan badai penolakan yang memisahkan mereka seperti samudera yang dalam. Sebuah babak perjuangan dan ketabahan, di mana pesan kebenaran tetap bersinar dalam lembaran sejarah yang menyimpan cerita tragedi dan harapan yang abadi.

Dalam hening malam yang gelap, Nabi Hud menengadahkan tangan ke langit, seolah-olah meraih ketenangan dari bintang-bintang yang berserak di angkasa. Doanya terucap, bukan sekadar rangkaian kata, melainkan lirik kesungguhan yang terpancar dari hati yang tulus.

“Dengan gemetar di bibirnya, Nabi Hud berdoa, ‘Ya Allah, Tuhan yang Maha Pemurah, bukakanlah hati kaum ‘Ad untuk menerima petunjuk-Mu. Engkau yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi, bimbinglah umat ini ke jalan yang lurus, walau pun aku hanyalah seorang hamba yang lemah.'”

Langit terasa memantul doa-doa Nabi Hud, seakan-akan bintang-bintang berbisik satu sama lain, menjadi saksi dari kepedihan yang tersemat dalam doa itu. Suaranya, yang melingkupi gurun pasir yang sepi, seolah-olah menjadi nyanyian kerinduan yang terbawa angin malam.

Doa Nabi Hud adalah titik temu antara kelemahan manusia dan kebesaran Tuhan. Dalam doanya yang penuh harap, tergambar kerendahan hati yang mengalir bagai sungai kesadaran akan ketergantungan penuh kepada Sang Pencipta. Doa itu adalah panggilan kepada Yang Maha Mendengar, sebuah pintu harapan yang terbuka di tengah ketidakpastian.

Walau cobaan datang dalam bentuk penolakan yang menyakitkan, Nabi Hud tetap berdoa dengan keyakinan yang tak tergoyahkan. Setiap kata doanya seperti memahat jejak harapan di dada malam yang sunyi, menciptakan kesejukan dalam kehangatan doa yang merayap di antara pasir yang terbentang luas. Doa itu adalah panggilan kepada rahmat Tuhan, seakan-akan merayakan keabadian dalam sejenak kerapuhan seorang hamba.

Sesungguhnya, janji Allah datang bagai cahaya mentari di ufuk pagi, membawa harapan bagi orang-orang beriman yang mengikuti jalan-Nya. Setiap ujian yang dihadapi oleh mereka bukanlah hambatan, melainkan peluang untuk mengukir kesabaran dan keteguhan hati di atas batu ujian yang diletakkan di hadapan mereka.

Bagi orang-orang yang beriman, janji Allah menjadi sinar yang membimbing di tengah kegelapan. Ujian yang melanda bukanlah beban yang tak tertanggung, melainkan bekal untuk mencapai tingkat keimanan yang lebih tinggi. Mereka menghadapi setiap cobaan dengan hati yang yakin bahwa di balik setiap ujian terdapat rahmat dan kebijaksanaan-Nya.

Namun, bagi yang memilih mengingkari janji Allah, ujian yang tiba menjadi bencana besar yang melanda. Seperti badai yang menghantam tanpa ampun, bencana tersebut adalah cermin dari ketidakpatuhan, memperlihatkan akibat dari langkah-langkah yang menjauh dari petunjuk-Nya.

Janji Allah menjadi cermin keadilan-Nya, memberikan imbalan bagi kebaikan dan memberikan peringatan bagi keburukan. Ujian bagi orang beriman adalah jalan menuju keunggulan rohaniah, sementara bagi yang ingkar, bencana besar adalah bentuk teguran dan pemberitahuan akan konsekuensi dari tindakan yang menyimpang dari jalan yang lurus.

Dalam dinamika janji-Nya, Allah menunjukkan kasih-Nya kepada hamba-Nya yang beriman, dan sekaligus memperingatkan kepada yang menyimpang. Janji itu bukan hanya sekadar kata-kata, melainkan sunnatullah, hukum alam semesta yang tak terbantahkan.

Ketika adzab-Nya tiba, suasana seolah-olah menjadi teatrikal tragedi yang menyeruak melintasi alam semesta. Angin bertiup dengan keras, membawa getaran ketakutan dan kegentingan. Langit yang sebelumnya cerah menjadi padam dan gelap, seakan-akan bintang-bintang sendiri bersimpati atas apa yang akan terjadi.

Dalam hening yang tegang, terdengar gemuruh yang menggema di seluruh penjuru. Suara gemuruh itu bagai belaian awan mendung, meresapi setiap hati dengan ketidakpastian dan kecemasan. Seakan-akan alam sendiri ikut merasakan getaran ketidaknyamanan yang menyebar.

Pada saat adzab-Nya melanda, kepanikan merebak dengan cepat. Orang-orang mencari perlindungan tanpa tahu kemana harus melarikan diri. Teriakan dan tangisan menciptakan simfoni ketakutan yang melukai pendengaran. Mereka yang dahulu merasa kuat, kini rapuh dan tunduk di hadapan kebesaran-Nya.

Pemandangan di sekitar menjadi gejolak, seperti lautan yang mengamuk di tengah badai. Gunung-gemuruh tak henti-hentinya menggema, membingkai kehancuran yang melanda. Sungai-sungai menjadi kering, tanah retak-retak, dan segala yang dahulu hidup kini layu dan mati.

Di setiap sudut, raut wajah kepanikan tergambar jelas. Orang-orang berlari tanpa arah, mencari tempat berlindung yang mustahil ditemukan. Setiap pandangan penuh kebingungan, seakan-akan masa depan telah terhapus oleh bayangan adzab yang maha dahsyat.

Namun, di tengah kepanikan itu, masih terdengar suara yang memohon ampun. Beberapa hati yang masih terbuka, meski terluka oleh dosa, berteriak memohon rahmat-Nya. Saat adzab-Nya tiba, kepanikan itu bukan hanya fisik, melainkan juga kerusakan jiwa yang mendalam, menjadi cermin dari kebesaran dan keadilan-Nya yang tak terbandingkan.

Dalam kepanikan yang melanda, bumi seakan-akan merintih di bawah langkah-langkah adzab-Nya. Angin adzab membawa beban ketakutan, menerjang seperti badai yang tak mengenal ampun. Raut wajah yang terpahat dengan kecemasan menggambarkan cerita tragis saat manusia menyaksikan datangnya azab yang diingkari.

Rumah-rumah runtuh, tembok-tembok retak, dan gedung-gedung tinggi yang dahulu angkuh kini rebah tunduk di hadapan kekuasaan-Nya. Keheningan mencekam, seolah-olah dunia berhenti bernapas di saat-saat kepanikan ini.

Suara tangisan anak-anak dan raungan binatang-binatang mengiringi teriakan manusia. Dalam kepanikan yang melanda, ketidakpastian dan penyesalan menjadi bayang-bayang hitam yang menggelayuti setiap sudut hati yang tersisa.

Di tengah kehancuran, masih terdengar seseorang yang berlutut, bersujud di atas tanah yang retak akibat azab-Nya. Doa penuh penyesalan dan kerinduan kepada-Nya terucap, diiringi dengan tetesan air mata yang mengalir di pipi yang terpahit oleh penyesalan.

Dalam kegelapan itu, Allah yang Maha Pemurah masih mendengarkan seruan-seruan hamba-Nya yang merasa kecil di hadapan-Nya. Azab-Nya, sementara menjadi siksa bagi yang ingkar, juga menjadi panggilan untuk kembali kepada-Nya bagi yang masih memiliki hati yang terbuka.

Seiring bergulirnya waktu, suasana kepanikan perlahan-lahan reda, tapi bekas-bekas adzab yang melanda menjadi saksi bisu tentang ketidakterbatasan kekuasaan Tuhan. Setiap detik yang berlalu adalah pengingat tentang janji-Nya yang pasti terlaksana, membawa hikmah dan pelajaran bagi yang mau merenung dan bertobat.

Dalam senyap yang mengikuti kehancuran, suasana berubah menjadi pemandangan yang sunyi. Bumi yang sebelumnya gemuruh oleh kepanikan kini terdiam, sebagai saksi bisu dari azab yang telah berlalu. Pepohonan yang tersisa bergoyang pelan oleh nafas angin, menciptakan melodi perlahan dalam ketenangan yang terpulih.

Namun, di tengah sunyi itu, terdengar gemuruh getaran kehidupan yang mencoba merintis kembali. Manusia yang selamat dari azab-Nya mulai merangkak keluar dari tempat perlindungan mereka. Beberapa yang merasakan keteguhan hati, berlutut di atas tanah yang baru saja diguncang oleh kekuasaan Ilahi, merenungkan arti dari azab yang melanda.

Bertumbuhlah pepohonan hijau yang segar di antara reruntuhan dan tanah yang gersang. Seolah-olah alam itu sendiri meresapi kembali kehidupan dari kehancuran, menjadi tanda keadilan dan kebijaksanaan-Nya yang tak terduga. Sungai-sungai yang kering mulai mengalir kembali, menyirami tanah yang dahulu haus.

Di antara mereka yang selamat, terdengar pula suara dzikir dan syukur yang terangkat ke langit. Mereka merayakan kesempatan hidup yang diberikan oleh Allah setelah melalui ujian yang maha besar. Pengalaman adzab itu seperti tinta yang merajut kisah kehidupan baru, menyulam benang kesadaran akan pentingnya ketaqwaan.

Adzab-Nya telah berlalu, meninggalkan bekas yang mengingatkan akan kebesaran-Nya. Meskipun suasana kepanikan telah usai, ingatan tentang azab itu tetap menggema di hati mereka. Dan di balik bayang-bayang kehancuran, terdapat harapan baru, sebagai cahaya yang menyinari jalan ke depan bagi mereka yang mau berusaha dan bertobat.

Dalam keheningan setelah adzab yang maha dahsyat, bumi yang telah terpapar ketidakberdayaan manusia kini mulai menyembuhkan luka-lukanya. Banyak orang yang masih tegar berdiri, menggenggam puing-puing harapan yang tersisa di antara reruntuhan kehidupan mereka.

Langit yang sebelumnya mendung dan kelam, kini mulai membuka diri untuk menyambut sinar surga. Mentari pagi menyinari tanah yang terbakar, memberikan sinyal kehidupan yang akan tumbuh dari kehancuran. Rantai pegunungan yang dahulu gemetar kini bersujud di hadapan kebesaran Sang Pencipta.

Di tengah keruwetan yang tersisa, manusia mulai merenung dan meresapi makna dari azab yang telah melanda. Beberapa hati yang dulunya keras seperti batu, kini menjadi lembut oleh pelajaran yang terukir dalam setiap retakannya. Mereka memandang langit dan bumi dengan penuh kerendahan hati, mengakui kekuasaan dan kebijaksanaan-Nya yang tak terhingga.

Sementara itu, di sudut-sudut yang terlupakan, tumbuhlah kisah-kisah kehidupan baru. Bunga-bunga yang kini bermekaran di tengah reruntuhan adalah lambang harapan dan kehidupan yang tak kenal lelah. Manusia yang selamat membangun kembali komunitas mereka, membentuk jalinan kasih dan saling bantu di tengah puing-puing masa lalu.

Adzab-Nya, bagaikan lembaran hitam dalam sejarah, menjadi catatan pahit dan berharga. Suasana kepanikan telah berubah menjadi suasana penyembuhan dan pemulihan. Namun, dalam setiap doa dan syukur yang terucap, manusia tetap merendahkan diri di hadapan-Nya, menyadari bahwa hidup ini hanyalah pinjaman yang harus dijalani dengan ketaqwaan dan tanggung jawab.

***

Dari lembaran kisah adzab yang melanda, umat selanjutnya dapat menggali pelajaran berharga. Di balik keangkuhan yang membutakan dan kelalaian yang merajalela, tersirat sejumlah hikmah yang bisa menjadi cahaya pencerahan:

  1. Ketaqwaan sebagai Landasan: Adzab-Nya mengajarkan bahwa ketaqwaan harus menjadi fondasi utama dalam menjalani kehidupan. Kesadaran akan ketergantungan kepada Allah, Sang Pencipta, adalah langkah awal untuk menghindari jalan kehancuran.
  2. Kerendahan Hati dan Bertobat: Kehancuran yang melanda menjadi panggilan untuk merendahkan diri di hadapan-Nya. Bertobat dan mencari ampunan menjadi jalan untuk menyembuhkan hati yang telah tergores dosa.
  3. Keadilan dan Keberanian Menegakkan Kebenaran: Adzab-Nya adalah manifestasi keadilan-Nya. Hal ini mengajarkan pentingnya keberanian dalam menegakkan kebenaran dan menolak kezhaliman di tengah-tengah masyarakat.
  4. Harapan dan Pembelajaran dari Kegagalan: Meskipun adzab-Nya datang sebagai teguran, namun di dalamnya terkandung peluang untuk bangkit kembali. Kesalahan masa lalu harus dijadikan sebagai pembelajaran untuk membangun masa depan yang lebih baik.
  5. Solidaritas dan Kebersamaan: Dalam kehancuran, manusia dapat membangun kembali dengan merajut solidaritas dan kebersamaan. Kerjasama dan kasih sayang menjadi fondasi dalam membangun komunitas yang kokoh.

Melalui kisah adzab ini, umat selanjutnya diingatkan bahwa setiap langkah yang diambil dalam hidup memiliki konsekuensi. Hikmah-hikmah ini menjadi pemandu bagi mereka yang mau merenung dan memetik pelajaran berharga dari peristiwa yang melanda kaum ‘Ad.

***

Di padang pasir sunyi bersahaja,

Nabi Hud berdiri, hati tak tergoyahkan.

Dakwahnya bagai melodi gemuruh,

Memanggil jiwa yang terlena oleh kesombongan.

 

Langit memeluk doa dan keluh kesah,

Hud bersujud, merayu kasih Ilahi.

Bait-bait syair terukir indah,

Menyapa hati yang rindu petunjuk yang tulus.

 

Gurun pasir menyaksikan langkah-langkahnya,

Pesan kebenaran dihembuskan angin gurun.

Bagaikan bunga yang mekar di padang tandus,

Hud menyirami kebenaran di setiap hati yang haus.

 

Dalam senyap malam, seruan Hud terdengar,

Mengajak umat kepada jalan kebenaran.

Syairnya melambangkan keindahan doa,

Merangkul cinta yang tulus di bawah langit yang biru.

 

Terlahir dari gurun yang panas dan kering,

Hud menghadap Tuhan dengan hati yang ikhlas.

Bait syairnya meresap di sanubari,

Menggugah jiwa yang tersesat dalam kelam.

 

Oh, Nabi Hud, pembawa pesan Tuhan,

Dalam bait syairmu, kebenaran bersinar terang.

Jiwa yang hancur diberkahi rahmat-Nya,

Gurun yang tandus dihiasi bunga kebenaran.

©2024. Baiturrahman. All Rights Reserved.

Scroll to Top