logo pesantren terbaru pisan

Menjadi Pemenang Di Zaman Fitnah

Oleh: Sukarmo, S.T., M.Pd.

11 Oktober 2023

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا من يهد الله فلا مضل له ومن يضلل فلاا هادي له, وأشهد أن لا اله إلا الله وحده لا شريك له, وأشهد أن محمد عبده ورسوله. أما بعد

Fitnah secara bahasa adalah membentangkan di atas api dan membersihkan segala kotoran yang menyertai. Ketika dikatakan Aku memfitnah emas artinya membakar emas agar terpisah dari kotoran-kotorannya sehingga lahirlah emas murni yang berkilauan. Gambaran tersebut digambarkan oleh Syekh Abu Ubaidah Masyhur bin hasan as salmani. Kemudian dalam kitab maqayis lughoh, fitnah artinya adalah syaithon. Syaithon itu sendiri berasal dari kata sathona yang artinya menjauhkan.

Berdasarkan penjelasan tersebut dapat diambil gambaran bahwa yang perama fitnah adalah proses pembersihan, proses penyeleksian sesuatu yang berkilaua karena bercampur dengan kotoran-kotoran. Jika tidak dibersihkan maka benda yang berkilauan tersebut tidak akan terlihat. Ketika terjadi proses pembersihan atau pemisahan dari kotoran-kotorannya maka benda tersebut dibakar dalam api yang panas. Tentu saja ini menggambarkan proses yang sangat menyakitkan yang jika tidak tahan maka tidak akan lahir sesuatu yang berkilauan. Emas pada awalnya bercampur dengan tanah, bercampur dengan krikil, bebatuan dan yang lainnya. Ketika bercampur dengan benda-benda tersebut hanya sedikit sekali terlihat kilauannya. Tetapi ketika sudah bersih dari kotoran-kotorannya maka kilauan tersebut terlihat dengan jelas sehingga harga dari emas sangat mahal. Atau mungkin berlian juga sama. Ketika membuat berlian yang sangat mahal, maka prosesnya juga panjang dan bagi berlian sangat menyakitkan seperti dibakar, digerinda dan lain-lain. Namun proses-proses tersebut harus dijalani agar menghasilkan berlian yang berkualitas yang harganya sangat mahal.

Zaman fitnah ditandai dengan bertebarannya kebodohan, ikhtilaf atau perpecahan dan peperangan. Rasulullah mengatakan,

إنه من يعش منكم فسيرى اختلافا كثيرا

Sesungguhnya barangsiapa yang hidup setelahku maka akan melihat perbedaan yang sangat banyak. Fitnah itu diawali dengan ikhtilaf. Mengapa terjadi ikhtilaf karena sediitnya ilmu yang dimiliki. Penafsiran ayat-ayat Allah hanya berdasarkan logika manusia di zamannya sehingga terjadi pertentangan antara satu dengan yang lainnya. Hal ini karena para ulama sudah dipanggil oleh Allah subhanahu wa ta’ala sehingga yang tersisa adalah orang-orang bodoh. Di sekelilingnya tidak ada orang alim sehingga akhirnya yang diangkat adalah orang-orang bodoh untuk menjadi pimpinan. Ketika pimpinan tersebut ditanya maka akan memberikan jawaban dengan pendapatnya sendiri, tanpa ilmu yang melandasinya sehingga sang pimpinan tersebut menyesatkan dirinya sendiri yang yang paling bahaya adalah menyesatkan banyak orang. Tentu saja kondisi seperti itu sangat menakutkan. Kita secara tidak sadar akan terseret kepada jalan yang tidak sesuai dengan cahaya yang sudah diturunkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Kebodohan adalah malapetaka. Melalui kebodohanlah Syaithon laknatullah masuk ke dalam jiwa manusia. Imam Ibnul Jauzi mengatakan dalam kitab beliau Talbis Iblis,

اعلم أن الباب الأعظم الذى يدخل منه إبليس على الناس هو الجهل. فهو يدخل منه على الجهال بأمن

Ketahuilah bahwa sesungguhnya pintu masuk yang paling besar yang mana iblis masuk melaluinya kepada manusia adalah pintu kebodohan, maka ia (Iblis) masuk kepada orang-orang bodoh dengan leluasa.

Jadi kebodohan adalah suatu malapetaka yang akan menyeret si empunya ke dalam jebakan syaithon tanpa dia sadari. Terkadang yang terkena jebakan Iblis merasa dirinya berada dalam kebenaran. Coba kita perhatikan firman Allah dalam surat Al Kahfi ayat 103

Katakanlah (Muhammad), “Apakah perlu Kami beritahukan kepadamu tentang orang yang paling rugi perbuatannya?”

(Yaitu) orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka mengira telah berbuat sebaik-baiknya.

Mereka bertindak, berperilaku sesuai dengan prasangka hawa nafsunya, bukan berdasarkan pada penjelasan (burhan) yang gamblang sesuai dengan kaidah ilmu. Kalau seandainya pun mereka benar, itu hanya kebetulan saja. Itu akibat dari kebodohan yang ada dalam diri dan terus dipelihara tanpa mau membuka diri terhadap ilmu padahal, Islam adalah agama Ilmu. Allah sangat melarang kita untuk mengikuti sesuatu yang tidak ada ilmunya. Ketiadaan ilmu menyebabkan kebodohan dan kebodohan itu menyebabkan terjadinya ikhtilaf karena manusia hanya berpedoman pada otaknya saja yang akhirnya ikhtilaf tersebut akan menghasilkan fitnah. Jadi sumber fitnah adalah kebodohan yang merajalela. Kebodohan yang tersebar merata. Mengapa kebodohan tersebar? Jawabannya adalah keengganan untuk mencari ilmu, keengganan untuk mulazamah dengan para masyaikh sehingga ilmunya dangkal. Mungkin saja hafal quran, tapi Al Quran yang dibaca tersebut tidak difahami dengan benar.  Al Quran yang dibara tidak tahu makna yang sebenarnya. Tidak tahu maksud Allah tentang ayat tersebut sehingga karena ketidaktahuan maka akan berbicara sekena nya terhadap ayat suci Al Quran dan ini adalah dosa yang terbesar. Ibnul Qoyim Al Jauziyah menjelaskan dalam kitab beliau Madarijus salikin tentang ayat al A’raf ayat 33 yang berbunyi:

Katakanlah (Muhammad), “Tuhanku hanya mengharamkan segala perbuatan keji yang terlihat dan yang tersembunyi, perbuatan dosa, perbuatan zalim tanpa alasan yang benar, dan (mengharamkan) kamu mempersekutukan Allah dengan sesuatu, sedangkan Dia tidak menurunkan alasan untuk itu, dan (mengharamkan) kamu membicarakan tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui.”

Beliau membagi ayat ini menjadi beberapa yaitu:

قل إنما حرم ربى الفواحش ما ظهر منها وما بطن

Katakanlah (Muhammad) Tuhanku hanya mengharamkan segala perbuatan keji yang terlihat dan yang tersembunyi.

Itu adalah dosa yang pertama yang disebutkan dalam ayat tersebut. Kemudian ada dosa yang lebih besar dari itu, yaitu:

والإثم و البغي بغير الحق

Perbuatan dosa dan perbuatan dzolim tanpa alasan yang benar. Itu adalah tingkatan dosa kedua yang paling besar. Namun ada tingkatan dosa yang lebih besar lagi yaitu:

وأن تشركوا بالله ما لم ينزل به سلطانا

Dan kamu mensekutukan Allah dengan sesuatu sedangkan Dia tidak menurunkan alasan untuk itu. Itu adalah tingkatan dosa yang lebih besar. Namun ada yang paling besar diantara dosa-dosa itu yaitu:

وأن تقولوا على الله ما لا تعلمون

Dan kamu mengatakan sesuatu atas nama Allah apa yang kamu tidak mengetahuinya.

Artinya kamu mengatakan sesuatu tentang Allah subhanahu wa ta’ala sedangkan kamu tidak memiliki ilmu tentang itu.. Ibnul Qoyim menyatakan bahwa tidak ada jenis yang diharamkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala selain itu, tidak ada doa yang paling besar kecuali doa berkata tanpa ilmu. Beliau mengatakan bahwa dosa tersebut adalah sumber dari kesyirikan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan ini menjadi fondasi dari bid’ah yang sesat. Semua kebid’ahan bersumber dari perkataan tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan.

Ketika kita mengatakan sesuatu tentang Allah subhanahu wa ta’ala, ketika kita menterjemahkan AL Quran tanpa ilmu kita bisa terjerumus terhadap orang-orang yang membuat kebohongan terhadap Allah subhanahu wa ta’ala dan kebohongan terhadap Allah subhanahu wa ta’ala adalah kedzoliman yang paling besar sebagaimana Allah sebutkan dalam Q.S Al An’am ayat 93.

Dan siapakah yang lebih dzolim daripada orang-orang yang membuat buat atas nama Allah atau mengatakan telah diwahyukan kepadaku, padahal tidak diwahyukan sedikitpun kepadanya.

Jadi kebohongan terhadap Allah adalah dosa yang paling besar. Dasar kebohongan tersebut karena ia tidak tahu bahwa itu adalah bohong karena tidak mengetahui tentang ilmunya.

Berdasarkan gambaran tersebut maka ilmu adalah suatu yang sangat penting untuk dipelajari oleh kita sebagai kaum muslimin agar kita terhindar dari fitnah dan agar kita menjadi pemenang dalam zaman fitnah ini. Sebagaimana telah penulis sebutkan pada awal tadi bahwa kita harus menjadi emasa di tengah kerikil-kerikil yang ada dengan cara kita siap untuk berkorban, menyiapkan mental kita untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat.

Sayidina Ali dalam kitab Tarikh AL Khulafa karya Imam Asy Syuyuthi mengatakan ketika menasihati putra beliau, Hasan radhiallahu anhuma:

يا بني إن أغنى الغنى العقل, و اكبر الفقر الحمق

Wahai anakku, sesungguhnya kekayaan yang paling berharga adalah akal dan kefakiran yang paling berat adalah kebodohan.

Tentu pesan tersebut adalah pesan yang sangat berharga bagi putra beliau, juga bagi kita semua. Kita yang hidup di zaman fitnah ini diingatkan akan perkataan Sayidina Ali radhiallahu anhu tersebut agar kita tidak menjadi orang bodoh yang dapat dipermainkan oleh Syaithon laknatullah dan kita tidak akan bisa berperan banyak dalam kehidupan ini sedangkan kita memiliki tanggung jawab yang besar untuk mencelup dunia ini agar sinar Al Islam tersebar ke berbagai penjuru dunia. Kebodohan tidak boleh hadir dalam diri kita dan juga anak-anak keturunan kita. Mereka harus menjadi generasi yang terbaik di zaman fitnah ini. Bagaimana agar kita menjadi orang yang berkualitas? Tentunya kita harus bersama-sama dengan guru yang berkualitas. Sayidina Ali juga menasihati sayidina Hasan dengan pesan,

إياك ومصاحبة الاحمق

 Artinya bahwa kita harus bergaul, mengambil ilmu dari orang-orang yang sudah terbukti memiliki ilmu yang tinggi, bukan orang-orang biasa yang tidak memiliki ilmu dan tidak jelas keilmuannya. Sir Ishak Newton mengatakan I stand on the giant shoulder, saya berdiri di pundak para raksasa. Artinya Newton bisa sepintar itu karena dididik oleh orang-orang yang sangat luar biasa yang dia istilahkan dengan raksasa. Tidak mungkin seseorang menjadi sangat luar biasa tanpa dididik oleh orang yang sangat luar biasa. Para ulama kita adalah orang-orang yang sangat luar biasa karena mereka berkhidmat terhadap orang yang sangat luar biasa keilmuan dan kepribadiannya. Kegiatan pembimbingan oleh orang yang sangat ahli sangat dibutuhkan untuk mencetak generasi terbaik. Kita jangan terjebak dengan konsep pendidikan yang menelantarkan anak-anak didik dengan konsep inquiry, discovery tanpa pembimbingan yang yang intens karena itu akan menghasilkan kegagalan. Hal ini dikemukakan oleh tiga orang peneliti yaitu John Sweller, Paul A. Krischner,  dan Richard E. Clark dengan judul penelitian yaitu why minimal guidance during instruction does not work: An Analysis of the failure of constructivist, discovery, problem based, experiential, and inquiry based teaching. Artikel tersebut berbicara tentang kegagalan pendidikan tanpa pembimbingan yang optimal dari seorang pembimbing atau seorang guru. Bukan keberhasilan yang didapat, tetapi kegagagalan. Tentu kita tidak berharap generasi mendatang adalah generasi yang lemah ilmu, lemah akal sehingga pendidikan menjadi penopang utama untuk mencetak generasi terbaik bukankah Muhammad Nur bin Abdul Hafizh suwaid mengemukakan dalam kitab beliau yang berjudul at tarbiyatun nubuwah li lath thifl, salah satu makna tarbiyah adalah

نشأ وترعرع

Mendidik, tumbuh dan terus tumbuh.

Melalui pendidikan kita menumbuhkan anak-anak generasi mendatang. Mengarahkan mereka untuk memiliki kepribadian mulia, kecerdasan yang luar biasa agar bisa menata dunia, memberikan kontribusi untuk baiknya tatanan masyarakat.

Dengan anak-anak yang cerdas dan berkepribadian maka Negara akan menjadi kuat, bangsa menjadi beradab.

Sebagai kesimpulan dari paparan penulis adalah agar terhindar dan menjadi pemenang di zaman fitnah adalah dengan semangat terus mempelajari ilmu sehingga kita terhindar dari kebodohan yang merebak di zaman fitnah ini. Semoga Allah memberikan taufiq kepada kita semua. Aamiin.

Refferensi:

  1. Manhaj salaf fii ta’amuli ma’al fitan karya Syekh Abu Ubaidah masyhur bin Hasan As salmani
  2. Tarikh Al khulafa karya Imam Asy syuyuthi
  3. Madarijus salikin karya Imam Ibnul Qoyim Al jauziyah
  4. Talbis Iblis karya Imam Al Jauzi
  5. Manhaj Tarbiyah an Nabawiyah lil ath thifl karya Syekh Muhamad Nur bin Abdul hafizh suwaid

©2023. Baiturrahman. All Rights Reserved.

Scroll to Top