MENJADI WALI SANTRI YANG “DIGEMARI”

MENJADI WALI SANTRI YANG “DIGEMARI”

Nyaah nyaan nyata bukanlah hal yang mudah dikerjakan oleh wali santri, perlu pembiasaan untuk melaksanakannya, perlu perjuangan dan pengorbanan untuk menegakkannya, perlu kesabaran untuk menjalankannya.Perlu keikhlasan untuk dapat melaksanakannya, barang siapa mau berjuang dan berkorban untuk menegakkannya, mau bersabar dan ikhlas dalam menjalankannya, insya Allah wali santri yang demikian akan menjadi sosok wali santri yang dicintai Allah dan para malaikat dan penghuni surga. Karena itu untuk dapat mewujudkan di atas, maka wali santri harus mempunyai sikap ingin DIGEMARI ( Disiplin, Ikhlas, Gesit, Energik, Murah Hati, Amanah, Responsif/ Responsible, Istiqomah)

A. DISIPLIN
Wali santri diharapkan menjadi orang yang pertama paling disiplin di asrama, disiplin dalam mengontrol, membina, mengasuh, mengayomi, maka didiklah santri dengan disiplin yang tinggi saat dia di asrama, disiplinkanlah santri dalam segala hal niscaya kemudahan terwujud dalam segalanya. Disiplin tidak hanya perilaku keseharian tetapi ia adalah komitmen,”tak ada yang mampu mengalahkan manusia-manusia disiplin bahkan senjata yang modern dan pasukan yang lebih banyakpun tak akan bisa mengalahkan samurai” itulah perkataan Nathan” dalam fil last samurai yang dikutif di buku “self drive” karangan Renald kasali. Kemampuan Orang yang disiplin akan melebihi mesin manapun, kita akan sangat ta’jub ketika melihat prestasi orang orang yang mampu mendisiplinkan dirinya. Disiplin dapat dibentuk dengan 2 cara yaitu pengaruh dari luar dan pengaruh dari diri sendiri.
Pegaruh dari luar adalah bagaimana caranya para wali santri membentuk para santrinya melalui cara hidup yang teratur dengan ketat, menerapkan aturan dengan ketat, hukuman dengan ketat. Yang kedua adalah dengan cara membangun atau membangkitkan kesadaran diri dalam diri santri melalui keteladanan, kemampuan wali santri menghidupkan disiplin dalam diri santri memerlukan kesabaran yang luar biasa, karena pembentukan ini tidak berorentasi hanya pada objek santri saja tetapi juga adalah subjeknya (wali santri), usaha untuk melawan ketidaknyaman dalam diri wali santri ketika bertugas akan berdampak pada santrinya juga, kalau wali tidak disiplin maka santripun akan sukar menjadi orang yang mempunyai displin yang baik.

Firman Allah :
Artinya : “Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya dia maha melihat apa yang kamu kerjakan”.1[1]

Sabda Nabi :
Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.”)

”Wahai sekalian manusia, lakukanlah amalan sesuai dengan kemampuan kalian. Karena Allah tidaklah bosan sampai kalian merasa bosan. (Ketahuilah bahwa) amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang kontinu (ajeg) walaupun sedikit.”[8] CERITA HIKMAH Sebut saja “Ibnu Hajar”. Apakah anda sudah pernah mendengar kisahnya? Jika belum, mari baca dengan seksama. dan apabila anda sudah membaca, mari kita baca kembali seraya merefleksikan kembali kisahnya.
Alkisah, ada seorang pemuda yang menuntut ilmu bertahun-tahun, akan tetapi belum mendapatkan ilmu sedikitpun dari sang guru. Ia selalu tertinggal jauh dari teman-temannya. Bahkan sering lupa dengan pelajaran yang telah diajarkan oleh gurunya hingga membuatnya patah semangat dan frustasi.
Oleh sebab itu ia memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya. Tiba-tiba di tengah perjalanan hujan amatlah lebat, sehingga sang pemuda tersebut memutuskan untuk berteduh di sebuah gua. Di dalam gua tersebut ia mendengar suara aneh yang tak kunjung berhenti, dan ia pun menelisiknya. Hingga sang pemuda tersebut menemukan air yang menetes di batu hingga membuat lubang pada batu tersebut. Dalam hatinya ia berkata: “ Sungguh, sebuah keajaiban. Bagaimana mungkin batu itu terlubangi hanya dengan tetesan air yang terus mengenainya?” Ia pun berfikir kembali apa yang ada pada dirinya, “Jika batu yang keras bisa berlubang karena tetesan air, mengapa saya tidak? Saya pasti bisa menyerap pelajaran yang sulit itu asalkan saya mau sabar, rajin, dan tekun”, tukasnya dalam hati. Sang pemuda tersebut mengurungkan niat untuk kembali ke kampung halamannya, dan kembali untuk menuntut ilmu di tempat semula. Hingga akhirnya ia menjadi pemuda yang alim, mempunyai banyak karya, menjadii panutan dan ia pun mendapat julukan “Ibnu Hajar”. (H.M. Bashori) Kisah di atas memberikan inspirasi kepada kita untuk senantiasa tekun dan disiplin dalam menggapai cita-cita yang kita impikan. Semua yang kita lewati untuk menggapai cita-cita tersebut adalah proses. Proses untuk tetap menjaga kontinuitas dan semangat dari usaha kita. media.ikhram.com › Artikel

CERITA DI PESANTREN
Perawakannya tinggi, jalannya tegap dan cepat, wajahnya menyorotkan keseriusan, sorot matanya tajam namun di balik itu semua beliau adalah sosok yang murah hati dan peka dengan hal-hal yang akan dapat membawa kebaikan, dialah Bapak Surahman S.pd, M.Mpd, rekan kerjanya sering menyebutnya dengan pak Rahman. Segudang prestasi telah di raihnya dari seorang guru teladan sampai kepada Kepala Sekolah Teladan tingkat Kabupaten, propinsi hingga nasional. Suatu ketika saat beliau akan mengikuti perlombaan kejuaraan Kepala Sekolah, beliau datang menghampiri kepada saya meminta memberikan sebuah pernyataan positif berkaitan dengan sosok beliau, saat ditanya saya termenung sebentar membayangkan kira-kira kata apakah kata yang tepat buat beliau, tiba-tiba Allah memberikan insfirasi kepada saya, yang sehari sebelumnya saya mempunyai idea bagaimana menjadi sosok yang DIGEMARI oleh Allah terinsfirasi dari qs 5:54 (DiGEMARI ini singkatan dari Disiplin, Ikhlas, Gesit, Energik, Murah Hati, Amanah, Responsible/Responsif Istiqomah). Kemudian saya sampaikan bahwa Pak Surahman adalah sosok yang digemari oleh siapa saja, baik oleh santrinya, sesama rekannya ataupun oleh pimpinan dan keluarganya, kaena beliau memiliki sifat-sifat yang tersebut di atas.
Salah satu yang menonjol pada diri beliau adalah KEDISIPLINANnya, beliau tidak pernah lelah bekerja untuk kemajuan SMA yang dipimpinnya, jam kerja beliau patut ditiru oleh yang lainnya, jam 4 subuh beliau sudah ada di mesjid untuk qiyamul lail, sebelum jam 7 pagi beliau sudah siap di sekolah sekalipun guru-guru dan murid belum datang, pulang paling akhir, sependek yang saya tahu beliau pulang di atas jam 22.00 malam bahkan kalau perlu beliau tidur di ruang kerjanya, beliau konsisten dengan apa yang diucapkan dan dilakukannya, sehingga tidak heran kalau beliau jadi Kepala Sekolah Berprestasi tingkat Nasional pada bulan Desember tahun 2015, semoga Kedisiplinan beliau menginsfirasi kita semua.

PUISI DISIPLIN

Ditegakkannya kebiasaan dengan memaksa diri Itulah kemauan kuat yang harus ada pada wali santri Siapa saja yang mampu melaksanakan dengan menjiwai Ia akan menjadi wali santri sejati Padanya akan dipakaikan jubah kemuliaan Lencana kehormatan dan mahkota kerajaan Indahnya taman surga dan pelayanan Nikmat besar telah menajdi hidangan

KATA-KATA BIJAK

Hati-hatilah dengan kebiasaan karena ia akan jadi karakterHati hatilah dengan karakter karena ia akan jadi takdirmu

B.IKHLAS
Keikhlasan hendaknya menjadi jubah kebesaran wali santri dalam pengabdian kepada Allah melalui kesiapan melayani santri dengan rasa cinta rahman dan rahim-Nya, bekerja bukan dalam orentasi penumpukan harta, bekerja adalah semata mencari keridhoan Allah, bekerja bukan ingin dibalas jasa manusia, tapi rahmat dan magfiroh Allah lah yang menjadi magnetnya, itulah ikhlas, karenanya ketika wali santri bekerja dengan ikhlas, akan terlihat ketulusan, keridhoan, kepasrahan, ketergantunagn kepada Allah semata, tidak mudah patah semangat, tidak rapuh, tidak mudah terseinggung, selalu berorentasi pada kesempurnaan, dia tidak peduli dengan balasan orang, akrena dia yakin setiap kebaikan akan dicatat oleh Allah sekalipun seluruh manusia plus jin tidak menghargainya, keihlasan itu tidak pernah memberhentikannya dari langkah-langkah kelembutan untuk menyentuh jiwa santri dengan kasih sayangnya, keikhlasan wali santri seperti oase di tengah padang pasir, seperti jalan setapak menuju mata air. Seperti bintang biduk yang menjadi arah para pelaut.
Ikhlas itu seperti surat al ikhlas yang tidak ada kata ikhlasnya, karena dialah Allah yang memiliki keikhlasan, kita harus pandai meneladani keikhlasan Allah, saat Allah memberi tidak pernah Allah berharap manusia memberi balasannya, siapa saja Allah beri rahmatnya di dunia, apakah dia beriman atau tidak, siapa saja diberinya tanpa melihat kadar keimanan atau pengabdian kepada Allah, karena kalaupun manusia beribadah kepada Allah, ibadah manusia ini tidak akan menambah kemuliannNya, sebaliknya kalau manusia tidak mau beribadah kepada Allah, itupun tidak akan mengurangi kemulian Allah.

FIRMAN ALLAH
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus[1595], dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. SABDA ROSUL “Sesungguhnya Allah tidak melihat (menilai) bentuk tubuhmu dan tidak pula menilai kebagusan wajahmu, tetapi Allah melihat (menilai) keikhlasan hatimu”. [HR. Muslim]

Keikhlasan manusia dalam beribadah kepada Allah sebenarnya hanya untuk meninggikan derajat kemuliaan manusia itu sendiri bukan meningkatkan derajat kemuliaan Allah, sebaliknya ketidakikhlasan manusia dalam menjalankan pengabdian kepada Allah hanya akan menghinakan derajat kemulian manusia itu sendiri, bukan menghinakan derajat kemulian Allah. CERITA HIKMAH Seorang nenek harus berjalan jauh ke pasar di kota untuk menjual bunga cempaka. Itulah kerja hariannya. Selepas berjualan, beliau singgah dahulu ke masjid di kota untuk bersolat zuhur. Selepas berdoa dan berwirid sekadarnya, nenek itu akan terlebih dahulu membersihkan dedaun yang berselerakan di halaman masjid. Ini dilakukannya setiap hari di bawah terik matahari. Setelah semua dedaun itu dibersihkan barulah beliau pulang ke desanya. Jemaah dan pengelola masjid kasihan melihat rutin nenek yang demikian.
Suatu hari, pengurus masjid memutuskan untuk membersihkan dedaun yang berselerakan di halaman masjid sebelum nenek itu datang. Fikirnya, usaha itu akan membantu nenek tadi agar tidak perlu bersusah payah membersihkan halaman masjid itu. Rupanya, niat baik itu telah membuat nenek tersebut menangis sedih. Dia bermohon supaya dia terus diberi kesempatan membersihkan halaman masjid seperti biasa. Akhirnya, pihak masjid terpaksa membiarkan situasi berjalan seperti biasa supaya nenek itu tidak lagi hiba. Satu ketika apabila ditanyakan seorang kiai mengapa nenek tersebut perlu melakukan hal itu, nenek tersebut menjawab: “Saya ini perempuan bodoh, kiai. Saya tahu amal-amal saya yang kecil ini mungkin juga tidak benar dijalankan. Saya tidak mungkin selamat pada hari kiamat tanpa syafaat Rasulullah sollallahu `alaihi wasallam.
“Setiap kali saya mengambil selembar daun, saya ucapkan satu selawat kepada Rasulullah sollallahu `alaihi wasallam. Kelak jika saya mati, saya ingin Rasulullah menjemput saya. “Biarlah semua dedaun ini bersaksi bahwa saya telah membacakan selawat kepadanya.” Allah SWT berfirman : “Sesungguhnya Allah dan Malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman bershalawat salamlah kepadanya. (QS Al-Ahzab 33: 56)

Rasulullah SAW bersabda : “Tidak seorang pun yang memberi salam kepadaku kecuali Allah akan menyampaikan kepada ruhku sehingga aku bisa menjawab salam itu. (HR Abu Dawud dari Abu Hurairah. Ada di kitab Imam an-Nawawi, dan sanadnya shahih). Mudah-mudahan kita dapat sama-sama menghayati keikhlasan sifat nenek yang mulia itu.
Amin! https://virouz007.wordpress.com

CERITA DI PESANTREN
Pagi-pagi itu sekitar jam 5.30 dengan kendaraan bermotor lengkap dengan peralatan keamanannya sesuai standar polisi, Helm, kaos tangan, jaket seorang ibu berperawakan tinggi kurang lebih 165 cm sudah siap diatas kendaraan menuju tempat kerjanya yang jauh dari tempat tinggalnya, tinggal di daerah perumahan cukup elite kopo permai menuju daerah pegunungan di Ciparay Kabupaten Bandung, ibu yang satu ini dikenal supel dalam pergaulan, banyak disukai oleh rekan kerja dan santrinya dialah Ibu Aay Sopiati guru Bahasa Indonesia. Keikhlasan beliau dalam mengajar memang patut jadi teladan bagi guru yang lainnya, tidak pernah saya mendengar keluhan dalam setiap masalah yang dihadapinya, kecerian senantiasa menghiasi raut wajahnya, demi sebuah keinginan untuk mewujudkan santri yang paripurna beliau rela mengajar di sebuah tempat yang jauh dari keramaian dan jauh dari hingar bingar hedonisme dan materialisme yang ada pada kebanyak guru dewasa ini, apa sebenarnya yang dicari oleh bu aay? Apakah kepuasan materi? Kalau materi yang dicari, sudah pasti bukan di tempat ini, juga kalau dilihat dari materi yang dimiliki, beliau adalah termasuk orang yang cukup dalam materinya.
Suatu ketika ada santri yang datang menanyakan pelajaran, dengan gaya keibuan yang lembut, sekalipun bukan jam pelajarannya, bahkan beliau harus melakukan pekerjaan yang lain, dengan seksama pertanyaan pertanyaan murid ini dijawab oleh beliau dengan santun dan memuaskan yang menanya, tidak buru-buru, dipastikannya santri yang bertanya itu betul-betul mengerti akan jawaban yang diberikan, beliau ikhlas kehilangan waktu dan tenaga, kepuasan hatinya seolah hanya apabila santri puas dengan pelayanannya, karena ibu yang satu ini yakin bahwa keihlasan akan membawa kebaikan dunia dan akhirat bahkan jalan terpendek bertemu denganNya. PUISI IKHLAS Indahnya hidup manusia bukan karena diliputi materi Kekayaan hati adalah menjadi bukti insane yang fitri Hidup dengan memanjakan diri mengabdi pada Rabbi Langkah istiqomah kuatkan mimpi bertemu nabi Aku adalah tanah yang menjelma tuk jadi hakiki Setiap nafasku,detak jantungku,langkahku untukmu wahai pemilik langit dan bumi KATA-KATA BIJAK Bukanlah kesabaran jika masih ada batasnya, dan bukanlah keikhlasan jika masih merasa sakit hati. Cinta memerlukan keikhlasan dan kejujuran dan bukannya pengorbanan yang buta.

C. GESIT
Bekerja dengan gesit, lincah dalam menangani problematika santri, selalu memberikan solusi pada santri adalah hal yang sangat disukai Alloh dan Rosulnya, sabda nabi “ KHOIRUNNAS ANFA’U LINNAS” sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia banyak. Sering kita mendengar bahwa dalam sebuah pertandingan, biasanya regu yang kalah dikarenakan lawannya lebih gesit dibanding dengan regu yang lainnya, petarung yang lebih gesit akan mampu mengalahkan lawan-lawannya, pekerja yang lebih gesit akan lebih disukai oleh pemimpinnya, isteri yang gesti sangat disukai oleh suaminya, begitupula ketika seorang suami yang gesit pasti akan disukai oleh isterinya, mengapa yang legih gesit sangat disukai ?, karena orang yang gesit adalah orang yang mampu menteladani sifat sifat Allah ….( sesungguhnya Allah adalah lebih cepat perhitungannya), kecepatan penanganan wali santri kepada santrinya, kecepatan wali santri melayani santrinya adalah merupakan perwujudan wali santri dalam meneladani sifat Allah ini. Gesit juga berarti giat dan cekatan dan cakap dalam ,melaksanakan tugasnya

FIRMAN ALLAH
Dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (At-Taubah: 105) SABDA NABI “Keadaan yang paling aku senangi setelah berjihad di jalan Allah adalah maut datang menjemputku ketika aku sedang mencari karunia Allah (bekerja).” (HR. Sa’id bin Manshur dalam sunannya) CERITA HIKMAH Suatu ketika para sahabat duduk bersama Nabi di depan sebuah masjid. Sedang asyik bercengkrama sambil bercakap-cakap, Nabi tiba-tiba berkata,”Yang akan lewat ini nanti adalah calon penghuni surga!” Para sahabat penasaran siapa gerangan calon penghuni surga itu? Tak lama kemudian seorang lelaki yang berpakaian sederhana lewat di depan Nabi dan para sahabat sambil menenteng terompahnya. Lelaki ini tidak tampak istimewa, penampilannya sama dengan jama’ah masjid biasa.
Keesokan harinya Nabi dan para sahabat sedang duduk di depan masjid sambil bercakap-cakap seperti biasa. Tiba-tiba Nabi kembali berkata,”Yang lewat ini nanti adalah calon penghuni surga!” Para sahabat pun kembali dibuat penasaran sambil melongok ke kanan ke kiri siapa gerangan orang yang beruntung itu? Ternyata lelaki yang sama lewat di depan Nabi dan para sahabat sambil menjinjing terompahnya. Ali tak tahan dengan rasa penasarannya, ia memutuskan untuk membuntuti lelaki tersebut ikut pulang ke rumahnya. Tiba di rumah si fulan, Ali kemudian berkunjung dan bersilaturahmi. Ia pun bercakap-cakap sejenak dengan lelaki itu, namun tak ada yang istimewa dengan lelaki itu. Hingga menjelang malam, tak satu pun keistimewaan yang dapat dilihat oleh sahabat Ali dalam diri lelaki itu. Ali memutuskan untuk ikut menginap di rumah si fulan, setelah memperoleh ijin pemilik rumah tentunya. Saat malam tiba, Ali bangun untuk menegakkan sholat malam beberapa malam. Sejenak kemudian ia menengok pemilik rumah si fulan. Ah ia tak bangun dari tidurnya, hanya saja tiap kali ia menggeser tubuhnya di atas dipan selalu ia ucapkan Allah, allah. Demikianlah beberapa hari Ali menginap di rumah si fulan untuk mengetahui apa keistimewaan calon penghuni surga ini.
Keesokan harinya Ali berpamitan kepada si lelaki dan pulang ke rumahnya. Saat di masjid ia merenung, apa kelebihan lelaki itu sehingga ia dijanjikan masuk surga, sedangkan sholatnya seperti sholat para sahabat tak lebih. Sholat sunnah juga dalam takaran yang biasa, sholat sunnat qobliyah dan ba’diyah sholat wajib, tak lebih. Hingga akhirnya Ali tak tahan untuk menanyakan masalah ini kepada Nabi. “Wahai Nabi apakah kelebihan orang ini hingga ia dijanjikan masuk surga sedangkan ibadahnya saya lihat biasa-biasa saja?” Nabi pun tersenyum seraya berkata,” Orang ini tidak menyimpan dendam dalam hatinya, tidak pula kebencian kepada orang lain. Hatinya bersih dari noda hawa dan nafsu amarah, iri hati, dendam dan hasad. Hati yang bersih itulah yang menghantarkan ia masuk ke surga!” Subhanallah maha suci Allah yang mengangkat derajat orang-orang yang berhati bersih. https://muarahikmah.wordpress.com/kisah-kisah/ CERITA DI PESANTREN Baso malang campur sari yang tidak habis hari itu, diborong kemudian dibawanya ke pesantren untuk dibagikan kepada rekan gurunya yang lain, bahkan bukan hanya baso saja, ada juga cilok, kebiasaan ini telah dilakukannya sudah lama, keinginan untuk berbagi dengan rekan seperjuangan selalu berkobar di dadanya, itulah Ibu Aneng Sri Damayanti.
Ibu guru yang satu ini dikenal gesit dalam tugasnya, dengan berkendaraan motor metiknya beliau pergi mengajar ke Baiturrahman dengan penuh semangat, tidak hanya satu mata pelajaran yang diembannya, bahkan pernah beliau mengajar 3 mata pelajaran yang berbeda, terlambat bukanlah kebiasaannya, sekalipun jauh beliau belum pernah terlambat kecuali ada hambatan di jalan, beberapa kali kecelakaan ketika pergi mengajar tidak menyebabkannya menjadi berkurang keinginan mengajarnya, justru kecelakaannnya itu menambah semangat mengajarnya, kegesitan dalam mengajar diimbangi dengan kegesitannya mengendari motor metiknya. Kedekatan dengan santri bukanlah masalah bagi Ibu Aneng, bahkan rasa lelah mengajar hilang saat santri datang meminta bantuannya dalam pelajaran, kegesitan menghadapi masalah santri dilakukannya sekalipun beliau sedang menangani masalah santri lain yang menghadapnya.

PUISI GESIT

Gerakan hati tangan dan jiwa Enyahkan rasa malas yang membungkus raga Sigap menangkap kursi kemulian di alam fana Iman menyala diantara benteng benteng syuhada Tetap bekerja sekalipun waktu tinggal sehasta

KATA-KATA BIJAK

saat orang tidur, kita sudah bangun, saat orang bangun, kita sudah berkarya Saat orang baru, kita sudah selesai, saat orang selesai, kita sudah yang baru

D. ENERGIK
Selalu energik, mempunyai arti mempunyai jiwa yang aktif, dia selalu menjadi pelopor dalam segala hal, tidak pernah menunggu perintah kalau memang sudah jelas bahwa itu adalah tanggungjawabnya, dia aktif melayani tidak pasif dalam memberikan perhatian, segala permasalahan santri selalu digali sampai pada hal hal yang kecil, karena ada kekhawatiran seandainya tanggungjawabnya itu tidak terpenuhi, energik juga mempunyai arti antusias dalam bekerja, dia tidak pernah berhitung tentang jam kerjanya, yang dia hitung adalah jam kerja yang ada sudahkah tertunaikan tanggungjawabnya ? dengan bertanggungjawab terhadap 20 orang santri apakah cukup waktu yang ada ? maka wali santri yang hebat akan selalu berupaya mencari solusi yang terbaik dengan memperhatikan keefektifitasannya, sehingga masalah yang ada selalu mendapatkan jalan keluar dengan baik. Lawan energik juga mempunyai arti yang lain yaitu tidak lelet dalam menangani permasalahan yang muncul, tetapi selalu siap siaga pada kondisi apapun, arti lain energik adalah, berapi-api, bergairah, bergelora, bersemangat, dinamis, intens, perkasa, membara, bersemangat dalam melayani santri yang hakekatnya adalah pengabdian syukur kita pada Allah, wajah yang sumringah, senyum, cerah, bergairah adalah profil wali santri yang digemari Allah dan rosulnya serta seluruh manusia, karena itu semua merupakan perwujudan iman.

FIRMAN ALLAH
Artinya: “Barang siapa yang mengerjakan amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”. (QS An-Nahl: 97).

SABDA NABI
“ Dari Abu Hurairah r.a berkata, Rasulullah SAW telah bersabda : Orang mu’min yang memiliki keimanan yang kuat lebih Allah cintai daripada yang lemah imannya. Bahwa keimanan yang kuat itu akan menerbitkan kebaikan dalam segala hal. Kejarlah (sukailah) pekerjaan yang bermanfaat dan mintalah pertolongan kepada Allah. Janganlah lemah berkemauan untuk bekerja. Jika suatu hal yang jelek yang tidak disenangi menimpa engkau janganlah engkau ucapkan : Seandainya aku kerjakan begitu, takkan jadi begini, tetapi katakanlah (pandanglah) sesungguhnya yang demikian itu sudah ketentuan Allah. Dia berbuat apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya ucapan “seandainya” itu adalah pembukaan pekerjaan setan.” (Hadis dikeluarkan Muslim).[7]

CERITA HIKMAH

Dikisahkan, di sudut atap sebuah rumah yang sudah tua, tampak seekor laba-laba yang setiap hari bekerja membuat sarangnya dengan giat dan rajin. Suatu hari, hujan turun dengan derasnya dan angin bertiup sangat kencang. Rumah tua itu bocor di sana-sini dan sarang laba-laba pun rusak terkena bocoran air serta hempasan angin. Tembok menjadi basah dan licin. Tampak si laba-laba dengan susah payah berusaha merayap naik. Tetapi karena tembok licin, laba-laba pun terjatuh. Ia terus bersusah payah untuk merayap naik, tetapi jatuh dan jatuh lagi. Begitu terus berulang-ulang. Tetapi, laba-laba itu ternyata tetap berusaha merayap naik dengan kegigihan yang luar biasa.
Rumah tua itu dihuni oleh tiga orang kakak beradik yang masih muda usianya. Saat kejadian itu berlangsung, kebetulan mereka bertiga sedang menyaksikan tingkah laku si laba-laba tadi. Dan berikut adalah komentar-komentar mereka: Si sulung dengan menghela napas berkata: “Nasibku sama dengan laba-laba itu. Meskipun aku telah berusaha dengan susah payah dan terus menerus, tetapi tetap saja hasilnya nol. Sia-sia belaka! Memang beginilah nasibku. Meskipun telah berusaha sekuat apa pun percuma saja. Tidak bisa berubah !”Pemuda kedua dengan santai berkomentar: “Laba-laba itu bodoh sekali ! Kenapa tidak mencari jalan yang kering dengan memutar kemudian merayap naik ? Aku tidak akan sebodoh dia. Kelak bila ada kesulitan, aku akan mencari jalan pintas. Aku pasti memakai otak mencari akal untuk menghindari kesulitan. Tidak perlu bersusah payah menghadapinya.” Lain lagi pendapat si bungsu. Melihat kegigihan laba-laba tadi, hatinya sangat tergugah. Beginilah komentarnya: “Laba-laba itu begitu kecil, tetapi memiliki semangat pantang menyerah yang luar biasa ! Dalam hal ketabahan dan keuletan, aku harus belajar dari semangat laba-laba itu. Dengan mencontoh semangat juang seperti itu, suatu hari aku pasti bisa meraih kesuksesan !” Cerita laba-laba di atas sungguh inspiratif sekali. Sudut pandang yang berbeda dalam melihat sebuah persoalan yang terjadi akan melahirkan penanganan yang berbeda. Dan cara penanganan yang berbeda tentunya akan mendatangkan hasil yang berbeda pula.
Cara pandang sulung memperlihatkan sosok yang tanpa motivasi, tanpa target hidup yang pasti, pasrah, mudah putus asa, dan bergantung pada apa yang disebutnya “nasib”. Inilah perspektif yang paling menghambat langkah seseorang untuk meraih keberhasilan. Jika kita menganut sudut pandang seperti ini, dijamin keberhasilan akan jauh dari jangkauan kita. Sebaliknya, perspektif pemuda kedua menunjukkan tanda-tanda sebuah pribadi yang oportunis dan sangat pragmatis. Dalam menghadapi setiap persoalan, pilihan yang ditempuhnya adalah menghindari atau lari dari persoalan tersebut. Jika toh harus dihadapinya, maka ditempuhlah jalan-jalan pintas dengan menghalalkan segala cara, asalkan tujuannya tercapai. Bukannya mencari pemecahan dengan kreativitas dan kecerdasan, tetapi lebih menggunakan cara-cara yang tidak benar, mengelabui, curang, melanggar etika, dan mengabaikan hak-hak orang lain. Jika setiap kali menemui rintangan dan kita bersikap demikian. Maka bisa dipastikan mental kita akan menjadi lemah, rapuh, dan besar kemungkinan menjadi manusia “raja tega” yang negatif. Dan tentu saja, saya setuju dengan pendapat si bungsu. Kegigihan adalah semangat pantang menyerah yang harus kita miliki untuk mencapai kesuksesan. Setiap persoalan merupakan batu penguji yang harus dipecahkan dan dihadapi dengan penuh keberanian. Kita harus membiasakan diri melihat setiap masalah yang muncul sebagai suatu hal yang wajar dan harus dihadapi, bukan menghindar atau melarikan diri dari masalah.
Sesungguhnya, kualitas kematangan mental seseorang dibangun dari fondasi banyaknya hambatan, masalah, kelemahan, dan problem kesulitan yang mampu diatasi. Dan jelas sekali, dengan bekal kegigihan, ketabahan, dan usaha yang konsisten, kesuksesan yang kita peroleh pasti berkualitas dan membanggakan, membahagiakan !.Andri Wongso, Buku Wisdom Success 15
Sumber : http://bahagia.us/_g.php?_g=_lhti_forum&Bid=487 CERITA PESANTREN
Nurjanah.Himura@gmail.com dan ridaarfasyara@yahoo.com …itulah alamt email ibu nunuy dan rida..kesannya orang garut campur jepang untuk nama bu nunuy…kedua srikandi ini adalah staf kebanggaan Pesantren, khususnya di sekolah menengah Pertama Baiturrahman, beliau ini dikenal dengan pekerja yang giat di SMP. Tidak ada keluhan, siap menerima tugas sekalipun tugas ini harus menyedot pikiran , tenaga dan waktu, bila saatnya pembagian raport, maka sudah bisa dipastikan bahwa beliau kebanjiran pekerjaan dari yang meminta bantuannya untuk menyelesaikan administrasi pembelajaran, tidak heran kalau saat itu pulang ke rumah harus tengah malam.
Semangat beliau dalam bekerjapun pantas diacungkan jempol, sepertinya tidak pernah mengeluh, sepanjang saya bekerja kalau dipikir-pikir belum pernah ada keluhan yang datang berkenaan dengan beban pekerjaan yang ada di pundaknya, keduanya selalu ceria, semangat dan tidak pernah mengeluh dalam bekerja, ketika penulis bertanya, apa motivasi himura dan rida bekerja mereka berdua menjawab bahwa motivasinya mencari Ridho Allah, subhanallah….ternyata inilah bahan bakarnya kenapa mereka selalu bersemangat ceria dan tidak pernah mengeluh terhadap pekerjaan yang diembannya. PUISI ENERGIK Engkau adalah hamba Allah yang tegar Negeri dimana tanah di pijak disitulah amal berkobar Edarkan kalimat bermakna tuk senantiasa berkibar Rajut benang benang kemulian agar selalu berakar Gembirakan para penghulu yang dulu berujar Indahnya ketaatan kepada yang maha Akbar Kan berujung di dermaga impian surga terkabar KATA-KATA BIJAK Amal soleh adalah hukum kekekalan energy yang sebenarnya

E. MURAH HATI
Atas dasar cinta, ruku dan sujud kepada Allah kemurahan hati wali santri akan menjadi angin penyejuk, penyegar, pencerah bagi santri, bentuk murah hati seorang wali santri akan terlihat dari kedermawanannya terhadap santri, jika santri memerlukan pertolongan baik bersifat materi ataupun non materi, maka wali santri selama bisa dilakukan akan dilakukan, begitu pula berkaitan dengan dermawan waktu, tenaga, pikiran, nasehat, ataupun harta sekalipun siap ditunaikan untu kemudahan santri. Disamping itu murah hati juga adalah suka menolong,jiwa menolong ini selalu hadir di setiap gerak tangan dan kakinya, kebaikan hatinya menjadi air segar bagi santrinya, mudah memberi juga merupakan keutaman wali santri, karena wali santri meyakini barang siapa bisa member maka dia akan diberi yang lebih banyak oleh Allah, dia tidak pelit dengan apapun, karena kemurahan hati itu semuanya merupakan sifat kasih sayang Allah dan rosulnya yang wali santri teladani. Bagaimana rosul kita telah mengajarkan kepada orang yang sekalipun benci kepada kita, kita harus tetap bermurah hati kepadanya, pernah rosul allah senantiasa bermurah hati kepada seorang nenek yahudi yang tua dan buta, sekalipun nenek ini senanatiasa menghina dan menjelek-jelekannya, namun rosul tidak pernah tertahan tangan dan kakinya untuk bermurah hati kepadanya sekalipun nenek itu terus menghinanya, itulah yang diajarkan Allah kepada Rosulnya didalam surat al Maidah pertengahan ayat 8……….Jangan sampai kebencian(mu) kepada suatu kaum karena mereka menghalang-halangimu……………… FIRMAN ALLAH 63. [1]Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih[2] itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati[3] dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan, “Salam[4],” SABDA ROSUL Sesungguhnya Allah Maha Pemurah, Dia mencintai orang yang bermurah hati. (HR. Tirmidzi)

CERITA HIKMAH

Di usia muda, jiwanya sudah cemerlang dengan cahaya iman. Hatinya dipenuhi pengertian dan pemahaman tentang Islam. Pertama kali berjumpa dengan Rasulullah saw, ia langsung jatuh cinta dan menyerahkan seluruh jiwa raganya; menjadi pendamping beliau. Kemana pun beliau pergi, Rabi’ah bin Ka’ab selalu berada di sampingnya. Rabi’ah melayani segala keperluan Rasulullah sepanjang hari hingga habis waktu Isya’ yang terakhir. Bahkan lebih dari itu, ketika Rasulullah hendak berangkat tidur, tak jarang Rabi’ah mendekam berjaga di depan pintu rumah beliau. Di tengah malam, ketika Nabi SAW bangun untuk melaksanakan shalat, seringkali ia mendengar beliau membaca Al-Fatihah dan ayat-ayat Alquran.
Sudah menjadi kebiasaan Rasulullah saw, jika seorang berbuat baik kepadanya, maka beliau pasti membalasnya dengan lebih baik lagi. Begitulah, beliau membalas kebaikan Rabi’ah dengan kebaikan pula. Pada suatu hari beliau memanggilnya seraya berkata, “Wahai Rabi’ah bin Ka’ab, katakanlah permintaanmu, nanti kupenuhi!” Setelah diam sejenak, Rabi’ah menjawab, “Ya Rasulullah, berilah saya sedikit waktu untuk memikirkan apa sebaiknya yang akan kuminta. Setelah itu, akan kuberitahukan kepada Anda.””Baiklah kalau begitu,” jawab Rasulullah. Rabi’ah bin Ka’ab adalah seorang pemuda miskin, tidak memiliki keluarga, harta dan tempat tinggal. Ia menetap di Shuffatul Masjid (emper masjid), bersama-sama dengan kawan senasibnya, yaitu orang-orang fakir dari kaum Muslimin. Masyarakat menyebut mereka “dhuyuful Islam” (tamu-tamu) Islam. Bila ada yang memberi hadiah kepada Rasulullah, maka biasanya beliau memberikannya kepada mereka. Rasulullah hanya mengambil sedikit saja. Dalam hati, Rabi’ah bin Ka’ab ingin meminta kekayaan dunia agar terbebas dari kefakiran. Ia ingin punya harta, istri, dan anak seperti para sahabat yang lain. Namun, hati kecilnya berkata, “Celaka engkau, wahai Rabi’ah bin Ka’ab! Kekayaan dunia akan lenyap. Mengapa engkau tidak meminta kepada Rasulullah agar mendoakan kepada Allah kebajikan akhirat untukmu?”Hatinya mantap dan merasa lega dengan permintaan seperti itu. Kemudian ia datang kepada Rasulullah dan berkata, “Wahai Rasulullah, saya mohon agar engkau mendoakan kepada Allah agar menjadi temanmu di surga. “Agak lama juga Rasulullah SAW terdiam. Sesudah itu barulah beliau berkata, “Apakah tidak ada lagi permintaamu yang lain?”
“Tidak, ya Rasulullah. Tidak ada lagi permintaan yang melebihi permintaanku,” jawab Rabi’ah bin Ka’ab mantap. “Kalau begitu, bantulah aku dengan dirimu sendiri. Perbanyaklah sujud,” kata Rasulullah. Sejak itu, Rabi’ah bersungguh-sungguh beribadah, agar mendapatkan keuntungan menemani Rasulullah di surga, sebagaimana keuntungannya melayani beliau di dunia. Tidak berapa lama kemudian Rasulullah SAW memanggilnya. “Apakah engkau tidak hendak menikah, hai Rabi’ah?” tanya beliau. “Saya tak ingin ada sesuatu yang menggangguku dalam berkhidmat kepada Anda, ya Rasulullah. Di samping itu, saya tidak mempunyai apa-apa untuk mahar kawin, dan untuk kelangsungan hidup berumah tangga,” jawab Rabi’ah. Rasulullah diam sejenak. Tidak lama kemudian beliau memanggil Rabi’ah kembali seraya bertanya, “Apakah engkau tidak hendak menikah, ya Rabi’ah?” Dan Rabi’ah kembali menjawab seperti seperti semula. Hingga ketiga kalinya Rasulullah memanggil dan bertanya serupa. Rabi’ah menjawab, “Tentu, ya Rasulullah. Tetapi, siapakah yang mau kawin denganku, keadaanku seperti yang Anda maklumi.” “Temuilah keluarga Fulan. Katakan kepada mereka bahwa Rasulullah menyuruhmu kalian supaya menikahkan anak perempuan kalian, si Fulanah dengan engkau. “Dengan malu-malu Rabi’ah datang ke rumah mereka dan menyampaikan maksud kedatangannya. Tuan rumah menjawab, “Selamat datang ya Rasulullah, dan dan selamat datang utusan Rasulullah. Demi Allah, utusan Rasulullah tidak boleh pulang, kecuali setelah hajatnya terpenuhi!”
Rabi’ah bin Ka’ab kemudian menikah dengan anak gadis tersebut. Dan Rasulullah juga menghadiahkan sebidang kebun kepadanya, berbatasan dengan kebun Abu Bakar Ash-Shiddiq. Suatu ketika, Rabi’ah sempat berselisih dengan Abu Bakar mengenai sebatang pohon kurma. Rabi’ah mengaku pohon kurma itu miliknya, sementara Abu Bakar juga mengakui hal yang sama. Ketika perselisihan memanas, Abu Bakar sempat mengucapkan kata-kata yang tak pantas didengar. Setelah sadar atas ketelanjurannya mengucapkan kata-kata tersebut, Abu Bakar menyesal dan berkata kepada Rabi’ah, “Hai Rabi’ah, ucapkan pula kata-kata seperti yang kulontarkan kepadamu, sebagai hukuman (qishash) bagiku!” Rabi’ah menjawab, “Tidak! Aku tidak akan mengucapkannya!” “Akan kuadukan kamu kepada Rasulullah, kalau engkau tidak mau mengucapkannya!” kata Abu Bakar, lalu pergi menemui Rasulullah SAW. Rabi’ah mengikutinya dari belakang. Kerabat Rab’iah dari Bani Aslam berkumpul dan mencela sikapnya. “Bukankah dia yang memakimu terlebih dahulu? Kemudian dia pula yang mengadukanmu kepada Rasulullah?” kata mereka.Rabi’ah menjawab, “Celaka kalian! Tidak tahukah kalian siapa dia? Itulah “Ash-Shiddiq”, sahabat terdekat Rasulullah dan orang tua kaum Muslimin. Pergilah kalian segera sebelum dia melihat kalian ramai-ramai di sini. Aku khawatir kalau-kalau dia menyangka kalian hendak membantuku dalam masalah ini sehingga dia menjadi marah. Lalu dalam kemarahannya dia datang mengadu kepada Rasulullah. Rasulullah pun akan marah karena kemarahan Abu Bakar. Kemarahan mereka berdua adalah kemarahan Allah. Akhirnya, aku yang celaka?”
Mendengar kata-kata Rabi’ah, mereka pun pergi. Abu Bakar bertemu dengan Rasululah SAW dan menuturkan apa yang terjadi.

Rasulullah mengangkat kepala seraya bertanya pada Rabi’ah, “Apa yang terjadi antara kau dengan Ash-Shiddiq?” “Ya Rasulullah, beliau menghendakiku mengucapkan kata-kata makian kepadanya, seperti yang diucapkannya kepadaku. Tetapi, aku tidak mau mengatakannya,” jawab Rabi’ah. Kata Rasulullah, “Bagus! Jangan ucapkan kata-kata itu. Tetapi katakanlah, semoga Allah mengampuni Abu Bakar!”Rabi’ah pun mengucapkan kata-kata itu. Mendengar kata-kata Rabi’ah, Abu bakar pergi dengan air mata berlinang, sambil berucap, “Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan, wahai Rabi’ah.” Mereka pun hidup rukun kembali.

CERITA PESANTREN
Kamis tanggal 14 Maret 2016 jam 9.00…ketika penulis akan masuk ke kopontren..nampak ada seorang santri kelas 9 duduk diteras kantin sambil menguyah makanan ringan namanya Dapin, saat itu penulis mendekatinya untuk menanyakan kenapa ada di luar, tidak masuk kelas…Pin kenapa ada di luar? Memangnnya tidak ada pelajaran ?…o saya sudah selesai pak…jawabnya…selesai gimana? Kata penulis kan waktunya bukan jam istirahat ? Oh saya baru selesai ujian sekolah pak…jawab santri …oh..penulis baru ingat bahwa waktu itu adalah jadwal ujian sekolah ..oh begitu… saat penulis bertanya, dapin juga sedang memberi makan seekor kucing, saat makan ringan itu dimakan dapin giliran selanjutnya dia beri makan kucing, begitulah seterusnya hingga makan ringan itu habis dimakan berdua oleh dapin dan kucing yang ada di depannya…. Subhanallah kemurahan hati santri Baiturrahman telah mendorong dirinya untuk menyayangi makhluk lainnya. Hari jum’at tanggal 15 Maret 2016 jam 11.20 ….saat orang akan melaksanakan sholat jum’at, terlihat seorang santri berpakaian putih keluar dari asrama Ali bin Abi thalib untuk melaksanakan sholat jum’at perawakannya tinggi dialah Helmi, ketika santri berjalan menuju tangga mesjid, datanglah seorang laki-laki tua yang sudah berumur dengan menggunakan tongkat berjalan menuju mesjid dengan langkah agak gontai…Mang Ipin..itulah panggilannya…mang ipin ini dulunya adalah pegawai pondok pesantren, karena sudah ujur beliau pensiun dari pondok. Ketika mang ipin berjalan menuju tangga dengan agak gontai…dengan cepat santri Helmi memegang mang ipin, menolong dengan cara memapahnya sampai naik tangga, kemudian dibantunya untuk duduk di tempat yang diinginkannya. Subhanallah….kemurahan hatinya telah menggerakkan santri helmi untuk menolong orang yang perlu dibantunya.

PUISI MURAH HATI SESAMA

Melonjak belas kasihmu saat melihat sesamamu tersedak Urat Jiwamu tersentak saat melihat sesamamu tak bergerak
Rasa Hatimu tergerak saat melihat sesamamu tergeletak
Air Belas kasihanmu melonjak saat melihat sesamamu tersedak
Hasrat mulutmu tidak tertawa ngakak saat sesamamu merangkak
Hingga Kau berikan air kehidupan saat sesamamu kehausan
Atau Kau berikan hidangan saat sesamamu kelaparan
Terus Kau balut luka yang menganga di badan saat sesamamu kesakitan
Indahnya ketulusan saat Kau berikan kereta tunggangan saat sesamamu tak bisa berjalan
Seperti Engkau berani mengorbankan diri
Enyahkan pagar berduri untuk menolong orang yang setengah mati
Siapa saja Wali santri yang murah hati
Aduhai Kiranya Tuhan senantiasa memberkati
Manisnya madu surga Bagi setiap orang yang memiliki hati
Andalah penghuni surga karna tangan dan kakimu penuh bukti

KATA-KATA BIJAK

Murah hati kemulian diri, Murah senyum menyenangkan, murah diri menghinakan

F. AMANAH
Kemampuan Wali santri untuk memberi rasa aman dan amanah dalam menyempurnakan pengabdian kepada Allah akan menjadi dinding yang kuat terhalangnya santri melakukan hal hal yang tidak baik.Para orang tua santri telah mempercayakan atau menitipkan kepada Lembaga Ponpes Baiturrahman untuk mencetak para santri menjadi hamba Allah yang soleh, kepercayaan ini harus dipandang sebagai sesuatu amanah yang besar dari orang tua yang pada intinya amanah dari Allah, karena itu bagaimana menciptakan keamanan dan ketentraman yang baik, harus menjadi perhatian Baiturrahman dalam hal ini Wali santri agar para santri bisa merasakan keberadaan asramanya dalam keadaan aman dan nyaman tata tenttrem kerto raharjo, kesetian dalam menjalankan amanah ini dengan terus mengontrol dan mengevaluasi para santrinya bagaikan prajurit menjaga markasnya. Dapat dipercaya dalam menjaga kelangsungan proses belajar para santri, sehingga segala keputusan yang diambil para wali santri adalah keputusan yang terbaik bagi para santrinya, sehingga santri menjadi sosok yang membahagiakan bukan hanya bagi para orang tuanya tetapi juga bagi para penanamnya. Pendek kata amanah adalah sumber kebahagiaan FIRMAN ALLAH “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha melihat”. SABDA ROSUL “Tunaikan amanah kepada orang yang memberi amanah kepadamu, dan janganlah kamu menghianati orang yang mengkhianatimu” [Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ahlussunnan]

CERITA HIKMAH
Dalam sebuah riwayat, dikisahkan ada seorang tukang kebun bernama Mubarak. Ia seorang miskin yang bekerja di sebuah kebun milik majikannya. Ia sudah bekerja di sana beberapa tahun. Suatu ketika, majikannya yaitu pemilik kebun tadi yang juga salah seorang saudagar dari Hamdzan kedatangan tamu, seorang kawan lamanya. Sang majikan ingin menjamu tamunya tersebut dan memerintahkan kepada Mubarak untuk memetik beberapa buah delima. “Wahai Mubarak, aku ingin engkau mengambil sekeranjang buah delima yang manis… segeralah engkau ke kebun untuk memetiknya”. Perintah sang majikan.”Mubarak pun bergegas menuju ke kebun untuk memetik delima yang diinginkan majikannya. Tak lama kemudian, Mubarak datang dan membawa sekeranjang delima. Namun ketika sang majikan mengupas buah tersebut, ternyata Mubarak memetik buah yang masam. Sang majikan sedikit kesal, lantas ia kembali memerintahkan Mubarak untuk memetik sekeranjang lagi.”Jangan salah lagi, pilih buah yang manis…” pesan sang majikan.
Mubarak pun beranjak dan memetiknya dari beberapa pohon yang lain. Namun setelah dimakan oleh sang majikan, ternyata buahnya masih saja masam. Kali ini, majikan marah, ia merasa malu kepada tamunya, namun ia masih bisa memendam rasa marahnya tersebut. Ia kemudian memerintahkan Mubarak kembali ke kebun dan memilih buah yang sudah manis. Namun sama saja, ternyata setelah dicicipi, buah yang dipetik Mubarak masih masam.

Kontan sang majikan sangat marah. Ia tak habis pikir mengapa selalu dipetik buah yang masam. “Kamu ini bagaimana, mengapa sudah tiga kali engkau memetik, selalu saja yang masam yang engkau petik? Bukankah engkau sudah bekerja di sini sudah bertahun-tahun? Apakah engkau ingin membuat aku malu di hadapan tamuku?” . Tanya majikannya. Mubarak menjawab: “Tuan, saya mohon maaf. Saya memang sudah bekerja di kebun Tuan selama bertahun-tahun. Tapi selama ini saya tidak pernah memakan dan mencicip buah delima tuan sebiji pun, karena tuan tidak pernah mengizinkannya hal itu kepada saya. Saya tidak ingin memakan makanan yang tidak halal bagi saya…”. Sang majikan terperangah dengan jawaban penjaga kebunnya itu. Dalam hati, ia sangat kagum akan kejujurannya. Setelah tamunya itu pergi, beberapa hari kemudian, sang majikan berkata kepada Mubarak: “Mubarak, engkau tahu bahwa aku mempunyai seorang anak perempuan, dan sampai sekarang sudah banyak yang ingin melamarnya. Menurutmu, siapa yang pantas memperistri putriku ini?” Mubarak menjawab: “Tuan, dulu orang-orang jahiliyah menikahkan putri-putri mereka lantaran keturunan. Orang Yahudi menikahkan lantaran harta, sementara orang Nashara menikahkan putri karena keelokan paras. Sedangkan kita umat Islam diperintahkan untuk menikahkan anak karena akhlak dan agamanya” Jawab Mubarok.

Sang majikan kembali dibuat takjub dengan pemikirannya ini. Akhirnya majikan tadi pergi dan memberitahu kepada isterinya. “Istriku, menurutku tidak ada yang lebih pantas untuk menikahi putri kita ini selain Mubarak.” Ujar sang majikan kepada istrinya. Dan sang istri pun setuju. Akhirnya, Mubarak pun kemudian menikahi putri majikannya tersebut, dan mertuanya memberinya harta yang cukup melimpah. Di kemudian hari, isteri Mubarak ini melahirkan seorang putra yang diberi nama Abdullah. Abdullah inilah yang di kemudian hari dikenal sebagai Abdullah bin al-Mubarak, seorang ulama besar, pakar hadits, zuhud sekaligus mujahid. Seorang ulama besar yang merupakan hasil pernikahan terbaik dari pasangan orang tua kala itu. Sampai-sampai Al-Fudhoil bin ‘Iyadh Rohimahullah mengatakan: “Demi pemilik Ka’bah, kedua mataku belum pernah melihat orang yang serupa dengan Ibnu al-Mubarak. Itulah sikap amanah, akhlak terpuji seorang muslim yang diwariskan oleh Rasulullah SAW. Suatu sikap yang berat, dan terkadang pahit, namun berbuah kebahagiaan dan surga.
http://www.putramelayu.web.id/2013/11/kisah-nyata-amanah-dan-kejujuran.html

CERITA PESANTREN
Asssalamu’alaikum Mom…. ikut masak ya, boleh tidak ? ..sapa santri kelas 12 yang berperawakan sedang dengan kulit putih dan hidung mancung kepada Mom Linda guru bahasa Inggris…oh…boleh…tapi ingat bekasnya nanti dibersihkan lagi yaa…jawab Mom Linda kepada gadis santri berkerudung coklat itu…baik mom Insya Allah nanti saya bersihkan… Kegiatan santri memasak memang sudah tidak asing lagi di pondok, kegiatan ini biasanya kalau ada kegaitan kelas ataupun kegiatan pribadi mereka dalam rangka mengisi kegiatan yang kosong, terutama biasanya pada malam minggu …apabila mereka ada kegiatan memasak, maka yang menjadi sasaran tempat memasaknya adalah rumah para guru atau wali santri yang ada disekitar pesantren…sehingga kalau ada kegiatan itu rumah guru atau wali santri tadi banyak yang dipinjam barang-barangnya, namun sayangnya diantara santri yang meminjam barang guru atau wali santri tadi, ada yang tidak amanah, sehingga ketika kegiatan sudah beres, ada barang yang hilang dan tempat menjadi kotor, sehingga dari kejadian itu tidak sedikit rumah guru atau wali santri menjadi berkurang barangnya dan tempatnya seperti kapal pecah.
Lain halnya dengan gadis tadi yang meminta kepada Mom linda untuk ikut masak di rumah Mom Linda, Mom Linda tidak keberatan dengan rumahnya dipakai masak oleh santri tadi…oh ya…gadis santri tadi namanya Hasna….kenapa Mom Linda tidak keberatan rumahnya dan barang-barangnya dipinjam oleh Hasna untuk kegiatan memasak dengan teman-temannya, karena menurut pengalaman Mom Linda yang disampaikan kepada penulis, bahwa selama rumahnya dan barang-barangnya dipakai masak oleh Hasna… belum pernah ada yang hilang,…bahkan tempatnya kembali bersih.. bahkan katanya lebih bersih dari sebelumnya….Subhanallah…Hasna telah amanah kepada dirinya….itulah..amanah..membuat orang senang..dan ridho sekalipun dibebani, orang yang amanah akan mendatangkan kemudahan bagi dirinya dan juga orang lain, sebaliknya orang yang khianat akan menyebabkan kerugian bukan hanya pada dirinya sendiri tetapi juga kepada orang lain…semoga menjadi amanah adalah bagian dari cita-cita diri kita semuanya, baik yang menjadi santri ataupun menjadi wali santri, pendek kata siapapun dirinya semoga menjadi amanah dalam segala hal.

PUISI ” AMANAH”

Amanah adalah tanggungjawab Menjalankannya kenikmatan yang lezat Amanah adalah kemuliaan bagi yang hak Nasehat hidup bagi yang mau bersikap Amanah adalah sumber ketentraman Hidup dengannya adalah sumber kebahagiaan

KATA-KATA BIJAK

Kemuliaan seseorang bukan dari apa yang dia dapatkan tetapi dari apa yang dia berikan dalam menjalankan amanah.

G. RESPOSIF/RESPONSIBLE
Responsif dan bertanggung jawab merupakan dambaan setiap rakyat pada pimpinannya, murid pada gurunya, umat pada pimpinannya, anak pada orang tuanya serta santri pada wali santrinya, wali santri yang responsif dan bertanggung jawab adalah wali santri yang tanggap terhadap semua permasalahan santrinya, sekalipun hujan lebat, Guntur menggelegar kilat menyambar, wali santri yang responsive dan bertanggung jawab akan senantiasa hadir memberikan dorongan, arahan, nasehat, perbaikan bagi santri-santrinya, dia peka terhadap santri yang menyendiri, dia peka terhadap santri yang melamun karena rindu orang tuanya, dia kritis terhadap situasi dan kondisi di asrama dan lingkungan sekitarnya dan dia juga senantiasa kerjasama dengan semua pihak demi terbangunnya santri yang mandiri dan berkarakter. Sikap responsif adalah kesadaran akan tugas yang harus dilakukan dengan sungguh-sungguh. Kepekaan yang tajam dalam menyikapi berbagai hal yang dihadapinya dan kepahaman makna tanggungjawab yang harus dipikul adalah ciri utama kepribadiannya. Ia tidak merasa tidak enak jika suatu saat melalaikan kewajibannya. Perasaan berdosa selalu menghantuinya. Karena itu, kapanpun, bagaimanapun dan dalam kondisi apapun ia selalu berusaha secara maksimal untuk melaksanakan tugasnya. Tugas apapun selama dalam kebenaran dan dalam koridor ajaran Allah. Bukan hanya kewajiban ibadah ritual melainkan juga ibadah sosial.

Wali santri yang responsive akan memiliki kepekaan yang tinggi, setiap perasaan yang muncul baik dari internal atupun dari orang lain akan dicermatinya sebaik mungkin sehingga masalah lebih besar akan bisa dihindari.

FIRMAN ALLAH
Dan dia memeriksa burung-burung lalu berkata: “Mengapa aku tidak melihat hud-hud, apakah dia termasuk yang tidak hadir. Sungguh aku benar-benar akan mengazabnya dengan azab yang keras, atau benar-benar menyembelihnya kecuali jika benar-benar dia datang kepadaku dengan alasan yang terang”. Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud), lalu ia berkata: “Aku telah mengetahui sesuatu yang belum kamu ketahui; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini,
Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar. Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk, agar mereka tidak menyembah Allah Yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi dan Yang mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Allah, tiada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Dia, Tuhan Yang mempunyai `Arsy yang besar”. (An-Naml: 20-26) Ayat di atas menggambarkan sikap responsif Nabi Sulaiman sebagai seorang pemimpin, dan sikap responsive burung Hud-hud sebagai anggota yang paham akan tugasnya.

SABDA NABI
Setiap pemimpin yang menutup pintunya terhadap orang yang memiliki hajat, pengaduan, dan kemiskinan maka allah akan menutup pintu langit terhadap segala pengaduan, hajat dan kemiskinannya.

CERITA HIKMAH
CEO Google memiliki kisah inspiratif tentang kecoa. Ah masa iya sih! Kecoa yang menjijikkan itu? Yap betul ! Kecoa yang lantas mengubah banyak hal dari dirinya tentang bagaimana memandang setiap tantangan dalam kehidupan. Nama Sundar Pichai kini mulai banyak dikenal orang ketika menjabat pimpinan tertinggi raksasa perusahaan Google. Pichai terlahir di Tamil Nadu, India pada tahun 1972. Pichai dikenal oleh karyawan Google sebagai seseorang yang selalu berhasil merealisasikan rencana menjadi kenyataan. Beberapa proyek dia yang sukses yakni browser Chrome, Chrome OS, dan Chromebook. Sundar Pichai memang dikenal sebagai orang yang ramah, cerdas, dan pekerja keras. Ada sebuah kisah inspiratif dari pidato yang indah oleh Sundar Pichai – seorang Alumni IIT-MIT dan mantan Global Head dari Google Chrome. Apa isi pidato tersebut? kisah inspiratif Sundar Pichai berpidato tentang kecoa. Kisah inspiratif dibalik kecoa yang menjijikkan. Teori kecoa untuk Pengembangan Pribadi Di sebuah restoran, seekor kecoa tiba-tiba terbang dari suatu tempat dan mendarat di seorang wanita. Dia mulai berteriak ketakutan. Dengan wajah yang panik dan suara gemetar, dia mulai melompat, dengan kedua tangannya berusaha keras untuk menyingkirkan kecoa tersebut. Reaksinya menular, karena semua orang di kelompoknya juga menjadi panik. Wanita itu akhirnya berhasil mendorong kecoa tersebut pergi tapi … kecoa itu mendarat di pundak wanita lain dalam kelompok. Sekarang, giliran wanita lain dalam kelompok itu untuk melanjutkan drama. Pelayan bergegas ke depan untuk menyelamatkan mereka. Dalam sesi saling lempar tersebut, kecoa berikutnya jatuh pada pelayan. Pelayan berdiri kokoh, menenangkan diri dan mengamati perilaku kecoa di kemejanya. Ketika dia cukup percaya diri, ia meraih kecoa itu dengan jari-jarinya dan melemparkan nya keluar dari restoran. Menyeruput kopi dan menonton hiburan itu, antena pikiran saya mengambil beberapa pemikiran dan mulai bertanya-tanya, apakah kecoa yang bertanggung jawab untuk perilaku heboh mereka? Jika demikian, maka mengapa pelayan tidak terganggu? Dia menangani peristiwa tersebut dengan mendekati sempurna, tanpa kekacauan apapun. So, para hadirin.. CEO dari India ini kemudian bertanya: “Lalu apa yang bisa saya dapat dari kejadian tadi?” Ia melanjutkan pidatonya..“Dari tempat saya duduk, saya berpikir..Kenapa 2 wanita karir itu panik, sementara wanita pelayan itu bisa dengan tenang mengusir kecoa? Berarti jelas bukan karena kecoanya, tapi karena respon yang diberikan itulah yang menentukan. Ketidakmampuan kedua wanita karir dalam menghadapi kecoa itulah yang membuat suasana cafe jadi kacau.
Kecoa memang menjijikkan tapi ia akan tetap seperti itu selamanya. Tak bisa kau ubah kecoa menjadi lucu dan menggemaskan. Begitupun juga dengan masalah. Atau macet dijalanan, atau istri yang cerewet, teman yang berkhianat, bos yang sok kuasa, bawahan yang tidak penurut, deadline yang ketat, tetangga yang mengganggu, dsb. Sampai kapanpun semua itu tidak akan pernah menyenangkan.Tapi bukan itu yang membuat semuanya kacau. Ketidakmampuan kita untuk menghadapi yang membuatnya demikian.”Yang mengganggu wanita itu bukanlah kecoa, tetapi ketidakmampuan wanita itu untuk mengatasi gangguan yang disebabkan oleh kecoa tersebut. Disitu saya menyadari bahwa, bukanlah teriakan ayah saya atau atasan saya atau istri saya yang mengganggu saya, tapi ketidakmampuan saya untuk menangani gangguan yang disebabkan oleh teriakan merekalah yang mengganggu saya. Bukanlah kemacetan lalu lintas di jalan yang mengganggu saya, tapi ketidakmampuan saya untuk menangani gangguan yang disebabkan oleh kemacetan yang mengganggu saya. Reaksi saya terhadap masalah itulah yang sebenarnya lebih menciptakan kekacauan dalam hidup saya, melebihi dari masalah itu sendiri. Apa hikmah dibalik kisah inspiratif dari pidato ini? Kita mengerti, kita tidak harus bereaksi dalam hidup. Akan lebih baik kita harus selalu merespon. Para wanita bereaksi, sedangkan pelayan merespon. Reaksi selalu naluriah sedangkan respon selalu dipikirkan baik-baik.Sebuah cara yang indah untuk memahami ………… HIDUP. Orang yang BAHAGIA bukan karena Semuanya berjalan dengan benar dalam Kehidupannya..

Dia BAHAGIA karena Sikapnya dalam menanggapi Segala sesuatu di Kehidupannya Benar..! Itulah kira-kira hikmah yang dapat diambil dari sebuah kisah inspiratif dari pidato CEO Google, Sundar Pichai. Apakah kita juga sama memandang kecoa (baca:masalah) dalam hidup ini? http://jokokurniawan.com/blog/2015/09/17/harus-reaktif-atau-responsif/ Inilah gambaran orang yang mempunyai tanggung jawab, dia akan selalu merespon sesuatu dengan positif, tidak terbawa pengaruh orang lain,dia akan berusaha demi tanggungjawab yang ada pada dirinya untuk memberikan yang lebih bermanfaat buat orang lain, gambaran wali santri seperti inilah yang diharapakan oleh kita semua.

CERITA PESANTREN
Ketika saya bertanya kepada guru-guru adakah cerita insfiratif berkaitan dengan anak-anak kita yang berhubungan dengan Tanggungjawab ? seketika itu ibu martini guru matematika menjawab, ada pak!..saya terkesan dengan sikap anak-anak Baiturahaman khususnya kelas 12….memang kenapa bu? Ada cerita indah? Jawab saya…ada pak yamin…gini ceritanya…Sudah menjadi metode saya dalam mengajarkan matematik adalah dengan cara bekelompok, dimana dalam kelompok itu anak-anak yang mempunyai kelebihan dibagi rata ada dalam setiap kelompok…Tanggung jawab mereka adalah membantu temannya yang belum mengetahui, untuk belajar bersama dengan jalan menerangkan materi denagn sejelas-jelasnya hingga mereka yang belum tahu menjadi tahu, kalau sudah diajarkan akan diadakan tes tertulis yang nantinya nilainya itu akan dibagi rata antara yang menerangkan dan yang diberi penerangan.
Singkat cerita dalam Salah satu kelompok ada yang bernama difa,…oleh Bu martini anak ini disuruh membimbing Fadhil, agar fadhil memahami pelajaran yang sudah diberikan melalui penjelasan temannya. Setelah diterangkan diadakanlah tes oleh bu martini sebagaimana kesepakatan sebelumnya, setelah di tes, ternyata difa nilainya bagus sedangkan fadhil nilainya masih kurang bagus, lalau bu martini bertanya kepada keduanya….difa gimana nilainya mau digabung sebgaimana perjanjian…atau mau sendiri-sendiri, kalau digabung nanti kamu nilainya jadi berkurang, kalau tidak, nilai kamu tetap bagus…? Kata Bu Murtini…kemudian difa menjawab…ya bu digabung aja, tidak apa-apa, karena saya merasa saya belum optimal memberikan penjelasan dalam menerangkan ke fadhil….seharusnya nilai fadhil bagus seperti saya, bu, kata difa ?….subhanallh,,teriak Bu Murtini dalam hatinya…ternyata Santri Difa mempunyai tanggung jawab yang besar terhadap tugas yang diberikan, sehingga ketika nilai fadhil kurang, dia merasa bertanggungjawab….Lain halnya dengan fadhil, ketika bu martini tahu bahwa nilai difa akan digabung dengan nilai dirinya kemudian dibagi dua, fadhil berkata: jangan bu kasihan Difa…sudah aja nilainya buat Difa, karena saya merasa bahwa sayanya yang kurang belajar serius dan focus, sya kurang optimalbelajarnya bu…. subhanallh,,teriak Bu Murtini dalam hatinya…ternyata Santri fadhil tidak kalah dalam rasa mempunyai tanggung jawab yang besar terhadap tugas yang diberikan, sehingga ketika nilai fadhil kurang, dia merasa bertanggungjawab…. Ya itulah tanggung jawab, tidak pernah orang yang bertanggungjawab melimpahkan beban kepada orang lain, kalau sebenarnya itulah yang menjadi tanggungjawabnya, dia akan berusah focus, serius, optimal, tuntas dalam menyelesaikan tanggungjawabnya, itulah gambaran tanggungjawab yang harus kita miliki bersama, semoga…

PUISI PEKA

Pecah suara malam menjadi air wudhu kemulian Enyahkan selimut dunia menjadi pembuat kebajikan Ketika gejolak surga menjadi dambaan Aku pastikan tak ada duka pada kalian

KATA-KATA BIJAK

Air mata santri akan berbicara saat mulutnya tak mampu lagi menjelaskan rasa sakitnya

H. ISTIQOMAH
Mutiara kehidupan adalah perhiasan akhlaq manusia yang mahal dan langka, apabila seluruh komponen baiturrahman termasuk wali santri Baiturrahman mampu memilikinya maka mahkota kejayaan akan dimilikinya, karena barang siapa tidak sanggup istiqomah, sesungguhnya dia sedang membangunkehancuran dirinya. Semua nilai dan karakter yang harus dimiliki wali santri agar menjadi DIGEMARI yaitu disiplin, ikhlas, gesit, energik, murah hati, amanah, resfonsif/responsible, akan menjadi tidak bermakna jika tidak dimiliki karakter dan nilai ISTIQOMAH, artinya bahwa semua karakter dan nilai yang dibangun diatas harus tetap (tidak berubah-ubah), ajek, selaras, konsisten, stabil, mantap dan konstan, tidak rubah oleh waktu tidak rusak oleh kemarau dan hujan, baik dalam keadaan lapang dan sempit, baik dalam keadaan hati susah atau senang semua nilai di atas stabil dan harmonis. Wali santri yang berdiri tegak diatas sunah dan fitrah akan memberikan aura yang baik bagi para santri untuk tegak berjihad teguh di bawah naungan qur’an dan sunah, tetaplah ISTIQOMAH insya allah JANNAH. FIRMAN ALLAH “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami ialah Allah” kemudian mereka istiqomah pada pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”.” (QS. Fushilat: 30)

SABDA NABI
Abu amr, (ada yang menyebutnya Abu Amrah) Sufyan bin Abdillah ra. Berkata kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, katakana kepadaku perkataan tentang islam yang tidak akan aku tanyakan kepada selain engkau!” Beliau bersabda, ‘Katakanlah, ‘Amantu Billah (Aku beriman kepada Allah), kemudian istiqamalah’.” (Diriwayatkan oleh Imam Muslim) Muslim tidak meriwayatkan hadits Sufyan bin Abdillah dalam Shahihnya kecuali hadits ini. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah dan An-Nasai. Ibnu Hajar berkata dalam Al-Ishabah, “Sufyan masuk Islam bersama rombongan orang-orang Tsaqif dan berkata kepada nabi tentang suatu perkara yang dijadikan pegangan. Nabi berkata kepadanya, “katakanlah, “Tuhanku adalah Allah” kemudian Istiqomalah.”

CERITA HIKMAH
Kisah yang sangat menyentuh hati tentang keistiqomahan seorang sahabat Rasulullah dalam menjalankan agamanya. Namanya adalah Abdullah Dzul Bajadain (artinya: yang memiliki dua potong kain), itu merupakan nama pemberian Rasulullah. Namanya yang sebenarnya adalah Abdul Uza al Mazani. Ia berasal dari sebuah kabilah Mazaniah yang terletak di antara Mekah dan Madinah. Ia telah ditinggalkan oleh kedua orangtuanya sejak masih kecil, karena itulah ia tinggal bersama pamannya. Sang paman adalah orang yang sangat kaya. Banyak harta yang telah dikeluarkannya untuk membiayai Abdul Uza. Ketika ia berumur 16 tahun, ia hidup bergelimang harta. Sampai-sampai ia hanya mau mengenakan pakaian buatan luar. Ia pun memiliki 2 ekor kuda yang selalu dipakainya bergantian. Tapi sayang sekali, ia dan kaum bangsanya masih menyembah berhala. Suatu saat ketika ia sedang melakukan perjalanan, ia bertemu dengan para Muhajirin. Ia pun melakukan perbincangan dengan mereka dan setelah perbincangan itulah, akhirnya ia pun sadar dan memutuskan untuk memeluk agama Islam. Keadaannya pun berubah. Setiap kali melihat ada sahabat yang berhijrah dari Mekah dan Madinah, ia berlari dan mengikutinya seraya berkata, “Tunggulah aku sampai aku mendengar dari kalian Al Quran. Aku ingin menghapal satu ayat baru dari kalian.” Bayangkan bagaimana tekadnya untuk menuntut ilmu agama lebih dalam, di saat para sahabat merasa jiwanya terancam serta ketakutan akan adanya mata-mata kaum Quraisy.
Dalam pikiran Abdul Uza saat itu hanyalah ingin mendekatkan diri kepada Allah saja. Akhirnya ada seorang sahabat yang berkata, “Mengapa engkau menunggu di negerimu (Mekah) untuk pergi hijrah ke Madiah?”. Ia pun menjawab bahwa ia tidak akan berhijrah kecuali setelah ia mengambil tangan pamannya untuk menjemput sebuah hidayah. Ia pun menetap dalam kabilahnya selama 3 tahun. Ia tetap berpegang teguh pada agama Islam walaupun seluruh kaumnya jauh dari ketaatan dan menyembah berhala. Selama 3 tahun lamanya ia memaksakan diri untuk tetap istiqomah. Apabila ia ingin beribadah kepada Allah maka ia akan pergi keluar dari kaumnya ke tengah-tengah padang pasir. Selama ini ia menyembunyikan keislamannya dari hadapan orang-orang. Setiap hari ia pergi menemui pamannya seraya berkata’ “Wahai Pamanku, aku mendengar bahwa ada seorang lelaki bernama Muhammad yang berkata ini dan itu”. Kemudian ia pun membacakan ayat-ayat al Quran di hadapan sang Paman. Namun pamannya malah mencercanya habis-habisan. Selama 3 tahun itu, ia mengalami masa yang berat. Akhirnya kesabarannya pun sampai pada puncaknya. Ia pun menemui pamannya dan berkata, “ Wahai Paman, aku lebih memilih Rasulullah dari pada Engkau. Aku tidak dapat berpisah dengannya. Aku memberitahumu bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusannya. Aku berhijrah kepadanya. Jika engkau mau pergi bersamaku, aku akan menjadi orang yang paling bahagia.” Pamannya pun menjawab, “Jika kau mengabaikan semuanya selain Islam, maka aku akan mengharamkan semua yang menjadi milikmu. Ia menjawab, “Wahai Paman, berbuatlah sesukamu, karena aku lebih memilih Allah dan Rasul-Nya.” Pamannya pun melakukan hal yang tidak dapat dipercaya, “Kalau kau tetap memaksa, maka aku akan mengharamkanmu hingga baju yang melekat di badanmu itu.” Pamannya pun berdiri dan menggunting bajunya. Abdul Uza pun hampir seperti orang yang telanjang. Ia pun tetap keluar dengan kondisi seperti itu. Saat keluar ia menemukan selembar kain wol dan membaginya menjadi 2 bagian, lalu memakainya seperti kain ihram. Ia pun kemudian berhijrah dan menemui Rasulullah untuk pertama kalinya. Sungguh tidak bisa dibayangkan betapa besar keistiqomahannya kepada Rasulullah sekalipun ia tidak pernah bertemu dengannya. Rasulullah pun bertanya, “Siapakah Anda?’ “Aku adalah Abdul Uza” Rasulullah pun kembali bertanya, “Mengapa kamu berpakaian seperti ini?” Ia menjawab, “Pamanku telah berbuat ini kepadaku. Aku telah memilih engkau, wahai Rasulullah dan bersabar selama 3 tahun lamanya, hingga aku bisa datang kepadamu dalam keadaan istiqomah (tetap) taat kepada Allah.” “Benarkah kau telah melakukan hal itu?”, kata Rasulullah. “Benar wahai Rasulullah.” “Mulai hari ini engkau bukanlah Abdul Uza, engkau adalah Abdullah Dzul Bajadain. Allah telah mengganti 2 kain itu dengan tempat tinggal dan kain di dalam surga, yang dapat engkau pakai kapan pun engkau suka dan dapat kau gunakan kapan pun engkau suka.” Semenjak saat itu ia ikut berjuang bersama Rasulullah, hingga syahid dalam perang Tabuk pada usia 23 tahun. Ibnu Mas’ud menceritakan hari dimana Abdul Uza wafat. Ia berkata, “ Aku tidur dalam cuaca yang sangat dingin dan dalam keadaan takut akan pekatnya malam. Aku mendengar suara orang yang menggali tanah dan menjadi heran dibuatnya. ‘Siapakah yang menggali tanah malam-malam begini dan dalam cuaca yang sangat dingin?’ Akupun melihat pada tempat tidur Rasulullah dan tidak mendapatkan beliau di sana, Lalu aku melihat tempat tidur Umar, aku juga tidak menemukannya. Kualihkan pandanganku ke tempat tidur Abu Bakar dan aku tidak menemukannya juga. Aku pun keluar dan melihat Abu Bakar dan Umar sedang memegang lilin, sedangkan Rasulullah sedang menggali tanah. Aku datang kepada beliau dan berkata, “Apa yang engkau lakukan wahai Rasulullah?” Beliau mengangkat kepalanya ke arahku dengan kedua mata yang dipenuhi dengan air mata, “Saudaramu Dzul Bajadain telah meninggal.” Aku berpaling kepada Umar dan Abu Bakar dan berkata, “Mengapa kalian biarkan Rasulullah menggali sendiri, sedang kalian hanya berdiri saja?.” Abu Bakar menjawab, “Rasulullah sendiri yang ingin menggali kuburannya (Abdullah)” Lalu Nabi mengulurkan tangannya ke arah Abu Bakar dan Umar, “Berikanlah kepadaku (jenazah) saudaramu itu.” Lalu Nabi berkata, “Hantarkanlah kepergian saudaramu dengan doa karena sesungguhnya ia telah mencintai Allah dan Rasul-Nya” Rasulullah pun meletakkan jasad itu ke dalam kubur dengan kedua tangannya sendiri. Air mata beliau pun jatuh membasahi kain kafan Abdullah Dzul Bajadain. Beliau lalu mengangkat tangannya ke arah langit sambil berdoa, “Ya Allah Aku bersaksi kepada Engkau, bahwa aku telah meridhai Dzul Bajadain, maka ridhailah ia.” Rasulullah pun menguburkannya dengan kedua tangannya yang mulia dan berkata, “Ya Allah, rahmatilah dia karena ia telah membaca Al Qur’an atas dasar cinta kepada Rasulullah SAW.’ *** Sungguh beliau adalah salah satu sahabat yang patut kita teladani. Semoga kita semua dapat mengambil hikmah dari kisah tersebut dan bisa bersama-sama memperbaiki keimanan kita yang masih lemah ini. Semoga kita bisa menjadi golongan orang-orang yang di ridhai oleh Allah dan RasulNya..

CERITA PESANTREN
Leonal meshi Baiturrahman, itulah julukan yang diberikan teman-teman dan guru Baiturrahman kepada seorang santri yang berperawakan sedang, Mizan Jundullah,….karena kelincahannya dalam memainkan sigundul….bola sepak di lapangan Baiturrahman..dengan cepat,gesit dan lincah, bola yang dibawanya, dengan body moving yang baik, banyak lawan-lawannya yang bisa ditipu dengan gerakan badannya, sehingga dengan mudah bola bisa dimasukkan ke gawang,….gol…!
Bukan hanya bola sepak yang mampu dia mainkan tapi juga tenis meja dan lari cepat…belum ada yang bisa mengalahkannya, sehingga mizan selalu jadi andalan ketika ada pertandingan olah raga cabang sepak bola, lari cepat dan tenis meja. Sebenarnya tidak heran kalau Mizan jadi top scoorer ataupun lari cepat atau juga tenis meja, karena santri yang satu ini istiqomah dalam berlatih, sependek penulis ketahui, sesudah selesai ngaji subuh, mizan masih bisa menyempatkan olah raga pagi untuk berlatih ketangkasan, kecepatan dan akurasi tendangan, hebatnya lagi, latihan yang dilakukannya tidak menyebabkan dirinya terlambat ke sekolah ataupun kegiatan yang lain. Luar bisanya juga disamping prestasi olah raga Mizan adalah sosok santri yang istiqomah dalam urusan akhiratnya, urusan ke mesjid selalu jadi nomor satu, seakan akan hatinya terikat dengan mesjid, dengan istiqomah lantunan adzan awal setiap hari terdengar saat santri dan guru masih tidur, ketika penulis ke mesjid untuk menunaikan sholat tahajud, nampak dirinya sedang muroja’ah membaca qur’an…Subhanalloh…apabila selesai sholat magrib…ketika anak-anak berebut untuk makan malam, mizan lebih suka membaca qur’an, seakan-akan ingin menemani teman-temannya sambil makan dia membaca qur’an, begitu waktu isya hamper habis, dia selesaikan tahsin qur’annya, bersegera makan malam, kemudian cepat kembali ke mesjid untuk siap-siap sholat isya. Hal diatas dilakukannya setiap hari, menurut catatan penulis, Santri yang bernama mizan ini dari mulai kelas 7 sampai dengan kelas 8 belum pernah melakukan hal-hala pelanggaran baik besar ataupun kecil…Itulah Istiqomah, tidak pernah berubah selalu ada, selalu hadir, selalu optimal, selalu bersegera selalu konsisten, selalu melakukan yang sudah menjadi kebiasannya, orang yang seperti ini insya Allah akan jadi orang sukses….semoga kita semua bisa ISTIQOMAH.

PUISI ISTIQOMAH

Indahnya kehidupan dengan perjuangan Sebisa mungkin pengorbanan dilakukan Tidak penting bila jin dan manusia berjabat tangan Itulah karang yang menjulang dalam keyakinan Qur’an dan sunah pedoman yang tersirat dan tersurat Obat mujarab bagi mereka yang mau sekarat dengan nikmat Menjaga setiap ucap dan langkah bagi mujahid yang taat Aku berharap jadi salah satu yang memegang dengan kuat Hendak kemana mereka yang lari dari tobat ?

KATA-KATA BIJAK

Istiqomah adalah karunia kemulian dan anugerah dari Allah, barang siapa memilikinya berbahagialah