logo pesantren terbaru pisan

9 Kunci Rahasia Sukses (Bag. 1)

“Panduan Praktis Membentuk Karakter Islami yang Hebat”

Oleh : Ust. Achmad Fahrisi, S.Pd.

16 Januari 2024

Kesuksesan sejati menurut pandangan Islam tidak hanya mencakup pencapaian materi, tetapi juga mencerminkan kualitas karakter yang islami. Pada momen yang insya Allah berkah ini, akan membahas panduan praktis untuk membentuk karakter islami yang hebat, menggali rahasia kesuksesan dalam kehidupan sehari-hari.

Inilah 9 kunci rahasia kesuksesan bersumber dari ajaran Islam yang murni, di antaranya:

  1. Niat yang Murni: Landasan Utama Kesuksesan

Kesuksesan dalam Islam dimulai dengan niat yang tulus. Setiap tindakan, baik besar maupun kecil, harus bermuara pada niat yang murni, karena Allah memperhatikan niat hati hamba-Nya.

Rasulullah SAW bersabda:

إنما الأ عمال بالنيات، وإنما لكل امرئ ما نوى

Artinya: “Sesungguhnya amalan itu tergantung niatnya dan seseorang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan,” (HR. Bukhari dan Muslim).”Sesungguhnya amal itu tergantung niat, dan sesungguhnya setiap orang hanya akan mendapatkan apa yang dia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini, yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, menyampaikan pesan penting tentang pentingnya niat dalam setiap amalan yang dilakukan oleh seorang Muslim. Penjelasannya dapat diringkas sebagai berikut:

“Sesungguhnya amalan itu tergantung niatnya dan seseorang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.”

Tergantung pada Niat:

Hadis ini mengajarkan bahwa nilai atau keberkahan suatu amalan sangat tergantung pada niat yang menyertainya. Amalan yang dilandasi oleh niat tulus dan ikhlas untuk mendekatkan diri kepada Allah akan memiliki nilai spiritual yang tinggi.

Mendapatkan Sesuai Niat:

Hadis ini juga mengingatkan bahwa hasil atau balasan dari suatu amalan akan sesuai dengan niat yang ditanamkan oleh pelakunya. Jika niatnya baik, pahala yang diperoleh akan sebanding, tetapi jika niatnya buruk, hasilnya pun demikian.

Penekanan pada Ikhlas:

Kesimpulan dari hadis ini adalah penekanan pada keikhlasan dalam beramal. Setiap tindakan, baik besar maupun kecil, haruslah dilakukan semata-mata karena Allah, tanpa mencari pujian atau pengakuan dari manusia.

Hadis ini memberikan dasar bagi konsep niat yang bersih dan ikhlas dalam Islam, dan menunjukkan bahwa aspek batiniah, seperti niat, memainkan peran krusial dalam menentukan nilai spiritual dan pahala suatu amalan.

  1. Tawakal dan Kepercayaan pada Allah

Keberhasilan sejati datang dari tawakal dan kepercayaan sepenuhnya pada Allah. Tawakal bukanlah tanda kelemahan, melainkan tanda kekuatan hati yang bergantung pada kebijaksanaan-Nya.

Allah berfirman dalam Ali Imran ayat 159:

فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ

Artinya: “Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.”

Memulai dengan Tekad yang Kuat:

Ayat ini memberikan petunjuk tentang langkah pertama dalam menjalani suatu tugas atau usaha. Sebelum memulai, seseorang harus memiliki tekad atau niat yang kuat. Keberhasilan dimulai dari kesungguhan dan tekad yang bulat.

Bertawakal kepada Allah:

Setelah tekad kuat telah dibentuk, langkah selanjutnya adalah bertawakal kepada Allah. Bertawakal berarti meletakkan keyakinan dan kepercayaan penuh kepada Allah dalam meraih hasil atau keberhasilan. Manusia berusaha, namun hasil akhirnya tetap dalam kontrol Allah.

Cinta Allah kepada Orang yang Bertawakal:

Ayat ini menyampaikan bahwa Allah mencintai orang-orang yang bertawakal. Ini menekankan pentingnya sifat tawakal dalam meraih cinta Allah. Orang yang mempercayakan usahanya kepada Allah dengan tulus mendapatkan rahmat dan kasih sayang-Nya.

Dengan demikian, ayat ini memberikan petunjuk tentang prinsip-prinsip keberhasilan dalam Islam, yaitu memiliki tekad yang kuat, berusaha dengan sungguh-sungguh, dan selalu bertawakal kepada Allah. Keberhasilan yang dicapai dengan cara tersebut akan mendapatkan cinta dan keridhaan Allah.

  1. Konsistensi dalam Ibadah

Kesuksesan dalam membentuk karakter islami membutuhkan konsistensi dalam ibadah. Rutinitas ibadah, seperti shalat, dzikir, dan bacaan Al-Quran, membentuk fondasi spiritual yang kuat.

Allah SWT berfirman dalam QS Al Isra : 78,

اَقِمِ الصَّلٰوةَ لِدُلُوْكِ الشَّمْسِ اِلٰى غَسَقِ الَّيْلِ وَقُرْاٰنَ الْفَجْرِۗ اِنَّ قُرْاٰنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُوْدًا

Artinya: “Dirikanlah salat sejak matahari tergelincir sampai gelapnya malam dan (laksanakan pula salat) Subuh! Sesungguhnya salat Subuh itu disaksikan (oleh malaikat).”

Konsistensi Ibadah Sejak Matahari Tergelincir

Ayat ini menyeru umat Islam untuk menegakkan salat sejak matahari tergelincir. Ini menunjukkan pentingnya konsistensi dalam menjalankan ibadah wajib, yaitu salat, sepanjang waktu setelah matahari terbenam.

Hingga Gelapnya Malam

Perintah untuk melanjutkan salat hingga gelap malam menekankan pentingnya kesinambungan ibadah sepanjang hari. Konsistensi ibadah tidak hanya terbatas pada waktu-waktu tertentu, tetapi melibatkan kesadaran akan kehadiran Allah sepanjang waktu.

Laksanakan Salat Subuh

Ayat ini secara khusus menekankan pelaksanaan salat Subuh. Menjaga konsistensi dalam menunaikan salat Subuh merupakan bentuk pengabdian yang istimewa, karena salat Subuh disaksikan oleh malaikat.

Disaksikan oleh Malaikat

Pemberitahuan bahwa salat Subuh disaksikan oleh malaikat menegaskan keagungan dan keistimewaan ibadah ini. Kesadaran akan pengawasan malaikat menjadi dorongan ekstra untuk menjaga konsistensi dalam melaksanakan salat Subuh.

Kaitannya dengan Konsistensi Ibadah

Konsistensi dalam menjalankan ibadah, terutama salat, merupakan bentuk ketaatan dan ketaqwaan kepada Allah. Menegakkan salat secara teratur menciptakan kebiasaan ibadah yang menopang kesadaran spiritual sepanjang waktu.

Dengan memahami dan mengikuti perintah untuk menegakkan salat sejak matahari tergelincir hingga gelap malam, termasuk salat Subuh yang disaksikan malaikat, umat Islam diingatkan untuk menjaga konsistensi dalam ibadah sepanjang hari, menciptakan kesadaran spiritual yang berkelanjutan.

  1. Integritas dan Kejujuran

Kesuksesan karakter islami tidak dapat dipisahkan dari integritas dan kejujuran. Memegang prinsip kejujuran dalam segala aspek kehidupan menciptakan pondasi yang kuat untuk kesuksesan sejati.

Allah SWT berfirman dalam QS Al Isra : 14,

اِقْرَأْ كِتٰبَكَۗ كَفٰى بِنَفْسِكَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ حَسِيْبًاۗ

Artinya: “Bacalah kitabmu. Cukuplah dirimu pada hari ini sebagai penghitung atas (amal) dirimu.”

Ayat ini menekankan pada pentingnya membaca kitab (catatan amal perbuatan) seseorang di hari kiamat. Penjelasannya dapat dirinci sebagai berikut:

 Bacalah Kitabmu

Mengacu pada catatan amal perbuatan yang dilakukan oleh seseorang selama hidupnya. Kitab ini merekam setiap amal baik dan buruk yang telah dilakukan.

Cukuplah Dirimu sebagai Penghitung

Pada hari kiamat, setiap individu akan diberikan catatan amalnya. Kitab tersebut menjadi saksi yang tidak bisa mendustakan perbuatan yang telah dilakukan. Individu akan diminta membaca kitab amalnya sendiri sebagai bentuk pertanggungjawaban.

Ayat ini menegaskan bahwa pada hari kiamat, setiap individu akan membawa catatan amalnya sendiri. Tidak ada yang dapat menyembunyikan atau menyangkal perbuatan yang telah dilakukan. Oleh karena itu, penting bagi setiap individu untuk selalu berusaha melakukan amal baik dan menjauhi perbuatan buruk sebagai persiapan menghadapi hari kiamat.

(Bersambung ke Bag. 2)…

©2023. Baiturrahman. All Rights Reserved.

Scroll to Top