logo pesantren terbaru pisan

‘Ain Itu Nyata. Hati-hati Dengan Media Sosial Anda

Oleh: Ust. Asep Deni Hermawan, S.Sos.

06 Oktober 2023

Tahukah Anda tahu bahwa dalam Islam ada penyakit yang khas dan tidak dikenal di dunia medis? Penyakit yang sulit dicerna oleh akal manusia dan dunia medis modern. Mengapa? Karena penyakit ini menjangkiti orang disebabkan pandangan mata seseorang. Orang lain yang berbuat, namun pengaruh buruknya diderita oleh korban, sementara pelakunya baik-baik saja dan bisa saja tidak menyadarinya. Penyakit yang saya maksud adalah ‘AIN.

Secara bahasa, ‘Ain (عين) dalam bahasa Arab artinya adalah mata. Secara istilah, disebutkan oleh Abdurrahman bin Hasan: والعين هي إصابة العائن غيره بعينه (‘ain adalah gangguan yang ditimpakan oleh pandangan orang yang memandang kepada orang lain)[1]. Ibnu Atsir, rahimahullah, mengatakan: ﻳﻘﺎﻝ: ﺃﺻَﺎﺑَﺖ ﻓُﻼﻧﺎً ﻋﻴْﻦٌ ﺇﺫﺍ ﻧَﻈﺮ ﺇﻟﻴﻪ ﻋَﺪُﻭّ ﺃﻭ ﺣَﺴُﻮﺩ ﻓﺄﺛَّﺮﺕْ ﻓﻴﻪ ﻓﻤَﺮِﺽ ﺑِﺴَﺒﺒﻬﺎ (Dikatakan bahwa si Fulan terkena ‘ain yaitu ketika ada musuh atau orang-orang yang hasad (dengki) memandangnya lalu pandangan tersebut mempengaruhinya hingga menyebabkan jatuh sakit.)[2] Menurut definisi Ibnu Atsir ini, ‘ain sangat berkaitan dengan pandangan mata orang yang hasad (iri, dengki) kepada yang dipandangnya. dalam literatur lain dikatakan bahwa seseorang bisa terkena ‘ain ketika ada yang memandang dengan pandangan takjub atau kagum yang lalai dari mengingat Allah. Ketakjuban/kekagumannya tidak dikembalikan kepada Allah dengan mengucapkan kalimat “ma sya Allah,” atau “subhanallah,” misalnya . Contoh: melihat seorang bayi yang masih kecil dan lucu menggemaskan, kemudian ada yang mengatakan “lucunya…..” “cantiknya……,” tanpa mengembalikan pengakuan lucu atau cantik tadi kepada yang menciptakannya, Allah ﷻ.

Di masa Nabi ﷺ ada kejadian yang disebabkan ‘ain menimpa sahabat, sebagaimana dikisahkan oleh Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif berikut ini: “Bapakku, Sahl ibn Hunaif mandi di sungai lalu ia melepaskan jubah yang dikenakannya, sementar ‘Amir ibn Rabi’ah melihatnya. As’ad bin Sahl berkata: “Sahl adalah seorang pemuda yang putih dan bagus kulitnya.” Amir bin Rabi’ah berkata kepadanya: “Aku tidak pernah melihat kulit yang sebagus ini, bahkan kulit seorang gadis sekalipun.” Kemudian Sahl terserang demam, dan penyakit tersebut bertambah parah. Rasulullah kemudian didatangi dan dikabarkan kepada beliau, “Sesungguhnya Sahl sakit, ia tidak bisa datang bersama anda, Wahai Rasulullah!” Rasulullah lalu menemuinya, kemudian Sahl mengabarkan tentang apa yang telah dilakukan ‘Amir terhadapnya. Rasulullah bertanya: “Kenapa salah seorang dari kalian hendak membunuh saudaranya? Tidaklah (sebaiknya) engkau mendo’akan agar diberkati. Sesungguhnya penyakit ‘ain itu nyata. Berwudlulah kamu untuknya!” Amir lantas berwudlu untuk Sahl. Setelah itu Sahl dan Rasulullah berangkat dalam keadaan sehat. (Muwattha` Malik, II/938 bab al-wudlu` minal-‘ain no. 1).

Hadits di atas menunjukkan betapa ‘ain itu bisa terkena seseorang disebabkan pandangan takjub. Sayangnya pandangan takjub ini lalai dari mengembalikannya kepada Allah. Maka Sahl bin Hunaif, sebagaimana dikisahkan Abu Umamah di atas, kemudian terserang sakit serius disebabkan pandangan dan komentar dari Amir bin Rabi’ah. Jika ini terjadi kepada sahabat Nabi, yang tergolong orang-orang shaleh, apalagi kepada kita yang jauh tingkat kesholehannya dibanding mereka. Kalau bukan karena riwayat hadits tentang ‘ain ini tidak shahih, maka sulit kita bisa mempercayai bahwa ‘ain itu nyata.

‌الْعَيْنُ ‌حَقٌّ، وَلَوْ كَانَ شَيْءٌ سَابَقَ الْقَدَرَ سَبَقَتْهُ الْعَيْنُ، وَإِذَا اسْتُغْسِلْتُمْ فَاغْسِلُوا

’Ain itu nyata. Andaikan ada perkara yang bisa mendahului takdir, maka itulah ‘ain. Maka jika kalian mandi, gunakan air mandinya itu (untuk memandikan orang yang terkena ain, pen.).” (Shahih Muslim bab at-thibb wal-maradl war-ruqa no. 2188)

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، قَالَتْ: كَانَ يُؤْمَرُ ‌الْعَائِنُ فَيَتَوَضَّأُ ثُمَّ يَغْتَسِلُ مِنْهُ الْمَعِينُ

Dari ‘A`isyah—radliyal-`Llahu ‘anha—ia berkata:”Dahulu orang yang menjadi penyebab ‘ain diperintahkan untuk berwudlu, lalu orang yang terkena ‘ain mandi dari sisa air wudlu tersebut.” (Sunan Abu Dawud bab ma ja`a fil-‘ain no. 3880)

Apa Hubungannya Dengan Media Sosial?

Dalam era digital yang semakin terkoneksi ini, media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Kita berbagi momen, berbagi kenangan, berkomunikasi satu sama lain, dan seringkali melihat bagaimana orang lain menjalani hidup mereka. Namun, media sosial juga telah menjadi tempat di mana orang merasa perlu untuk memamerkan diri atau mungkin tanpa maksud memamerkan hanya sebatas berbagi kebahagiaan. Kita membagikan foto dan video ketika momen-momen membahagiakan seperti liburan keluarga, pernikahan keluarga, kelahiran anak, atau mendapat kendaraan baru dan sebagainya.  Ketika postingan foto/video di media sosial tersebut dilihat orang lain yang hasad atau lalai dari dzikrullah, maka potensi terkena ‘ain itu juga hadir.

Beberapa waktu lalu, istilah “Flexing” menjadi sangat populer di masyarakat netizen. Dimana flexing didefinisikan dengan tindakan memamerkan keberhasilan dan kemewahan dalam kehidupan sehari-hari. Ini dapat berupa foto-foto perjalanan yang mewah, tumpukan uang, mobil mewah, atau gaya hidup yang terlihat mewah. Para pakar mengatakan bahwa tindakan flexing ini seringkali dilakukan dengan maksud untuk mendapatkan perhatian, pengakuan, kekaguman atau bahkan sekedar ingin mendapatkan iri dengki dari pengikut dan teman-teman online. Aneh memang, tapi itulah yang terjadi dengan para pelaku flexing dengan gadget terbaru, mobil Rubicon, jet pribadi, jalan-jalan keliling luar negeri dan sebagainya.

Bagi seorang muslim, dampak dari flexing ini tidaklah sederhana. Tindakan flexing ini mengundang pandangan yang beragam dari warga netizen. Bisa jadi ada yang mengapresiasi positif kemudian mengomentarinya dengan kekaguman yang berlebihan, yang membuat si pelaku flexing ini merasa senang. Namun bisa juga ada yang hasad (iri/dengki), kemudian berkomentar dengan komentar negatif bahkan mendoakan agar dicabut kenikmatannya. Dilihat dari tinjauan teori tentang ‘ain, kedua komentar di atas membahayakan. Karena sebagaimana disebutkan di atas, ‘ain bisa terkena kepada korbannya baik dari pandangan hasad maupun pandangan kagum yang tidak disertai mengingat Allah.

Dampaknya? Akan sangat menyulitkan bagi si korban. Karena menyembuhkan penyakit ain, sebagaimana hadits-hadits di atas, adalah dengan meminta si pelaku ain berwudhu/mandi, kemudian air bekasnya digunakan basuhkan pada si korban. Sementara pelaku ‘ain di media sosial sulit sekali melacak siapa dan dimana pelakunya. Berbeda dengan kasus yang terjadi di masa Rasulullah. Maka bisa dibayangkan jika ‘ain ini terkena pada bayi lucu yang fotonya dishare oleh ibu/bapaknya. Sangat kasihan si bayi, yang memposting fotonya adalah ibu/bapaknya, yang melakukan ‘ain orang lain yang entah siapa dan dimana, tapi yang terkena sakit adalah si bayi. Jika ‘ain ini terkena kepada kita sendiri, atau kendaraan baru yang kita miliki, atau kepada rumah baru yang kita dapatkan, naudzubillah akan sangat menyakitkan. Nas’alullaha as-salama wal-’afiyah.

Sebagai seorang mukmin yang percaya dan beriman dengan apapun yang dikatakan Allah dan Rasul-Nya, hendaknya kita berhati-hati dalam menggunakan media sosial. Konten yang kita share bisa dilihat dengan berbagai pandangan, baik itu pandangan kagum atau hasad atau datar saja tidak berefek. Oleh karena itu, jika pun mau memposting konten maka konten nasihat atau inspirasi itu lebih baik dibanding foto-foto pribadi, keluarga dan sebagainya yang berpotensi mendatangkan ain ke dalam rumah kita.

العين حق, ‘ain itu nyata. Maka berhati-hatilah darinya! Semoga Allah melindungi kita semua. Amiin ya Rabbal ‘alamin

[1] lihat Fathul Majid hlm 63

[2] an-Nihayah fi Gharbil-Hadits wal-Atsar

©2023. Baiturrahman. All Rights Reserved.

Scroll to Top