logo pesantren terbaru pisan

“Pemanfaatan Aloevera Sebagai Makanan Kuliner di Pondok Pesantren Baiturrahman”

Oleh : Aneng Sri Dermakanti,S.Pd.,MM

09 Oktober 2023

Lingkungan SMA Terpadu Baiturrahman yang indah dan asri dengan tanaman dan tersedia tanaman hias lidah buaya (Aloevera) di Pondok Pesantren Baiturrahman Ciparay ini, memungkinkan untuk memanfatkan Aloevera dengan kapasitas banyak. Aloevera yang dimanfaatkannya pun beragam jenisnya, salah satunya adalah sebagai alternatif untuk diolah. Pemanfaatannya pun cukup mudah dan unik  dan sangat banyak manfaat untuk tubuh sehingga harga jualnya pun relatif murah.

Hasil dari pemanfaatan Aloevera, bisa diolah menjadi berbagai jenis olahan yang baik, lezat, disukai banyak orang dan harga jual yang lumayan. Seperti permen jeli, klapertart, dimsum, dan masih banyak lagi menu hidangan favorit berbahan dasar Aloevera.

Dari beragamnya menu hidangan yang bisa dibuat, yang sering kita nikmati hanya beberapa saja seperti minuman segar dan jeli, sedangkan menu hidangan lainnya jarang untuk kita nikmati. Seperti Aloevera Dimsum, karena proses pembuatannya yang relatif lama sehingga membuat orang memilih hidangan yang bisa cepat untuk disantap atau mengonsumsi makanan instan.

Menurut sejarahnya, Aloevera Batang Lidah Buaya (Aloevera) telah dipergunakan untuk banyak keperluan selama berabad-abad. Kurang lebih 4000 tahun yang lalu sampai sekarang Batang Lidah Buaya ( aloevera ) sangat dikenal khasiatnya karena pada pelepahnya terdapat berbagai macam kandungan nutrisi. Batang Lidah Buaya ( aloevera ) diduga berasal dari kepulauan Canary di sebelah barat Afrika. Telah dikenal sebagai obat dan kosmetika sejak berabad-abad silam. Hal ini tercatat dalam Egyptian Book of Remedies. Di dalam buku tersebut diceritakan bahwa pada zaman Cleopatra, Batang Lidah Buaya (aloevera) dimanfaatkan untuk bahan komestika dan pelembab kulit. Orang Yunani pada awal tahun 333 SM telah mengidentifikasi bahwa Batang Lidah Buaya (aloevera) sebagai tanaman penyembuh segala penyakit. Menurut Dowling (1985), hanya 3 jenis Batang Lidah Buaya (Aloevera) yang dibudidayakan secara komersil di dunia, yakni: Curacao Aloe (Aloe barbadensis Miller), Cape aloe (Aloe ferox Miller), dan Socotrine (Aloe perryl baker). Dari ketiga jenis tersebut yang banyak dimanfaatkan adalah species Aloe Barbadensis Miller yang ditemukan oleh Philip Miller. Sedangkan jenis yang banyak dikembangkan di Indonesia adalah Aloe Chinensis Baker, yang berasal dari China, tetapi bukan tanaman asli China. Jenis ini di Indonesia sudah ditanam di Kalimantan Barat dan lebih dikenal dengan nama Batang Lidah Buaya (Aloevera) Pontianak, yang dideskripsikan oleh Baker pada tahun 1877. Ciri-ciri tanaman ini adalah bunga berwarna oranye, pelepah berwarna hijau muda, pelepah bagian atas agak cekung dan mempunyai totol putih di pelepahnya ketika tanaman masih muda.

Pada tahun 1980 tanaman Batang Lidah Buaya (Aloevera) di Pontianak khususnya di Siantan Hulu, telah dikembangkan dan dibudidayakan. Pada saat itu sebagian masih ditanam dalam pot dan sebagian telah ditanam di kebun bercampur dengan tanaman papaya dan sayuran (belum dibudidayakan secara khusus). Pada tahun 1990, Batang Lidah Buaya (Aloevera) sedikit demi sedikit mulai dibudidayakan, tidak lagi ditanam bercampur dengan tanaman papaya atau sayuran, namun mulai ditanam pada lahan khusus. Kemudian pada tahun 1992, Batang Lidah Buaya (aloevera) mulai dikenalkan kepada masyarakat luas.

Pelepah Batang Lidah Buaya (Aloevera) baru dimanfaatkan oleh beberapa orang untuk diolah menjadi minuman segar Batang Lidah Buaya (Aloevera) yang dijual di warung-warung yang ada di pinggiran jalan (jalan Budi Utomo). Sehingga pada saat itu baru masyarakat Pontianak Utara (Siantan Hulu) saja yang dapat menerima produk hasil olahan yang bahan bakunya diambil dari daging pelepah Batang Lidah Buaya (Aloevera) tersebut (belum dikenal masyarakat luas). Seiring perjalanan waktu, produk Batang Lidah Buaya (Aloevera) mulai banyak dikembangkan menjadi berbagai produk olahan mulai dari minuman, dodol, jelly, kerupuk, dll. Keterlibatan instansi pemerintah terkait dan Industri Kecil Menengah yang pada akhirnya menjadikan Batang Lidah Buaya (Aloevera) Pontianak menjadi “ikon” Kota Pontianak. Dalam karakteristik Batang Lidah Buaya (Aloevera) termasuk suku Liliaceae. Liliaceae diperkirakan meliputi 4.000 jenis tumbuhan, terbagi dalam 240 marga dan dikelompokkan lagi menjadi lebih kurang 12 anak suku. Daerah distribusinya meliputi seluruh dunia. Batang Lidah Buaya (Aloevera) sendiri mempunyai lebih dari 250 jenis tanaman.

Bosan dengan makanan yang biasa ia nikmati, munculah ide untuk membuat makanan baru dari tanaman Lidah Buaya ini, di rumahnya hingga inovasinya bisa membuat tahu. Namun seiringnya zaman ilmuan pun dapat membuktikan dengan data yang lebih rinci tentang komposisinya.

Dari penelitian Aloevera banyak juga kandungan yang bisa lebih di manfaatkan.

Harga bahan dasar ini tentu tergolong murah jika diolah menjadi aneka makanan lezat yang menarget pasar khusus. Selain makanan, Aloevera juga bisa jadi bisnis yang menggiurkan jika diolah yang memiliki kualitas bagus, jadi bisa didapat dengan harga yang lebih murah.       

Selain menguntungkan, bisnis olahan Aloevera juga ikut membantu  lingkungan. Adapun pemanfaatan Aloevera yang digunakan menjadi makanan sehat, bergizi, enak, dan murah. Maka peneliti mencoba membuat makanan yang siap disajikan dengan inovasi yang tepat untuk di konsumsi oleh kaum zilenial. Untuk itu peneliti membuat beberapa penelitian di kelas X SMA Terpadu Baiturrahman  sajian yang terpilih yaitu Dimsum sebagai makanan khas Jepang, Klapertart, Dorayaki yang berbahan Aloevera.

Penelitian ini menggunakan Desain Penelitian dan Pengembangan (Research and Development) dengan menggunakan model ADDIE (Analyze, Design, Development, Implement, and Evaluate). Hasil kegiatan utama adalah menganalisis perlunya pengembangan kelayakan dan syarat-syarat metode pembelajaran baru.

Pada tahapan ini dimulai dengan tahapan menganalisis pendekatan pembelajaran yang akan digunakan dan topik yang akan dipilih adalah pengembangan minat bakat yang menitikberatkan pada kegiatan menghasilkan suatu produk melalui serangkaian tahapan yang memerlukan penerapan suatu konsep dan teknologi.

Pemanfaatan Aloevera untuk Meningkatkan Nilai Ekonomi dan Keterampilan Kewirausahaan di SMA Terpadu Baiturrahman. Menjadikan salah satu acuan untuk pembuatan Kuliner yang berbahan dasar Aloevera.

Berdasarkan penelitian yang penulis lakukan, bahwa Aloevera Kuliner menjadi inovasi produk untuk pengolahan hasil pemanfaatan Aloevera yang ada di sekitar Baiturrahman, tentunya dengan pengolahan yang tepat.

Nyatanya makanan berbahan dasar Aloevera banyak diminati oleh konsumen, dikarenakan lezat, murah, enak. Dan aman untuk dikonsumsi.

 

 

Wallahu’alam bimusawab.

©2023. Baiturrahman. All Rights Reserved.

Scroll to Top