logo pesantren terbaru pisan

Mengarungi Langit Pikiran

“Karya dan Pemikiran Nabi Idris”

Oleh : Ust. Achmad Fahrisi, S.Pd.

12 Maret 2024

وَاذْكُرْ فِى الْكِتٰبِ اِدْرِيْسَۖ اِنَّهٗ كَانَ صِدِّيْقًا نَّبِيًّا ۙ

وَّرَفَعْنٰهُ مَكَانًا عَلِيًّا

“Ceritakanlah (Nabi Muhammad kisah) Idris di dalam Kitab (Al-Qur’an). Sesungguhnya dia adalah orang yang sangat benar dan membenarkan lagi seorang nabi.”

“Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi.”

***

Di zaman yang penuh kegelapan, di antara gemerlap bintang-bintang malam, terdapat seorang nabi yang dipilih oleh Sang Pencipta untuk membawa cahaya ilmu dan kebijaksanaan kepada umat-Nya. Nama baginda adalah Idris, seorang yang bijak dan penuh kehormatan, yang mendapatkan inspirasi dari langit-langit tinggi.

Idris, dalam kedamaian malam dan kedalaman pikirannya, menyelami makna kehidupan dan merenungkan rahasia alam semesta. Di bawah cakrawala luas yang membentang, ia menyepakati bahwa ilmu pengetahuan adalah sinar suci yang membimbing langkah-langkah manusia dalam kegelapan kesesatan.

Bermula dari langit yang tinggi, malaikat-malaikat turun membawa wahyu kepada Idris. Dengan keheningan malam sebagai saksi, Idris menerima kebijaksanaan dan ilmu pengetahuan yang diilhamkan. Bukan hanya tentang dunia, tetapi juga tentang makna hakiki kehidupan dan hubungan manusia dengan Sang Pencipta.

Nabi Idris, di antara gemerlap bintang-bintang, menyalakan obor pengetahuan yang akan membakar kegelapan dalam jiwa manusia. Wahyu-wahyu yang diucapkan melalui bibirnya seperti melodi yang lembut, merangkul hati-hati yang haus akan petunjuk.

Dengan pena yang ringan namun penuh makna, Idris mencatat wahyu-wahyu ilahi yang diterimanya. Lembaran-lembaran tulisannya menjadi buku-buku suci yang menghias lembaran sejarah dan kearifan. Setiap hurufnya, setiap kata yang ia tulis, merupakan cahaya yang menerangi jalan kebenaran.

Penciptaan Idris adalah kisah kebesaran yang menggetarkan. Dalam pengetahuan dan hikmahnya, Idris tidak hanya menjadi pencerah bagi umatnya tetapi juga sumber inspirasi bagi generasi-generasi yang akan datang. Jiwanya seperti pelaut yang menjelajahi lautan ilmu, dan keberadaannya seperti fajar yang menyingsing, membawa terang bagi jiwa-jiwa yang terombang-ambing dalam gelapnya dunia.

Ketika Idris melangkah melintasi bumi, langit dan laut memberikan sambutan yang luar biasa. Alam semesta bersaksi akan kebesaran dan kebijaksanaan sang nabi. Ia adalah bukti hidup bahwa ilmu pengetahuan adalah anugerah Ilahi yang mengangkat derajat manusia.

Dengan penuh kasih dan penuh kebijaksanaan, Idris melangkah di bumi ini. Setiap langkahnya adalah jejak kebijaksanaan, dan setiap kata yang diucapkannya adalah sinar kebenaran. Penciptaan Nabi Idris tidak hanya membangkitkan semangat pencarian ilmu, tetapi juga memancarkan keindahan yang abadi dalam sejarah perjalanan manusia mencari makna hidup.

Idris, sang pencipta harfiah dan rohaniah, membawa buah pemikirannya ke pelukan masyarakat yang tengah gelap oleh kebodohan dan kebingungan. Dalam perjalanannya, beliau tidak hanya menjadi guru bagi para pengikutnya tetapi juga teman bagi orang-orang yang haus akan pengetahuan.

Namun, seperti setiap nabi yang memimpin revolusi ilmu, Idris tidak luput dari ujian dan cobaan. Keberaniannya dalam menyuarakan kebenaran membuatnya dihadapkan pada tantangan besar. Pemimpin yang sombong dan para elit yang ketakutan mencoba menghalangi langkah-langkah Idris yang penuh kebenaran.

Namun, dengan keteguhan hati dan keyakinan yang tak tergoyahkan, Idris mengejar visinya untuk menyebarkan ilmu pengetahuan. Di tengah tekanan dan ancaman, suaranya semakin nyaring, dan pesan-pesannya semakin tajam seperti pedang yang menyembelih kebodohan.

Idris mengajar bahwa pengetahuan adalah jembatan menuju kebijaksanaan, dan kebijaksanaan adalah kunci untuk memahami rencana Sang Pencipta. Beliau mengukir pelajaran berharga pada hati manusia, mengajarkan bahwa melalui ilmu pengetahuan, kita bisa mendekati kehendak-Nya dan memahami makna sejati kehidupan.

Ketika akhir hayatnya menjelang, Idris meninggalkan warisan yang tak ternilai. Buku-buku suci yang dihasilkannya menjadi terang bagi generasi-generasi yang akan datang. Meski tubuhnya mungkin telah lenyap dari pandangan manusia, tetapi ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan yang beliau wariskan tetap hidup, menyala seperti bintang di langit malam.

Nabi Idris, dalam segala keindahan penciptaannya, menginspirasi setiap jiwa yang mencari makna. Karyanya bukan hanya kisah masa lalu tetapi juga peta jalan untuk masa depan. Sepanjang sejarah, nama Idris tetap bersinar di langit ilmu pengetahuan, menjadi pilar kebijaksanaan yang menerangi setiap sudut dunia.

Sehingga, di antara gemerlap bintang-bintang malam, nama Idris tetap menggema dalam doa-doa orang yang merindukan petunjuk. Kisah penciptaannya adalah sinar yang tak pernah pudar, sebuah peringatan abadi akan keindahan ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan yang menjadi harta terbesar manusia.

Dan setiap kali angin malam melantunkan lagu lembutnya dan bintang-bintang bertengger di langit, cerita Idris berkisah di antara gemerlap galaksi. Dalam kerinduan akan kebijaksanaan, orang-orang mencari inspirasi dalam kata-kata dan ajaran yang ditinggalkan oleh sang nabi penulis.

Melalui pusaran waktu dan kehidupan, buah pikiran Idris terus tumbuh seperti pohon yang teguh dan berakar dalam kebenaran. Generasi demi generasi, umat manusia meraih cahaya yang dipancarkan oleh karya-karya agungnya. Buku-buku yang ditulisnya menjadi sumber kekuatan bagi yang lemah, petunjuk bagi yang tersesat, dan oase bagi yang haus akan makna.

Seolah-olah suaranya masih bergema melintasi lembah-lembah sejarah, mengingatkan manusia akan keindahan pengetahuan. Seperti matahari yang terbit setiap pagi, ajarannya menghangatkan hati dan menyinari jalur kehidupan. Nabi Idris, penerang ilmu, tetap hidup dalam kalbu setiap pencari kebenaran.

Tak hanya itu, tetapi setiap kali pandangan melihat langit yang tak terbatas, orang-orang teringat pada Idris. Melalui kisahnya, manusia belajar bahwa langit bukan hanya atap dunia, tetapi juga pintu gerbang menuju pemahaman yang lebih dalam. Idris mengajarkan bahwa pengetahuan adalah kekuatan yang membebaskan, dan kebijaksanaan adalah mahkota bagi mereka yang bersungguh-sungguh mencarinya.

Dalam kemeriahan alam semesta, Idris menjadi bintang yang tak pernah padam, membimbing pelayarnya dalam lautan kegelapan. Penciptaan nabi ini adalah simbol keabadian dan kebijaksanaan, suatu cahaya yang terus bersinar hingga akhir zaman.

Sehingga, setiap kali hati manusia merasa terhimpit oleh kebodohan, mereka dapat menoleh ke arah bintang-bintang dan mencari inspirasi dalam kisah penciptaan nabi Idris. Di antara galaksi-galaksi yang tak terhitung, namanya tetap menggema, mengingatkan bahwa setiap langkah dalam pencarian ilmu adalah sebuah perjalanan menuju cahaya kebijaksanaan yang abadi.

Dalam keheningan malam yang berdiam diri, di tengah kebisuan waktu yang mengalir, kisah Idris menjadi riwayat yang terukir dalam alam bintang. Nabi yang tak henti menulis pada lembaran langit, menuliskan kebijaksanaan dalam huruf-huruf cahaya yang tak terlihat oleh mata manusia.

Buku-buku yang Idris tulis bukan hanya sekadar kumpulan kata, melainkan jendela menuju dimensi yang lebih tinggi. Setiap kalimatnya menggambarkan keindahan pikiran yang menjelajah semesta, menyentuh sisi-sisi alam yang jarang terjamah oleh pemikiran manusia biasa.

Penciptaan Idris menciptakan pengertian baru tentang kehidupan. Ia seperti pelayan yang setia membawa pesan Sang Pencipta kepada makhluk-Nya yang mencari jawaban. Dalam kebersamaan dengan malam, ia menapaki langkah-langkahnya dengan keteguhan hati, membawa cahaya ilmu untuk mengusir kelamnya kebingungan.

Dengan pena yang melambai di udara, Idris mengukir harmoni antara kehidupan dan ilmu pengetahuan. Dunia, yang seringkali terperangkap dalam pusaran kegelapan, mendapati sinar yang memandu melalui rimbunnya kata-kata ilahi yang ditorehkannya. Dari timur hingga barat, dari utara hingga selatan, nama Idris menjadi tablo indah yang memancarkan inspirasi.

Namun, seperti setiap kisah agung, masa akhir Idris di dunia ini tiba. Pada saat-saat yang hening, ia menyerahkan diri pada Sang Pencipta, meninggalkan jejak cahaya yang abadi. Tubuhnya kembali ke tanah, tetapi pemikirannya, ajarannya, dan warisannya tetap mengalir melalui aliran waktu.

Kini, setiap kali matahari bersinar di ufuk timur, mengingatkan manusia akan awal baru, dan setiap kali bulan purnama bersinar di malam, mengingatkan mereka akan keindahan kebersamaan malam dan ilmu pengetahuan. Kisah penciptaan nabi Idris bukan hanya sebatas legenda, melainkan petunjuk menuju api pengetahuan yang tak pernah padam.

Sehingga, di antara bintang-bintang yang membentang luas, nama Idris terus berdendang dalam hati setiap pencari kebenaran, sebagai pelita yang terus menyinari langkah-langkah di dalam kegelapan. Penciptaan nabi Idris adalah lagu kebijaksanaan yang tak berujung, meneruskan harmoni yang dimulai oleh Sang Pencipta.

***

Persahabatan yang Tak Biasa

Di suatu tempat di antara khayangan dan alam yang tidak tampak, terjalinlah persahabatan yang agung antara Nabi Idris As dan Malaikat Izrail. Mereka, dua makhluk ilahi yang menyembunyikan kebesaran di balik kehadiran mereka, menjelajahi sudut-sudut Surga dengan ketenteraman hati dan cinta yang tak terukur.

Dalam remang senja surga yang damai, Nabi Idris dan Malaikat Izrail berkumpul di tepi kebun bunga yang tak ternilai kecantikannya. Cahaya emas mentari senja mewarnai langit, dan aroma bunga-bunga surga menyelimuti udara. Malaikat Izrail, yang dikenal sebagai penjaga pintu kehidupan dan kematian, dan Nabi Idris, sang pencipta ilmu, saling berbagi kisah dan pemikiran.

Di bawah pohon rindang, Malaikat Izrail berkisah tentang tugasnya yang suci. Dengan sayap yang melambai lembut, ia menjelaskan bagaimana ia membawa jiwa-jiwa pulang ke Sang Pencipta dengan penuh kelembutan dan keadilan. Nabi Idris mendengarkan dengan penuh perhatian, menghargai kebijaksanaan yang terkandung dalam tugas suci Malaikat Izrail.

Sementara itu, di kejauhan, cahaya gemerlap memperlihatkan kecantikan surga yang tak terkira. Malaikat Izrail memimpin Nabi Idris mengelilingi surga, di mana sungai-sungai air susu dan madu mengalir di antara kebun-kebun buah yang lezat. Bunga-bunga surgawi bermekaran dengan warna yang tak dapat diungkapkan oleh kata-kata manusia.

Namun, di seberang keindahan itu, Malaikat Izrail membimbing Nabi Idris untuk mengunjungi tepi Neraka yang menyala-nyala. Api neraka membakar tanpa henti, dan suara gemuruh yang mengerikan terdengar di kejauhan. Nabi Idris merenung, menyadari pentingnya hidup dalam ketaatan kepada Sang Pencipta untuk menghindari siksaan yang dahsyat.

Ketika malam tiba, mereka duduk di atas bukit pasir yang bersih, menatap langit malam yang gemilang. Nabi Idris menghela nafas, memikirkan keindahan dan keadilan yang tercipta di bawah naungan Allah. Malaikat Izrail tersenyum, merasa bersyukur atas keberadaan seorang teman seperti Nabi Idris yang selalu mencari hikmah di balik kehidupan dan kematian.

Dengan mata yang bersinar terang, Nabi Idris dan Malaikat Izrail mengingatkan satu sama lain akan keagungan Sang Pencipta yang menciptakan surga dan neraka sebagai ujian bagi hamba-Nya. Persahabatan mereka, sebuah kisah yang mengelilingi surga dan neraka atas izin Allah, menjadi benang merah yang mengikat hati dan jiwa mereka dalam perjalanan yang penuh makna di bawah rahmat-Nya.

Malam semakin dalam, dan langit surga berbinar dengan gemintang. Nabi Idris dan Malaikat Izrail, dalam kemesraan persahabatan, menengadahkan pandangan mereka ke langit yang tak terhingga. Dalam keheningan yang indah, Malaikat Izrail berbicara tentang rahasia takdir dan kebijaksanaan yang tersembunyi di balik setiap detik kehidupan.

Malaikat Izrail berkata, “Wahai Idris, setiap nafas yang diambil dan dilepaskan manusia adalah bagian dari perjalanan takdir yang telah ditentukan oleh Sang Pencipta. Seperti malam dan siang yang bergantian, hidup dan mati pun adalah sunatan waktu yang tidak dapat dihindari.”

Nabi Idris, dengan mata yang penuh kedalaman, menjawab, “Betapa besar dan indah ciptaan-Nya. Sungguh, dalam keberagaman surga dan neraka, kita menyaksikan keajaiban keadilan-Nya. Ini adalah tanda-tanda keagungan Sang Pencipta yang tak terbatas.”

Mereka melanjutkan perbincangan di tengah gemerlap bintang, merenung tentang makna hidup dan akhirat. Nabi Idris menyampaikan betapa pentingnya mencari ilmu dan kebijaksanaan sebagai bekal untuk mengarungi lautan kehidupan. Sementara itu, Malaikat Izrail menekankan pentingnya keimanan dan taqwa sebagai penuntun melintasi jalan yang penuh ujian.

Di tengah kerinduan akan kebenaran, Nabi Idris dan Malaikat Izrail menyadari bahwa persahabatan mereka adalah anugerah dari Yang Maha Kuasa. Dalam bualan malam itu, mereka menemukan kekuatan dan ketenangan, saling mengingatkan akan kebesaran Allah dan tugas masing-masing sebagai hamba-Nya.

Ketika embun mulai turun dan malam semakin tenang, persahabatan mereka menyatu dengan kerinduan kepada Sang Pencipta. Nabi Idris dan Malaikat Izrail meninggalkan tepi surga dan neraka dengan hati yang penuh syukur. Mereka kembali ke tugas masing-masing, membawa dengan mereka pelajaran dan kebijaksanaan yang terukir dalam kisah persahabatan yang mengelilingi surga dan neraka atas izin Allah.

Malam semakin dalam, dan langit surga berbinar dengan gemintang. Nabi Idris dan Malaikat Izrail, dalam kemesraan persahabatan, menengadahkan pandangan mereka ke langit yang tak terhingga. Dalam keheningan yang indah, Malaikat Izrail berbicara tentang rahasia takdir dan kebijaksanaan yang tersembunyi di balik setiap detik kehidupan.

Malaikat Izrail berkata, “Wahai Idris, setiap nafas yang diambil dan dilepaskan manusia adalah bagian dari perjalanan takdir yang telah ditentukan oleh Sang Pencipta. Seperti malam dan siang yang bergantian, hidup dan mati pun adalah sunatan waktu yang tidak dapat dihindari.”

Nabi Idris, dengan mata yang penuh kedalaman, menjawab, “Betapa besar dan indah ciptaan-Nya. Sungguh, dalam keberagaman surga dan neraka, kita menyaksikan keajaiban keadilan-Nya. Ini adalah tanda-tanda keagungan Sang Pencipta yang tak terbatas.”

Mereka melanjutkan perbincangan di tengah gemerlap bintang, merenung tentang makna hidup dan akhirat. Nabi Idris menyampaikan betapa pentingnya mencari ilmu dan kebijaksanaan sebagai bekal untuk mengarungi lautan kehidupan. Sementara itu, Malaikat Izrail menekankan pentingnya keimanan dan taqwa sebagai penuntun melintasi jalan yang penuh ujian.

Di tengah kerinduan akan kebenaran, Nabi Idris dan Malaikat Izrail menyadari bahwa persahabatan mereka adalah anugerah dari Yang Maha Kuasa. Dalam bualan malam itu, mereka menemukan kekuatan dan ketenangan, saling mengingatkan akan kebesaran Allah dan tugas masing-masing sebagai hamba-Nya.

Ketika embun mulai turun dan malam semakin tenang, persahabatan mereka menyatu dengan kerinduan kepada Sang Pencipta. Nabi Idris dan Malaikat Izrail meninggalkan tepi surga dan neraka dengan hati yang penuh syukur. Mereka kembali ke tugas masing-masing, membawa dengan mereka pelajaran dan kebijaksanaan yang terukir dalam kisah persahabatan yang mengelilingi surga dan neraka atas izin Allah.

***

Di malam sunyi yang berselimut bintang,

Bait syair terukir di langit langit,

Nabi Idris dan Izrail berjalan tangan,

Persahabatan abadi, tanda kasih Ilahi.

 

Cahaya emas menyinari wajahnya,

Malaikat penjaga jiwa dan nabi penuh hikmah,

Mereka mengelilingi surga yang indah,

Dalam sentuhan waktu yang tak tergoyahkan.

 

Bunga-bunga surga berbicara bahasa asmara,

Sementara api neraka membisikkan keadilan,

Di antara keduanya, tercipta sejuta tanda,

Keagungan Sang Pencipta terpancar dalam jalinan.

 

Malaikat Izrail berbisik tentang takdir yang teguh,

Nabi Idris mendengarkan dengan mata yang lembut,

Tentang hidup, mati, dan cinta yang suci,

Di pelukan malam, berbagi hikmah yang berarti.

 

Persahabatan mengalir seperti sungai ilmu,

Di atas bukit pasir, mereka duduk berdua,

Syair indah tercipta di bawah langit malam itu,

Hati mereka bersatu dalam ikatan yang suci.

 

Bait syair ini merayakan kebijaksanaan,

Dalam langit dan bumi yang penuh keajaiban,

Nabi Idris dan Malaikat Izrail, tanda kemanunggalan,

Dalam puisi tak terucap, terpahat dalam ingatan.

©2024. Baiturrahman. All Rights Reserved.

Scroll to Top