logo pesantren terbaru pisan

Muslimah Berperan, Bukan Baperan

“Membawa Kelembutan dalam Kekuatan"

Oleh : Ustzh. Nurseni Yulianti

16 Januari 2024

Selamat datang, sahabat Muslimah! Sering kali, istilah “Baperan” menjadi trending di dunia digital, namun bagi kita, Muslimah, kita punya misi lebih besar: berperan, bukan baperan! Mari kita sambut dengan keceriaan dan semangat untuk mengeksplor peran yang lebih bermakna dalam keseharian kita.

  1. Kelembutan sebagai Kekuatan

Banyak yang menganggap kelembutan sebagai kelemahan. Padahal, seorang Muslimah tahu betul bahwa kelembutan hati bukanlah tanda kelemahan, melainkan kekuatan yang mampu menyentuh hati orang lain.

Bagi seorang Muslimah, kelembutan dianggap sebagai kekuatan yang sejati. Terkadang, dunia mungkin mengartikan kelembutan sebagai kelemahan, tetapi dalam pandangan seorang Muslimah, memiliki hati yang lembut adalah kekuatan besar. Kelembutan memungkinkannya mendekati orang dengan penuh kehangatan, membuatnya dapat meresapi perasaan orang lain, dan memberikan dukungan yang mendalam. Kekuatan yang sejati terpancar dari kemampuannya untuk tetap tenang dan sabar dalam menghadapi segala rintangan.

  1. Pemimpin dengan Kesan Damai

Bagi Muslimah, berperan tak selalu berarti bersuara lantang. Dalam kelembutannya, ia menjadi pemimpin yang memberikan kesan damai, membawa ketenangan di tengah keramaian.

Sebagai pemimpin, seorang Muslimah tidak perlu bersuara lantang untuk menunjukkan keberaniannya. Kesan damai yang ia bawa membuatnya dihormati dan diikuti tanpa harus menggunakan kekerasan atau kata-kata kasar. Ketenangannya menciptakan lingkungan yang harmonis dan memberikan dorongan positif kepada yang lain.

  1. Kebaikan dalam Kecerdasan

Mengapa harus baperan jika bisa menjadi berperan dengan kecerdasan? Muslimah memahami bahwa kebaikan hati dan kecerdasan bukanlah pilihan, melainkan kewajiban.

Muslimah memahami bahwa kebaikan hati dan kecerdasan tidaklah saling bertentangan. Kecerdasan mereka tercermin dalam tindakan positif yang dilakukan dengan niat tulus. Mereka menggunakan kecerdasan mereka untuk memahami situasi dengan bijaksana, mencari solusi terbaik, dan membawa perubahan yang positif. Kesempurnaan karakter bukan hanya terletak pada pengetahuan intelektual, tetapi juga dalam kebijaksanaan menjalankan kehidupan sehari-hari dengan penuh kebaikan dan akhlak yang mulia.

  1. Menyemai Cinta dalam Keterlibatan

Berperan sebagai Muslimah bukan hanya tentang penampilan fisik, tapi juga tentang keterlibatan yang tulus. Menyemai cinta, baik kepada sesama maupun diri sendiri, adalah bagian dari peran kita yang istimewa.

Berperan sebagai Muslimah tidak hanya tentang penampilan fisik atau pengetahuan, tetapi juga melibatkan hati secara tulus. Mereka menyadari bahwa keterlibatan yang sungguh-sungguh memerlukan kehadiran hati dan cinta yang mendalam. Dalam setiap tindakan dan perkataannya, seorang Muslimah berusaha menyemai cinta, baik kepada sesama manusia maupun kepada dirinya sendiri. Keterlibatan yang penuh cinta menjadi pangkal untuk membina hubungan yang sehat dan harmonis.

  1. Gaya Santai dalam Kedisiplinan

Bukan berarti santai dalam mengabaikan kedisiplinan. Seorang Muslimah dapat menjalankan tugasnya dengan disiplin, tapi tetap memancarkan kehangatan yang membuat orang di sekitarnya merasa nyaman.

Sebagai Muslimah, kedisiplinan tidak selalu identik dengan ketegangan atau keteguhan yang kaku. Mereka mengadopsi gaya santai dalam menjalankan kedisiplinan, artinya mereka dapat mengatur diri dan menjalankan tugas dengan tanggung jawab tanpa harus kehilangan kelembutan hati. Gaya santai dalam kedisiplinan mencerminkan pendekatan yang seimbang antara tugas dan kebijakan, tanpa menimbulkan kecemasan atau ketegangan yang tidak perlu. Hal ini memungkinkan mereka menjalani kehidupan dengan lebih tenang dan penuh kebahagiaan.

  1. Bukan Kompetisi, tapi Kolaborasi

Mengapa bersaing jika bisa berkolaborasi? Muslimah paham bahwa keseimbangan dan kerjasama membawa hasil yang lebih baik daripada persaingan yang tidak sehat.

Seorang Muslimah menganggap kehidupan bukanlah arena persaingan tanpa henti, melainkan panggung kolaborasi. Mereka memahami bahwa bersaing terlalu keras hanya akan menimbulkan ketegangan dan persaingan yang tidak sehat. Oleh karena itu, mereka memilih untuk berkolaborasi dengan orang-orang di sekitarnya. Kolaborasi membawa manfaat yang lebih besar, memungkinkan setiap individu untuk berkembang bersama dan mencapai tujuan bersama tanpa perlu mengorbankan kerukunan.

  1. Seni Berbicara dengan Hati

Berbicara bukan hanya tentang kata-kata, tapi juga tentang sentuhan hati. Seorang Muslimah berperan dengan seni berbicara yang mengena, tanpa meninggalkan kesan yang melukai.

Berbicara sebagai seorang Muslimah bukan hanya tentang merangkai kata-kata yang bijak, tetapi juga tentang menyampaikan pesan dengan hati. Mereka mengerti bahwa kelembutan suara dan pilihan kata yang tepat dapat memiliki dampak besar. Seni berbicara dengan hati membuat setiap kata terucap dengan kebaikan dan kehangatan, menciptakan dialog yang positif dan memberikan inspirasi kepada yang mendengarkan. Dalam seni ini, mereka dapat menyentuh hati dan menciptakan hubungan yang lebih dalam dengan orang lain.

  1. Keberanian dalam Kehormatan

Berperan dengan keberanian bukan berarti harus bersikap keras. Muslimah tahu bahwa keberanian terletak dalam menjaga kehormatan dan prinsip, tanpa kehilangan kelembutan hati.

Muslimah memahami bahwa keberanian bukanlah tentang bersikap keras atau menunjukkan kekuatan fisik semata. Sebaliknya, keberanian terletak pada kemampuan untuk menjaga kehormatan dan prinsip, bahkan dalam situasi yang sulit. Mereka memilih jalan yang benar meskipun mungkin terasa sulit, karena keberanian sejati adalah tetap setia pada nilai-nilai yang diyakini.

  1. Menginspirasi dengan Ketenangan

Dalam kesibukannya, seorang Muslimah berperan dengan ketenangan. Ketenangan hati ini menjadi sumber inspirasi bagi orang di sekitarnya.

Sebagai individu yang berperan, Muslimah tidak selalu berbicara dengan keras atau heboh. Mereka dapat menginspirasi orang di sekitarnya dengan ketenangan yang mereka bawa. Ketenangan ini memberikan contoh bahwa keberlanjutan dan ketenangan dapat menjadi sumber kekuatan. Orang-orang di sekitarnya dapat merasa terinspirasi untuk meniru ketenangan tersebut dan menghadapi kehidupan dengan lebih lapang dada.

  1. Berperan sebagai Pejuang Damai

Terakhir, seorang Muslimah berperan sebagai pejuang damai. Ia tahu bahwa perjuangan bukan selalu dengan kata-kata keras, melainkan dengan kelembutan yang mampu mengubah dunia.

Muslimah memilih untuk berperan sebagai pejuang damai. Mereka memahami bahwa untuk mencapai perubahan positif, tidak perlu melibatkan kekerasan atau konflik. Sebaliknya, dengan kelembutan hati dan kearifan, mereka berusaha menjalani perjuangan yang menghasilkan kedamaian. Berperan sebagai pejuang damai membuka jalan untuk pemahaman, harmoni, dan penyelesaian masalah tanpa merugikan pihak lain. Ini adalah cara mereka memberikan kontribusi positif kepada masyarakat.

Kesimpulan,

Jadi, mari kita lepaskan segala beban baperan dan angkat kepala dengan bangga. Sebagai Muslimah, kita berperan bukan hanya dalam keseharian kita, tapi juga dalam menciptakan kebaikan di dunia ini. Selamat berperan, sahabat! 🌸

والله أعلمُ بالـصـواب

©2024. Baiturrahman. All Rights Reserved.

Scroll to Top